Popularitas yang berlebihan justru membawa masalah. Val di Funes di Provinsi Tyrol Selatan, Italia, yang mendadak ramai turis, memutuskan membatasi akses ke gereja estetik demi melindungi kehidupan warganya.
Val di Funes memiliki pemandangan lembah hijau dengan deretan rumah-rumah bergaya Alpen di bawah Puncak Odle yang runcing. Suasana magis disuguhkan saat matahari terbenam.
Keindahannya inilah yang memancing para traveler untuk datang dan berfoto-foto. Dalam beberapa tahun terakhir, desa yang dulu merupakan tempat pendakian populer dibanjiri oleh wisatawan yang berebut untuk mengambil foto Instagram yang sempurna.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari euronews, Selasa (3/2/2026) salah satu spot foto populer di sana adalah dua gereja yang indah Santa Maddalena dan San Giovanni di Ranui. Saking ramainya pemburu foto, pada tahun 2022 pemilik padang rumput di sekitar gereja San Giovanni memasang pintu putar berbayar untuk mengatur jumlah wisatawan yang berjalan melintasi lahannya.
Gereja San Giovanni di Val di Funes di Provinsi Tyrol Selatan, Italia Utara (Wikipedia Commons/Matthias SΓΌΓen) |
Kedatangan terlalu banyak turis, warga desa cantik ini pun mulai muak. Warga mengungkapkan kekecewaan atas kemacetan lalu lintas dan wisatawan yang memenuhi tempat parkir kota hingga memasuki lahan pribadi tanpa izin.
Pemerintah Kota Funes pun turun tangan.
"Kami sudah muak dengan rombongan turis dari China dan Jepang yang datang ke lembah ini, parkir sembarangan, dan hanya tinggal untuk mengambil beberapa foto. Mereka tidak memberikan kontribusi apa pun kecuali sampah yang mereka tinggalkan," kata Wali Kota Funes, Peter Pernthaler, kepada media lokal.
Dewan kota telah mengumumkan akan membatasi akses ke gereja Santa Maddalena, yang terletak di jalan sempit, mulai Mei hingga November.
"Warga setempat sudah mencapai titik jenuh, jadi kami memutuskan untuk mengambil tindakan. Kami siap untuk berbuat lebih banyak: tahun ini, kami tidak akan mengizinkan invasi," kata Pernthaler.
Mulai bulan Mei, penghalang dipasang untuk membatasi akses ke jalan menuju gereja Santa Maddalena. Wisatawan diharuskan parkir di area yang telah ditentukan dan ketika kapasitasnya penuh, kendaraan akan dialihkan ke tempat parkir yang lebih jauh di lembah.
Pernthaler mengklarifikasi bahwa tidak akan ada sistem pemesanan untuk area parkir tersebut. Biaya parkir pun juga akan dinaikkan. Saat ini, biayanya 4 euro untuk seharian penuh, yang menurut walikota terlalu murah untuk mencegah wisatawan berhenti sejenak untuk mengambil foto.
Ia menambahkan bahwa dewan sedang berdiskusi dengan kotamadya Chiusa di dekatnya untuk mengatur layanan bus antar-jemput.
Keputusan terkait pembatasan akses telah ramai diberitakan dan Pernthaler mengatakan itu bukan langkah melawan pariwisata. Dia hanya ingin menjaga ketenangan warga dan tak merusak lahan sekitar.
"Penghalang sudah ada, dan kami ingin memindahkannya ke pusat Santa Maddalena, tempat gereja kecil itu berada, sehingga wisatawan tidak datang dengan mobil, tetapi dengan berjalan kaki," katanya kepada media lokal Il Dolomiti.
"Jalan di Santa Maddalena sangat sempit dan kecil, dan kami, sebagai pemerintah kota, harus menerapkan semua solusi yang memungkinkan untuk memastikan bahwa baik penduduk maupun wisatawan dapat bergerak bebas dan tanpa terjebak kemacetan," dia menambahkan.
Pernthaler mengatakan bahwa sebanyak 600 turis datang dalam satu hari untuk foto-foto ke sana. Dia mengakui bahwa jumlah itu merupakan angka yang besar untuk sebuah kota kecil.
(sym/fem)













































Komentar Terbanyak
Viral Bule Protes Keras Upacara Adat di Bali, Terganggu Suara Musik
Dulu Viral, Community Center Pamulang Kini Tak Terawat
Kinerjanya Cuma Diberi Nilai 50 oleh DPR, Apa Kata Menpar Widiyanti?