Perusahaan China bernama InterstellOr, menghebohkan media sosial China dengan mengumumkan rencana untuk mengirim wisatawan ke luar angkasa suborbital pada tahun 2028. Mereka memperkirakan budget ke luar angkasa 3 juta yuan (Rp 7,2 miliar) per tiket.
Dilansir dari Straits Times, Rabu (4/2/2026) penerbangan tersebut diperkirakan akan berlangsung sekitar 2,5 jam dan mencapai garis Karman, 100 km dari bumi, yang mendefinisikan di mana ruang angkasa dimulai. InterstellOr mengkalim lebih dari 20 orang mendaftar untuk misiini, termasuk seorang ahli teknik jaringan listrik, Li Licheng; kepala pemasaran perusahaan robotika yang berbasis di Shanghai, AgiBot, Qiu Heng; dan aktor Huang Jingyu.
InterstellOr adalah perusahaan China kedua yang mengumumkan jadwal untuk misi berawak, bergabung dalam persaingan mengirim warga negara China pertama yang mau membayar ke luar angkasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Oktober 2024, Jiangsu Deep Blue Aerospace mengatakan telah menjual dua tiket seharga 1,5 juta yuan masing-masing untuk perjalanan roket suborbital yang dijadwalkan pada tahun 2027. Setelah pengumuman ini, antusiasme atas sektor antariksa komersialnya meningkat di China. Banyak yang ingin terbang ke luar angkasa tanpa perlu pelatihan astronot profesional, untuk melihat langsung pemandangan bumi dan melayang di angkasa.
Bukanlah hal baru menerbangkan warga sipil ke angkasa
Sebelum China mengumumkan rencana menerbangkan warga berwisata ke angkasa, di AS, Space X milik Elon musk sudah memulai jauh-jauh hari. SpaceX menyelesaikan perjalanan luar angkasa komersial pertama pada tahun 2024, dan dipandang sebagai pemimpin pasar dalam penerbangan antariksa komersial.
Sementara Blue Origin yang didukung oleh miliarder Amazon Jeff Bezos, telah menerbangkan lebih dari 90 orang ke luar angkasa sejak 2021.
Katy Perry bersama Lauren Sanchez, Gayle King, Aisha Bowe, Amanda Nguyen dan Kerianne Flynn ke Luar Angkasa bersama Blue Origin ( Foto: Dok. X Blue Origin) |
China masih banyak PR
Namun, antusiasme yang meningkat di China dihantui oleh keraguan tentang seberapa layak industri pariwisata luar angkasa komersial yang masih baru di bagi mereka. Keraguan juga muncul secara daring tentang kredibilitas InterstellOr, karena perusahaan yang berbasis di Beijing ini relatif muda, baru didirikan tiga tahun lalu, pada Januari 2023.
Investigasi oleh netizen China menemukan bahwa perusahaan tersebut hanya memiliki empat paten yang diungkapkan secara publik terkait dengan pesawat ruang angkasa berawak. Mereka juga menemukan bahwa beberapa anggota kunci perusahaan tersebut tidak memiliki kredensial di bidang kedirgantaraan.
Craig Curran, presiden DePrez Group of Travel Companies di AS, mengatakan bahwa berdasarkan lamanya waktu yang dibutuhkan industri AS untuk berkembang, InterstellOr dan Deep Blue mungkin tidak akan mencapai target masing-masing pada tahun 2028 dan 2027.
Ia menyebutkan berbagai rintangan teknis yang perlu diatasi untuk mencapai peluncuran yang aman dan andal bagi manusia, serta penundaan yang dialami perusahaan seperti Blue Origin dan Virgin Galactic.
Virgin Galactic, yang didanai oleh pengusaha Inggris Richard Branson, membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk berkembang dari peluncuran kendaraan uji coba hingga menerbangkan manusia.
Blue Origin menyelesaikan penerbangan uji coba tanpa awak pertamanya pada tahun 2015, sebelum Bezos dan tiga penumpang lainnya menyelesaikan misi berawak pertama pada Juli 2021.
Perjalanan luar angkasa sub-orbital adalah bentuk dominan pariwisata luar angkasa komersial, karena lebih terjangkau dan mudah dicapai daripada penerbangan orbital, yang terbang pada ketinggian yang jauh lebih tinggi dan berlangsung lebih lama. SpaceX telah menjual kursi untuk misi pribadi ke Stasiun Luar Angkasa Internasional dengan harga lebih dari US$50 juta (Rp 838,5 miliar).
Meskipun harga tiketnya super mahal, wisata ini menuai kritik bahwa pariwisata luar angkasa hanyalah hobi orang kaya.
China PD bisa jual tiket luar angkasa lebih murah
Lei, kepala eksekutif InterstellOr, mengatakan bahwa perusahaan berharap bisa membangun pesawat ruang angkasa berawak komersial pertama China yang dapat digunakan kembali, yang akan memungkinkan harga tiket diturunkan dari 100 juta yuan menjadi 1 juta yuan, dan pada akhirnya menjadi 300.000 yuan.
Pengusaha antariksa Singapura, Lim Seng, mengatakan bahwa meskipun AS saat ini memimpin dalam pariwisata antariksa berbasis roket, China bisa dengan cepat membangun kemampuan dan daya saing biayanya.
"China secara realistis dapat menjadi kompetitif atau bahkan dominan dalam penetapan harga pariwisata suborbital, terutama untuk pasar regional atau domestik," kata Lim, yang berbasis di Singapura dan menjalankan perusahaan yang mengembangkan misi balon ketinggian tinggi.
Ia mengatakan bahwa eksplorasi ruang angkasa semacam itu tidak hanya akan mengurangi biaya, tetapi juga mempercepat inovasi dalam kendaraan yang dapat digunakan kembali dan mendorong keterlibatan publik, menginspirasi generasi talenta berikutnya di bidang STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika).
Clayton Swope, seorang peneliti senior di Center for Strategic and International Studies yang berbasis di Washington, mengatakan untuk masa mendatang, pariwisata ruang angkasa akan tetap menjadi pasar khusus karena biayanya.
"AS dan China kemungkinan tidak akan bersaing untuk mendapatkan wisatawan yang sama. Saya akan terkejut jika ada banyak minat dari wisatawan ruang angkasa Amerika untuk terbang dengan kapsul Tiongkok, dan begitu juga sebaliknya," kata Clayton.
(sym/ddn)













































Komentar Terbanyak
Dulu Viral, Community Center Pamulang Kini Tak Terawat
Kinerjanya Cuma Diberi Nilai 50 oleh DPR, Apa Kata Menpar Widiyanti?
Wisatawan ke Bali Turun, Koster Janji Temui Kemenhub Minta Harga Tiket Dipangkas