Usai Disentil Prabowo soal Sampah, Gubernur Bali Bilang Apa?

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Usai Disentil Prabowo soal Sampah, Gubernur Bali Bilang Apa?

Rizki Setyo Samudero - detikTravel
Jumat, 06 Feb 2026 13:20 WIB
Usai Disentil Prabowo soal Sampah, Gubernur Bali Bilang Apa?
Gubernur Bali Wayan Koster saat sambutan di Kantor Gubernur Bali, Jumat (6/2/2026). (Rizki Setyo Samudero/detikBali)
Jakarta -

Bali baru saja ditegur oleh Presiden Prabowo Subiyanto soal sampah. Gubernur Bali Wayan Koster menilai teguran itu sebagai sebuah motivasi.

Koster menyampaikan pernyataan itu dalam sambutan di acara Penandatanganan Perpanjangan Nota Kesepakatan tentang Sipandu Beradat Pemprov Bali di Kantor Gubernur Bali, Jumat (6/2/2026).

"Saya mohon jangan memberi pandangan atau persepsi terhadap arahan Bapak Presiden, tapi kita harus merespons secara positif karena itu motivasi buat kita semua di Bali supaya kita serius," kata Koster.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awalnya, Koster menyampaikan ia sempat bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Pariwisata melakukan aksi bersih sampah di Pantai Kuta pada Jumat pagi. Aksi itu sebagai bentuk respons dari perhatian Prabowo saat Rakornas 3 Februari 2026 lalu.

"Bapak Presiden menaruh perhatian yang sangat besar terhadap masalah sampah, tidak saja Bali tetapi Indonesia karena masalah yang serius," kata politikus PDI Perjuangan itu.

ADVERTISEMENT

Menurut Koster, Bali menjadi daerah pariwisata dunia, yang pastinya mendapatkan perhatian serius oleh Prabowo.

"Beliau memberikan dua tahun harus selesai masalah sampah ini dan Bali dalam kaitan dengan pengolahan sampah terutama menjadi energi listrik, Bali menjadi prioritas nomor satu," ujar Koster.

"Bulan Maret nanti ada groundbreaking mengenai pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik bersama beberapa daerah lainnya di Indonesia, jadi Bali mendapat prioritas," kata Koster.

Sampah Sampai Bikin Bali Masuk Daftar Destinasi Tak Layak Dikunjungi

Sampah di Bali bahkan sudah menjadi sorotan dunia. Panduan perjalanan Fodor's menempatkan Bali dalam daftar destinasi wisata yang tak layak dikunjungi pada 2025 salah satunya karena sampah. Setahun berlalu, persoalan itu belum terselesaikan malah menjadi salah satu fokus Presiden Prabowo.

Daftar itu dirilis Fodor's pada akhir 2024. Kala itu, Bali dimasukkan dalam urutan paling atas destinasi popular yang tidak layak dikunjungi 2025. Di peringkat kedua, ketiga, dan keempat secara beruntun adalah Gunung Everest di Nepal, beberapa kota di Spanyol seperti Barcelona dan Kepulauan Canary, hingga Koh Samui di Thailand.

Destinasi wisata yang masuk daftar tersebut memiliki kesamaan, yakni overtourism atau pariwisata yang berlebihan. Overtourism itu sampai membuat pemerintah setempat kewalahan menangani sampah, termasuk sampah dari industri pariwisata, misalnya hotel dan restoran.

Fodor's menyatakan sampah di Bali bahkan menciptakan kiamat plastik. Bali Partnership, sebuah koalisi akademisi dan LSM yang bekerja untuk mempelajari dan memecahkan masalah pengelolaan sampah, memperkirakan pulau ini menghasilkan 1,6 juta ton sampah setiap tahun, dengan sampah plastik mencapai hampir 303.000 ton.

Meskipun volumenya besar, hanya 48% dari semua sampah yang dikelola secara bertanggung jawab, dan hanya 7% sampah plastik yang didaur ulang. Kekurangan ini mengakibatkan 33.000 ton plastik masuk ke sungai, pantai, dan lingkungan laut Bali setiap tahun, yang menimbulkan ancaman serius bagi ekosistem pulau ini.

"Pengelolaan sampah Bali hampir tidak mampu mengimbangi volume sampah, dan itu masih jauh dari kata cukup," kata Kristin Winkaffe, seorang pakar perjalanan berkelanjutan yang berfokus pada Asia Tenggara.

BRIN Turun Tangan

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji sistem pengelolaan sampah di Bali, terutama plastik dan makanan yang dihasilkan akomodasi pariwisata setelah Pulau Dewata disentil Prabowo. Peneliti BRIN, Muhammad Reza Cordova, sedang memastikan apakah pariwisata bisa disebut menjadi salah satu sektor penyumbang sampah terbesar.

"Kami akan melihat juga ada contoh baik atau tidak yang nanti bisa dikelola secara umum di Indonesia itu seperti apa," kata Reza saat ditemui di Dinas Pariwisata Bali, Kamis (5/2).

Menurut Reza, banyak pengelola akomodasi pariwisata yang belum bekerja sama dengan pengelola sampah. Akibatnya, banyak sampah yang dihasilkan belum terkelola dengan baik.

"Misalnya katakanlah nanti yang food waste, kami lihat dahulu nih sampah makanan ini ada nggak solusinya selain bikin kompos dan lain-lain," kata Reza.

Reza mengatakan ingin mengetahui kondisi sistem pengelolaan di daerah, terutama sampah plastik. "Itu yang nanti perlu kita kaji lebih lanjut, dan mudah-mudahan ini nanti di hasil tengah tahun ini mudah-mudahan kita bisa mendapatkan hasil yang lebih spesifik," beber Reza.

Berdasarkan data, Reza mengungkapkan sampah dari pariwisata di Bali sekitar 13%. Namun, ia meyakini masih banyak yang belum terdata.

"Apakah benar 13%? Jangan-jangan lebih kecil atau jangan-jangan lebih besar? Nah ini mau kami coba kaji lebih lanjut supaya bisa mendapatkan data dan kemudian pengelolaannya lebih tepat," kata Reza.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Kantor Gubernur Bali Digeruduk Ratusan Truk Sampah"
[Gambas:Video 20detik] (fem/fem)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads