Legenda Api Abadi Mrapen, Konon Berawal dari Tongkat Sunan Kalijaga

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Legenda Api Abadi Mrapen, Konon Berawal dari Tongkat Sunan Kalijaga

Nur Umar Akashi - detikTravel
Senin, 02 Feb 2026 21:12 WIB
Legenda Api Abadi Mrapen, Konon Berawal dari Tongkat Sunan Kalijaga
Api Abadi Mrapen (Manik Priyo Prabowo/detikcom)
Grobogan -

Api Abadi Mrapen di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan ternyata punya legenda. Konon, api abadi itu bermula dari tongkat Sunan Kalijaga.

Api Abadi Mrapen menjadi daya tarik wisata yang senantiasa mengundang decak kagum. Sayangnya, kini api abadi tersebut sudah padam.

Diperkirakan, Api Abadi Mrapen berhenti berkobar karena pipa gas penyalurnya tersumbat lumpur. Pengelola telah melaporkan keadaan tersebut ke pihak berwenang dan kini menanti pemeriksaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita sudah laporan ke Dispora sebagai pengelola untuk bagaimana langkah ke depannya karena nantinya kan dari Dispora mengarahkan ke ESDM. Kita juga di sini enggak berani kalau misalkan mau menyedot tanpa ada riset dulu dari ESDM," jelas Annas Rofiqi, Penata Layanan Operasional Api Abadi Mrapen saat ditemui Minggu (1/2/2026).

Perlu diketahui, pada September 2020 lalu, Api Abadi Mrapen sempat mati. Namun, dinyalakan kembali pada April 2021 setelah sumber gas baru ditemukan dan disambungkan.

ADVERTISEMENT

Dalam sejarahnya, Api Abadi Mrapen bukan sekadar destinasi wisata semata. Tempat ini menyimpan kisah panjang yang menarik untuk diketahui. Simak sejarah lengkapnya via uraian berikut, yuk!

Keluarnya Api Gara-gara Tongkat Sunan Kalijaga

Berdasar penjelasan Siti Khofifah dari UIN Walisongo Semarang dalam skripsinya, Persepsi Masyarakat Terhadap Mitos Api Abadi Mrapen Kabupaten Grobogan, kemunculan api abadi di Desa Manggarmas tidak lepas dari perjalanan Sunan Kalijaga. Konon, tongkat sang sunan sendiri yang membuat api itu muncul.

Semua bermula dengan berakhirnya Kerajaan Majapahit yang runtuh saat diperintah Prabu Brawijaya V. Majapahit kemudian dikuasai kerajaan Demak Bintoro. Barang-barangnya diambil langsung oleh Sunan Kalijaga yang memimpin rombongan untuk diboyong ke Demak.

Perjalanan antara Majapahit dan Demak sangat jauh sehingga menguras tenaga. Suatu ketika, Sunan Kalijaga memutuskan untuk berhenti sejenak demi mengisi tenaga. Terlebih, sebagian anggota rombongannya juga merasa lelah, lapar, maupun haus.

Beberapa orang mencoba memasak makanan, tetapi kesulitan karena tidak adanya api dan air bersih. Maklum, tempat itu jauh dari pemukiman. Menghadapi masalah itu, Sunan Kalijaga dan anggota rombongannya memohon pertolongan Allah SWT.

Setelah selesai, sang sunan menancapkan tongkatnya ke tanah. Usai dicabut, api menyembur keluar dari tanah itu. Api tersebut bisa hidup karena adanya gas alam dari dalam tanah yang terbakar.

Sejatinya, api ini bisa-bisa saja mati bila terkena hujan deras disertai angin kencang. Namun, cukup dengan menyalakan korek saja, api tersebut akan menyala lagi. Karenanya, api tersebut dinamakan api abadi.

Dari lokasi api, Sunan Kalijaga bergeser ke sebelah timur, kurang lebih sejauh 25 meter. Di sana, Sunan Kalijaga menghujam tongkatnya kembali. Kali ini, yang keluar bukan api, melainkan air jernih. Oleh masyarakat sekitar, air tersebut dinamakan Sendang Dudo.

Air di Sendang Dudo juga tampak mendidih karena adanya gas yang keluar. Namun, seiring berjalannya waktu, gas mengecil sehingga air tidak lagi mendidih. Penduduk percaya, air Sendang Dudo mengandung belerang sehingga bisa dimanfaatkan untuk mengobati penyakit kulit.

Menjadi Tempat Untuk Menempa Keris

Masih dalam bingkai sejarah mitos, Conie Wishnu W melalui bukunya, Kanjeng Sunan Kalijaga, Jejak-Jejak Sang Legenda, menyebut Api Abadi Mrapen dahulu dipakai menempa keris. Pembuatnya adalah Jaka Supa yang kemudian dikenal sebagai Mpu Supa Memadai.

Suatu ketika, Sunan Kalijaga meminta Mpu Supa yang merupakan adik iparnya untuk membuatkan keris. Bahannya adalah besi sebesar biji asam atau klungsu dalam bahasa Jawa. Besi itu dibakar menggunakan Api Abadi Mrapen dan ditempa di atas Watu Bobot.

Konon, Watu Bobot adalah tiang kerajaan Majapahit yang turut dibawa oleh rombongan Demak. Namun, karena terlalu berat, Watu Bobot ditinggal. Ada juga sumber yang menyebut Watu Bobot tertinggal secara tidak sengaja.

Besi dibakar, kemudian ditempa di atas Watu Bobot sampai berbentuk keris. Selanjutnya, Mpu Supa mencelupkan keris itu ke Sendang Dudo untuk kemudian dibakar lagi. Begitu seterusnya sampai memeroleh bentuk yang sesuai.

Karena proses pencelupan, air Sendang Dudo yang awalnya jernih berubah menjadi kuning kecokelatan. Keris itu diyakini ampuh sehingga Mpu Supa kemudian diamanahi untuk membuat pusaka kerajaan. Di antara hasil tangannya adalah Kyai Crubuk, Kyai Nogososro, Kyai Nogosiluman, dan Kyai Nogowelang.

Dipakai untuk Acara Besar

Dalam perjalanan 'hidup'-nya selama ratusan tahun, Api Abadi Mrapen berkontribusi dalam agenda-agenda besar. Contohnya, dirujuk dokumen unggahan Repository UMY, Api Abadi Mrapen dipergunakan dalam seremoni pembukaan Asian Para Games 2011.

Api itu dijadikan obor untuk kemudian diarak melalui prosesi kirab budaya. Sesampainya di stadion, obor dari Api Abadi Mrapen dibawa oleh seorang atlet untuk diserahkan ke atlet lain. Terakhir, api ini dipakai menyulut kaldron.

Bukan hanya Asian Para Games 2011, Api Abadi Mrapen juga digunakan dalam upacara pembukaan Games of the New Emerging Forces (Ganefo) tahun 1963, Pekan Olahraga Nasional (PON) 1981 dan 1996, dan Asian Para Games 2022.

Dilansir laman resmi Kementerian Agama, Api Abadi Mrapen juga menjadi tempat pengambilan Api Dharma Waisak. Sebelum ritual pengambilan dimulai, kemenyan dibakar terlebih dahulu. Nantinya, Api Dharma Waisak ini dibawa ke Candi Mendut.

---------

Artikel ini telah naik di detikJateng.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Api Abadi Mrapen Padam, Kenapa?"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads