Thailand sedang melakukan pemilihan umum di awal Februari ini. Sayangnya, turis-turis yang harus menahan nafsu karena dilarang minum alkohol.
Larangan alkohol diberlakukan di seluruh restoran dan bar di Thailand. Destinasi utama seperti Bangkok dan Phuket dijaga ketat, seperti dikutip dari The Thaiger pada Minggu (8/2/2026).
Pada 1 Februari, selama pembatasan 24 jam pertama terkait dengan pemungutan suara awal, para turis di sebuah restoran di Bangkok yang baru tiba dari Amerika Serikat, diberitahu bahwa mereka tidak dapat memesan wine.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sorathep Steve, yang mengelola lima restoran di ibu kota, mengatakan kelompok itu tampak kecewa dan harus puas dengan soda lemon setelah ia menjelaskan pembatasan hukum yang berlaku.
Thailand memberlakukan larangan penjualan alkohol yang ketat menjelang pemilihan umum, melarang penjualan, pembelian, atau distribusi alkohol selama dua periode 24 jam.
Yang pertama bertepatan dengan pemungutan suara awal pada 1 Februari, sementara yang kedua dimulai pukul 6 sore pada hari Sabtu (7/2), menjelang pemilihan umum pada hari Minggu (8/2).
Pihak berwenang mengatakan aturan yang sudah lama berlaku ini bertujuan untuk mengurangi pembelian suara dan menjaga agar hari pemilihan tetap damai. Namun, bagi bisnis yang sangat bergantung pada pengunjung internasional, terutama selama musim puncak perjalanan, dampak finansialnya sangat terasa.
Sorathep mengatakan penjualannya turun setengahnya selama periode pemungutan suara awal. Ia menghubungkan penurunan tersebut dengan larangan alkohol dan fakta bahwa wisatawan asing sekitar 50% dari pelanggannya.
Benny De Bellis, seorang pebisnis di Phuket yang memiliki beberapa tempat usaha, melaporkan penurunan pendapatan sebesar 30% selama akhir pekan pemungutan suara awal. Ia mengatakan staf telah diberi pengarahan untuk menjelaskan situasi kepada para tamu. Tanda-tanda larangan alkohol telah dipasang untuk meminimalkan kebingungan. Namun, ia khawatir dampak selama pemilihan umum bisa lebih buruk lagi, dengan kerugian diperkirakan hingga 50%.
Di dekatnya, Sumitha Soorian, pemilik Mrs B Bar & Table, mengatakan ia memperkirakan penurunan penjualan bar sebesar 90% pada akhir pekan depan karena pembatasan alkohol.
Thailand menyambut 33 juta kedatangan internasional tahun lalu, turun 7,2% dari tahun sebelumnya, menurut angka resmi. Bencana alam dan ketegangan perbatasan dengan Kamboja disebut sebagai faktor penyebabnya.
Bill Barnett dari C9 Hotelworks, sebuah perusahaan konsultan perhotelan, mengatakan pembatasan berulang selama musim ramai berisiko mengubah persepsi wisatawan terhadap Thailand.
Ia memperingatkan bahwa meskipun kerugian jangka pendek dapat ditanggung, reputasi yang rusak akan jauh lebih sulit untuk diperbaiki, seperti yang dilaporkan Bangkok Post.
Dalam berita serupa, Undang-Undang Pengendalian Alkohol Thailand yang diperbarui mulai berlaku dengan kebingungan dan kritik dari pelaku bisnis, wisatawan, dan industri perhotelan, karena undang-undang tersebut memperkenalkan hukuman tidak hanya untuk penjual tetapi juga untuk peminum yang mengonsumsi alkohol di luar jam yang diizinkan.
(bnl/wsw)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5