Pokemon Batalkan Event di Kuil Setelah Dikritik Media China

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Pokemon Batalkan Event di Kuil Setelah Dikritik Media China

Syanti Mustika - detikTravel
Selasa, 03 Feb 2026 08:49 WIB
Pokemon Batalkan Event di Kuil Setelah Dikritik Media China
Kuil Yasukuni Jepang ( Kakidai/Wikimedia Commons)
Jakarta -

Acara permainan kartu Pokemon yang rencana digelar pada tanggal 31 Januari 2026 dibatalkan setelah diprotes China. Acara ini digelar di kuil kontroversial dan tidak disukai China.

Dilansir dari Japan Today, Selasa (3/2/2026) acara ini awalnya diumumkan di situs web PokΓ©mon Company dan akan diadakan di Kuil Yasukuni, sebuah kuil yang didedikasikan bagi mereka yang berjuang untuk negara. Dan acara ini mendapatkan respon negatif.

Kuil tersebut dipandang oleh banyak orang, terutama China, Korea Utara, dan Korea Selatan, sebagai kontroversial karena keberadaannya dianggap menunjukkan kurangnya penyesalan atas masa lalu Jepang selama perang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Acara tersebut menarik respons tajam dari media pemerintah China, di mana editorial mengutip deretan komentar marah yang sedang tren di media sosial.

ADVERTISEMENT

"Merek yang mengabaikan sejarah dan melukai perasaan rakyat China pada akhirnya akan ditinggalkan oleh pasar," tulis People's Daily di Weibo-nya.

"Perusahaan terkait harus bertanggung jawab secara sosial dan tidak meremehkan beban sejarah yang berat atas nama hiburan," tambahnya.



The Pokemon Company, afiliasi dari pembuat game Jepang Nintendo, akhirnya mengeluarkan permintaan maaf dalam bahasa Jepang dan Mandarin. Mereka mengatakan bahwa acara tersebut telah direncanakan secara pribadi oleh seorang pemain kartu Pokemon bersertifikat untuk anak-anak, tetapi informasinya dibagikan di situs web resmi perusahaan.

"Itu adalah acara yang seharusnya tidak diadakan sejak awal," kata perusahaan.

Mereka menambahkan, berjanji untuk bersikap bijaksana ke depannya.

Hubungan diplomasi Jepang dengan China memang sedang tak baik setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi membuat pernyataan pada bulan November 2025 yang menunjukkan bahwa Jepang dapat terlibat jika China mengambil tindakan militer terhadap Taiwan.

China yang marah pun memberlakukan pembalasan ekonomi dan diplomatik. Salah satunya dengan cara melarang warganya liburan ke Jepang dan menolak memperpanjang diplomasi panda.

Takaichi juga dulunya adalah pengunjung tetap Kuil Yasukuni, meskipun dia belum berdoa di kuil tersebut sejak menjabat pada bulan Oktober.




(sym/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads