Intrik politik ternyata sudah ada sejak zaman kerajaan. Simak kisah Panembahan Giriloyo, raja terakhir Cirebon yang makamnya berada di Bantul.
Salah satu korban permainan politik Tanah Jawa adalah Panembahan Giriloyo, seorang raja Kerajaan Cirebon. Kisah ini disadur dari jurnal Batuthah berjudul 'Sejarah Kesultanan Cirebon dan Problematikanya Tahun 1677-1752' oleh Bahru Rozi dan Ahmad Misbah.
Awalnya, Cirebon hanyalah permukiman kecil di wilayah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Kuwu atau kepala desanya adalah Pangeran Cakrabuana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Putra Pangeran Cakrabuana yang bernama Nyi Mas Pakungwati kemudian menikah dengan Sunan Gunung Jati, sepupunya. Pada 1479 Pangeran Cakrabuana turun tahta dan menyerahkannya kepada Sunan Gunung Jati.
Usai memegang tampuk kepemimpinan, Sunan Gunung Jati langsung melepaskan diri dari Pajajaran dengan berhenti membayar upeti. Resmi sudah Kerajaan Cirebon berdiri sendiri dan memiliki otonomi atas wilayahnya.
Sepeninggal Sunan Gunung Jati, kursi raja bergeser ke Fatahillah dan kemudian Panembahan Ratu I. Selepas Panembahan Ratu I alias Pangeran Emas wafat, yang naik tahta adalah Panembahan Giriloyo. Ia tercatat sebagai raja terakhir Cirebon sebelum kerajaan itu terpecah.
Heru Erwantoro dalam jurnal Patanjala bertajuk 'Sejarah Singkat Kerajaan Cirebon' menyebut nama asli Panembahan Girilaya adalah Pangeran Putra atau Raden Rasmi. Ia merupakan cucu dari Panembahan Ratu I.
Raden Rasmi naik tahta pada 1649 dengan gelar Panembahan Adiningkusuma atau Panembahan Ratu II. Pada masa kepemimpinannya, Kerajaan Cirebon mengalami masalah-masalah dalam bidang politik.
Salah satu sumber masalah yang ia hadapi adalah permintaan dari Amangkurat I, raja Mataram Islam, agar Cirebon membujuk Banten untuk bersahabat. Sebagai informasi, Amangkurat I adalah mertua dari Panembahan Giriloyo.
Keinginan Amangkurat I itulah yang pada gilirannya menyebabkan akhir hayat 'tragis' Panembahan Giriloyo, jauh dari kampung halaman dan kerajaannya.
Terlepas dari masalah politik, pada masa pemerintahan Panembahan Giriloyo, Cirebon masih menjadi pusat kajian keilmuan. Dikutip dari jurnal Tamaddun berjudul 'Jaringan Ulama Cirebon Abad ke-19 Sebuah Kajian Berdasarkan Silsilah Nasab dan Sanad' oleh Farihin dkk, hal ini dibuktikan dengan aktifnya kajian-kajian ilmu fikih dan tasawuf di masjid.
Waktu itu keberadaan ulama di Cirebon sangat dihormati. Ilmu agama menjadi bidang nomor satu, melebihi semua urusan lain. Karenanya, tidak mengherankan jika banyak yang datang untuk menuntut ilmu di kerajaan bercorak Islam tersebut.
Berbicara mengenai silsilah keluarga, Panembahan Giriloyo bernasab langsung ke Syaikh Maulana Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati. Raja terakhir Cirebon ini diketahui memiliki sejumlah putra, antara lain Pangeran Samsudin Martawijaya dan Pangeran Badrudin Kartawijaya.
Panembahan Giriloyo tercatat meninggal dunia pada tahun 1667. Jenazahnya disemayamkan di Makam Giriloyo, menjelaskan asal-usul julukannya. Menurut keterangan dari laman resmi Kalurahan Wukirsari, di makam ini, turut beristirahat pula Panembahan Juminah, Kanjeng Pangeran Haryo Sokowati Putro, dan Tumenggung Hanggobahu.
Disadur dari buku Sejarah Kerajaan Tradisional Cirebon yang ditulis Drs M Sanggupri Bochari dan Dra Wiwi Kuswiah, Panembahan Giriloyo memerintah selama periode 1649-1667. Pada masanya, kekuasaan Cirebon meliputi Kuningan, Majalengka, dan Indramayu.
Setelah Panembahan Giriloyo mangkat, Cirebon terpecah menjadi 3 kesultanan. Ketiganya adalah Kesultanan Kanoman yang dipimpin Badrudin Kartawijaya, Kesultanan Sepuh yang dipimpin Samsudin Martawijaya, dan Kesultanan Kacerbonan pimpinan Pangeran Wangsakarta.
Cerita Panembahan Giriloyo Ditahan Amangkurat I
Semasa Amangkurat I berkuasa, Mataram Islam menjalin kerja sama dengan VOC. Raja Mataram Islam penerus Sultan Agung itu berharap bisa menjalin hubungan persahabatan dengan Banten dan meminta kerajaan tersebut menghentikan serangannya ke Belanda.
Guna memuluskan rencananya, Amangkurat I meminta Panembahan Giriloyo membujuk raja Banten, Sultan Ageng Tirtayasa. Sang penambahan berulang kali mengunjungi Banten, tetapi tidak menemui hasil positif. Alih-alih, Sultan Ageng Tirtayasa mengajak Cirebon bergabung dengan Banten.
Amangkurat I mencurigai Panembahan Giriloyo dan Cirebon bermain tangan dengan Banten. Karenanya, ia mengundang menantunya itu untuk datang ke Mataram, mengikuti upacara kehormatan. Undangan itu dipenuhi. Panembahan Giriloyo berangkat bersama istri dan kedua putranya, yakni Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya.
Usai upacara penghormatan selesai, Panembahan Giriloyo, dan kedua putranya tidak diperkenankan kembali ke Cirebon. Mereka dijadikan tahanan politik dan ditempatkan di perumahan bangsawan Mataram. Meski begitu, status Panembahan Giriloyo sebagai raja Cirebon tidak berubah.
Selama ditahan, kekuasaan Cirebon dialihkan sementara ke tangan Pangeran Wangsakerta. Ia menjalankan roda pemerintahan dengan pengawasan ketat orang suruhan Amangkurat I. Tindakan Amangkurat I ini membuktikan omongan Sultan Ageng Tirtayasa bahwasanya Mataram Islam dapat mengancam kedaulatan Cirebon.
Penahanan Panembahan Giriloyo berakhir pada tahun 1667 kala ia menghembuskan napas terakhir. Jenazahnya disemayamkan di Makam Giriloyo. Menurut informasi dari Dinas Kebudayaan DIY, makam Panembahan Giriloyo berada di sayap kanan alias timur. Makamnya diberi pagar keliling.
Kedua putra Panembahan Giriloyo baru bebas pada 1677. Bukan karena dibebaskan, melainkan berkat serangan Raden Trunojoyo yang tanpa belas kasihan menghajar keraton Mataram. Keduanya dibawa ke Kediri oleh pasukan Trunojoyo sebelum diteruskan ke Banten.
-------
Artikel ini telah naik di detikJogja.
Simak Video "Video: Heboh Makam di Serang Dibongkar Orang Tak Dikenal, Jenazah Hilang"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Protes Keras Upacara Adat di Bali, Terganggu Suara Musik
Dulu Viral, Community Center Pamulang Kini Tak Terawat
Kinerjanya Cuma Diberi Nilai 50 oleh DPR, Apa Kata Menpar Widiyanti?