Usai vakum hampir dua dekade, Festival Layang-layang Basant kembali digelar Pakistan timur. Setelah tak digelar akibat alasan keselamatan.
Langit Kota Lahore di Provinsi Punjab pun kembali semarak dengan layang-layang berwarna cerah, menandai berakhirnya larangan yang diberlakukan selama 19 tahun karena alasan keselamatan. Festival yang berlangsung selama tiga hari pada minggu lalu itu menjadi penanda datangnya musim semi.
Melansir CNA, Selasa (10/2/2026) warga terlihat berada di atap rumah, taman, hingga jalanan kota untuk merayakan Basant, tradisi tahunan yang lama terhenti itu. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sejak hari pertama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua orang antusias di seluruh Punjab hingga ketersediaan layang-layang dan talinya pun ludes terjual," ujar seorang penerbang layang-layang, Shahzaib.
Festival Basant ini sebelumnya dilarang Pemerintah Punjab pada 2007 menyusul rentetan kecelakaan fatal. Insiden tersebut dipicu penggunaan tali layang-layang berlapis bubuk kaca serta aksi menembakkan senjata api ke udara saat perayaan berlangsung.
Tali tajam yang dikenal sebagai manjha kerap melukai hingga menewaskan pejalan kaki dan pengendara sepeda motor sehingga memicu pengetatan aturan secara total. Di tahun ini, pemerintah akhirnya mengizinkan kembali penyelenggaraan festival dengan pengawasan ketat.
Kebijakan tersebut disambut positif oleh warga Kota Lahore serta ribuan pengunjung dari berbagai wilayah Pakistan yang datang khusus untuk mengikuti perayaan yang telah lama dinantikan. Dampak ekonomi dari kembalinya Basant pun langsung terasa.
Pengrajin layang-layang di sana, Tariq, menjelaskan setelah festival tersebut tak diadakan lagi banyak pengrajin layang-layang yang kehilangan mata pencaharian mereka. Dan kini setelah festival itu digelar kembali, ia menyebut penjualan layang-layang pun kembali meningkat.
"Banyak orang kehilangan bisnis mereka ketika larangan itu diberlakukan. Setelah larangan dicabut, saya menjual 20.000 hingga 25.000 layang-layang," kata Tariq.
Sejumlah kelompok hak asasi manusia dan pegiat budaya sebelumnya juga menilai larangan festival bukan solusi utama. Mereka berpendapat bahwa lemahnya penegakan hukum, bukan tradisi Basant, menjadi penyebab utama tragedi di masa lalu.
Meski kembali digelar, perayaan kali ini berlangsung di bawah bayang-bayang situasi keamanan nasional. Aparat kepolisian dikerahkan di berbagai titik kota, sementara rumah sakit disiagakan untuk mengantisipasi potensi korban.
Pemerintah Punjab turut memperketat pengawasan penjualan layang-layang, termasuk dengan penggunaan kode QR untuk pelacakan. Bahan berbahaya seperti tali berlapis kaca disita. Para pengendara sepeda motor juga memasang batang pelindung pada kendaraan mereka guna mencegah tali layang-layang melukai pengendara.
Agenda adu layang-layang tetap menjadi daya tarik utama festival tersebut. Para peserta berusaha saling memutus tali penerbang layang-layang lainnya yang kerap disambut sorak sorai dari atap-atap rumah sekitar.
Dari kembalinya Basant ini membuat tempat pengrajin layang-layang yang sebelumnya tutup kini kembali beroperasi untuk memenuhi lonjakan permintaan.
(upd/ddn)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5