Ajag, Anjing Hutan Indonesia Kini Masuk Daftar Satwa Hampir Punah
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Ajag, Anjing Hutan Indonesia Kini Masuk Daftar Satwa Hampir Punah

Nyimas Amrina Rosada - detikTravel
Rabu, 11 Feb 2026 12:42 WIB
Ajag atau anjing hutan Sumatera di TN Gunung Leuser
Ajag atau anjing hutan Sumatera di TN Gunung Leuser. Foto: Balai TN Gunung Leuser
Jakarta -

Ajag atau anjing hutan merupakan salah satu satwa liar yang hidup di kawasan hutan Indonesia. Hewan ini masuk dalam famili Canidae atau bangsa anjing dan termasuk ke dalam ordo Carnivora dengan nama ilmiah Cuon alpinus.

Melansir situs East and Southeast Asia Biodiversity Information Initiative, Rabu (11/2/2026), ajag dikenal sebagai predator karnivora terbesar di Asia Selatan, Tenggara, dan beberapa kawasan lain. Di beberapa negara lainnya, ajag dikenal sebagai dhole, Asiatic wild dog, atau Asian wild dog.

Ciri Fisik dan Perilaku Ajag

Melansir situs Animal Diversity Web, ajag memiliki tubuh yang ramping namun kuat dengan panjang tubuh sekitar 90 cm dan ekor sekitar 40-45 cm, serta berat antara 17-21 kg, membuatnya berukuran sedikit lebih kecil daripada anjing German Shepherd.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kaki ajag panjang dan mendukung kelincahannya saat berlari dan berburu. Bulunya dominan berwarna cokelat kemerahan dengan bagian punggung tampak lebih gelap.

Telinganya tegak dan relatif besar, berfungsi untuk menangkap suara mangsa di dalam hutan. Penampilan ini kerap membuat ajag disalahartikan sebagai anjing liar biasa, padahal naluri dan perilakunya sangat berbeda.

ADVERTISEMENT

World Land Trust menjelaskan bahwa ajag memiliki susunan gigi khusus dan kemampuan fisik yang mendukung gaya hidup berburu.

Dalam perilaku kehidupan ajag hidup dalam kelompok sosial atau packs. Dalam satu kelompok terdapat satu atau lebih betina dominan yang akan mengawasi kawanan, sementara anggota kelompok lainnya membantu membawa makanan dan merawat anak-anak hingga mereka cukup besar untuk ikut berburu.

Sebagai hewan karnivora, ajag memiliki strategi berburu khusus yang memungkinkan mereka menaklukkan mangsa lebih besar dari ukuran tubuh mereka. Ajag bekerja sama saat mengejar mangsa, seperti rusa atau babi hutan, yang membuatnya menjadi predator efektif di habitatnya.

Dalam keseharian, ajag cenderung menghindari manusia dan lebih aktif pada waktu tertentu, seperti pagi dan senja, terutama di wilayah hutan yang masih alami.

Penyebaran dan Habitat Ajag di Indonesia

Melansir arsip detikTravel, di Indonesia, ajag tersebar terutama di Pulau Jawa dan Sumatera.

Subspesies yang ditemukan di Jawa disebut Cuon alpinus javanicus, yang hidup di beberapa taman nasional seperti Taman Nasional Alas Purwo, Gunung Gede Pangrango, Gunung Halimun Salak, Ujung Kulon, dan Baluran.

Sementara subspesies di Sumatera dikenal sebagai Cuon alpinus sumatrensis dapat ditemukan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

Secara global, ajag pernah menghuni sebagian besar Asia, termasuk wilayah yang kini sudah tidak lagi terisi populasi seperti Mongolia dan Korea Utara. Kini persebarannya sangat terfragmentasi dan terbatas terutama di kawasan bersebelahan dengan hutan besar dan kawasan konservasi, termasuk di India, Nepal, Bhutan, Thailand, dan Laos.

Status Konservasi dan Ancaman yang Dihadapi

Keberadaan ajag kini menghadapi ancaman serius karena jumlah populasinya terus menurun drastis akibat hilangnya habitat hutan, fragmentasi wilayah jelajah, serta konflik dengan manusia.

Organisasi konservasi internasional seperti International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah menetapkan ajag sebagai spesies Endangered atau terancam punah, dengan perkiraan jumlah individu dewasa liar yang tersisa di dunia hanya berkisar 2.500 individu.

Terdapat beberapa penyebab yang menjadi ancaman utama bagi keberlangsungan populasi ajag di seluruh dunia, antaranya:

1. Kerusakan Habitat

Kerusakan habitat menjadi ancaman utama bagi keberlangsungan hidup ajag. Pembukaan hutan untuk pertanian, perkebunan, hingga pembangunan infrastruktur membuat wilayah jelajah ajag semakin menyempit. Hutan yang terfragmentasi juga memutus jalur pergerakan ajag dalam mencari mangsa dan pasangan, sehingga populasi sulit berkembang secara alami.

2. Penurunan Jumlah Mangsa Alami

Berkurangnya populasi rusa, babi hutan, dan satwa herbivora lain akibat perburuan liar dan rusaknya ekosistem hutan menyebabkan ajag kesulitan mendapatkan makanan. Kondisi ini mendorong ajag keluar dari habitat alaminya dan mendekati kawasan permukiman untuk mencari sumber pangan alternatif.

3. Konflik dengan Manusia

Konflik dengan manusia menjadi salah satu ancaman serius bagi keberlangsungan hidup ajag. Ketika ajag memasuki wilayah permukiman atau memangsa ternak, hewan ini kerap dianggap sebagai ancaman. Akibatnya, ajag sering menjadi sasaran perburuan atau tindakan pengusiran, yang semakin mempercepat penurunan populasinya di alam liar.

4. Penyakit Menyebar dari Anjing Domestik

Ancaman lain adalah penyebaran penyakit yang ditularkan oleh anjing domestik. Penyakit seperti rabies dan distemper dapat menyebar ke populasi ajag melalui kontak langsung atau tidak langsung. Minimnya kekebalan terhadap penyakit tersebut membuat ajag sangat rentan, terutama di wilayah yang berdekatan dengan pemukiman manusia.

Untuk mencegah kepunahan, berbagai negara telah melakukan upaya konservasi, mulai dari pemberlakuan perlindungan hukum hingga pengembangan kawasan lindung sebagai habitat aman bagi ajag. Edukasi kepada masyarakat juga menjadi langkah penting untuk mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar.

Di Indonesia sendiri, ajag telah ditetapkan sebagai satwa dilindungi oleh undang-undang dengan habitat yang berada di sejumlah taman nasional yang dikelola secara khusus untuk menjaga kelestarian spesies ini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Wow! Hewan di Laut Jerman Bertahan Hidup di Atas Bom"
[Gambas:Video 20detik]
(ddn/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads