Teknologi AI di Asia-Pasifik Dorong Lonjakan Pengeluaran Wisata Tahun 2025
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Teknologi AI di Asia-Pasifik Dorong Lonjakan Pengeluaran Wisata Tahun 2025

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Sabtu, 07 Feb 2026 21:14 WIB
Teknologi AI di Asia-Pasifik Dorong Lonjakan Pengeluaran Wisata Tahun 2025
Ilustrasi liburan. (Shutterstock)
Jakarta -

Perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) di Asia-Pasifik mendorong lonjakan pengeluaran perjalanan ke luar negeri pada 2025.

Data dari Visa hal itu seiring dengan meningkatnya kekuatan ekonomi di kawasan tersebut. Kepala Ekonom Visa Asia-Pasifik, Simon Baptist, mengatakan sebagian besar investasi AI fokus pada manufaktur semikonduktor dan pusat data.

"Di mana ada orang yang menghasilkan uang dari booming investasi AI, mereka menghabiskan sebagian besar uang itu untuk bepergian," katanya dilansir dari The Business Times, Sabtu (7/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Perjalanan menjadi kategori pengeluaran yang paling menonjol, dengan transaksi pedagang perjalanan tumbuh 2,5 kali lebih tinggi dibanding pengeluaran rata-rata, sementara pengeluaran lintas batas meningkat pesat. Baptist menambahkan pandemi COVID-19 telah mengubah preferensi konsumen secara permanen, menjadikan perjalanan sebagai prioritas utama.

Negara tujuan utama wisatawan internasional antara lain Jepang, Korea Selatan, dan China, didorong oleh pariwisata budaya. Faktor mata uang dan geopolitik juga memengaruhi pola perjalanan, misalnya Jepang dan Korea Selatan diuntungkan oleh mata uang yang lebih lemah, sedangkan China lebih mudah dikunjungi setelah pelonggaran visa.

Tren itu juga dipengaruhi pelancong kaya, yang diperkirakan menyumbang tiga perempat dari pengeluaran tambahan pada 2025, terutama dari pasar seperti Australia, Hong Kong, dan Singapura. Selain perjalanan, AI diprediksi mengubah pengeluaran e-commerce, segmen terbesar di Asia-Pasifik.

Baptist mengatakan teknologi ini bisa menggeser sebagian transaksi offline ke online, bahkan memungkinkan agen membaca kode di balik transaksi tanpa perlu situs e-commerce tradisional. Dampaknya diperkirakan paling cepat terjadi di negara dengan ekonomi melek teknologi seperti India dan Vietnam.

Namun, pertumbuhan pengeluaran masih tidak merata. Di pasar berkembang seperti Indonesia, China, dan India, kelas menengah belum merasakan manfaat pertumbuhan ekonomi.

"Pertumbuhan di ketiga pasar ini tidak terlalu berorientasi pada konsumsi," terangnya.




(upd/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads