Insiden penembakan yang menyebabkan tewasnya Egon Erawan dan Baskoro Adi Anggoro oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua mengguncang dunia penerbangan nasional.
Peristiwa yang terjadi di wilayah operasi penerbangan perintis itu tak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga memunculkan kekhawatiran serius soal jaminan keamanan bagi para penerbang yang bertugas di daerah-daerah terpencil.
Penerbang senior Daniel Putut Kuncoro Adi atau yang akrab disapa Capt Daniel menyampaikan rasa duka cita mendalam atas kejadian tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertama-tama tentunya kita harus mengucapkan rasa dukacita yang sangat mendalam kepada korban dan keluarganya. Semoga diberikan keikhlasan dan kesabaran. Kami sebagai penerbang sangat prihatin, khususnya kepada rekan-rekan yang saat ini terbang di daerah remote dan perintis," ujarnya saat ditemui di Tangerang Selatan.
Secara personal, Capt Daniel mengaku mengenal korban, Egon Irawan, yang disebutnya sebagai sosok yang sangat dikenal di kalangan pilot, khususnya mereka yang terbang di daerah remote dan perintis. Sehari sebelumnya dia mengunjungi pemakaman korban.
"Saya kenal Captain Egon Irawan. Beliau sangat-sangat dikenal oleh para pilot yang terbang di daerah remote. Kebetulan tempat tinggal kami juga dekat. Putra beliau satu sekolah dengan putra saya," tuturnya.
Kedekatan tersebut, menurut Capt Daniel, menimbulkan ikatan batin tersendiri. Hal itu pula yang mendorongnya untuk menyampaikan pesan khusus kepada rekan-rekan penerbang.
"Saya ingin menyampaikan kepada teman-teman penerbang untuk tetap dalam kondisi alert, menjaga awareness yang tinggi saat menjalankan tugas, khususnya di daerah-daerah rawan," katanya.
Capt Daniel yang pernah menjadi penerbang pesawat perintis selama sekitar satu dekade memahami betul tekanan yang dihadapi para pilot di wilayah terpencil. Dengan fasilitas terbatas, regulasi visual (VFR), serta kondisi geografis dan cuaca yang menantang, penerbangan perintis memang menuntut kewaspadaan ekstra.
Menurutnya, insiden ini sangat memengaruhi kondisi psikologis para pilot. "Pasti ada rasa takut. Kondisi mental dan fisik sangat terpengaruh. Kalau sampai ini terjadi, kita bisa bayangkan bagaimana distribusi bantuan, penumpang dan barang ke daerah pelosok bisa ter-deliver dengan baik," jelasnya.
Ikatan Pilot Indonesia juga mengecam serangan terhadap pesawat Smart Air di Boven Digoel, Papua Selatan. IPI mengatakan kejadian tersebut telah menyita perhatian internasional.
"Ikatan Pilot Indonesia mengecam dan mengutuk keras tragedi memilukan tersebut yang telah menyita perhatian bukan hanya pada level nasional, tetapi juga dunia internasional. Penerbangan adalah moda transportasi strategis nasional yang vital bagi Indonesia, yang menghubungkan geografis Indonesia sebagai negara kesatuan, berperan dalam memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat maupun memenuhi kebutuhan pangan, medis, dan roda ekonomi sampai ke penjuru negeri," kata Ketua IPI Capt Muammar Reza Nugraha.
Sebelumnya mengutip detikSulsel, insiden penembakan ini terjadi Rabu (11/2) sekitar pukul 10.30 WIT di Bandara Korowai Batu, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.
Kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Elkius Kobak memberondong peluru pesawat Smart Air PK-SNR. KKB juga menembak mati pilot Air Egon Irawan dan Kopilot Baskoro. Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Brigjen Faizal Ramadhani mengatakan setelah penumpang berjumlah 13 orang turun, pesawat bersiap melanjutkan penerbangan menuju Dekai, Kabupaten Yahukimo.
"Saat pilot melakukan start engine, sekitar kurang lebih 20 orang pelaku (KKB) muncul dari arah penginapan bandara dengan membawa senjata api dan melepaskan tembakan dari jarak sekitar 200 meter ke arah pesawat," kata Faizal kepada wartawan, Jumat (13/2/2026).
Tembak tersebut membuat penumpang panik dan berlari menyelamatkan diri. Pilot dan kopilot juga berlari menuju rumah warga di sekitar bandara untuk mencari perlindungan.
"Pilot dan kopilot turut berlari menuju rumah warga di sekitar bandara, namun keduanya dikejar oleh para pelaku," ujar Faizal.
Faizal menuturkan pilot dan kopilot tertangkap, keduanya kemudian dibawa kembali ke area bandara. KKB lalu menembak pilot dan kopilot hingga tewas di landasan pacu bandara.
"Tidak lama kemudian, korban ditangkap dan dibawa kembali ke area landasan, lalu dilakukan penembakan terhadap (korban) oleh para pelaku (KKB)," jelasnya.
Dalam olah TKP dan rekonstruksi, tim gabungan melakukan 23 penomoran titik penting. Mulai dari posisi awal arah tembakan, letak pesawat, 13 titik perkenaan tembakan di badan pesawat, pecahan kaca jendela pesawat.
Kemudian pengambilan 2 selongsong peluru dan 1 butir amunisi di landasan, titik penangkapan dan eksekusi korban pilot dan kopilot, serta lokasi evakuasi jenazah di Terminal Bandara Korowai Batu.
"Dari hasil pemeriksaan fisik pesawat, ditemukan sebanyak 13 lubang bekas tembakan pada badan pesawat," ungkapnya.
Faizal mengatakan saksi yang dimintai keterangan mengaku tidak mengenali para pelaku penembakan. Polisi masih akan memeriksa sejumlah saksi di Polres Boven Digoel di Tanah Merah.
"Para saksi juga mengaku tidak mengenali para pelaku dan menduga bahwa pelaku bukan merupakan warga setempat," ujarnya.
Peristiwa itu membuat 33 orang mengungsi di Kepi, Kabupaten Mappi dan enam lainnya di Distrik Senggo. Faizal menegaskan bahwa wilayah tersebut daerah terpencil yang hanya bisa diakses melalui jalur udara dan jalur sungai menggunakan perahu kecil.
"Sebanyak 33 orang pengungsi saat ini berada di Kepi, dan enam orang lainnya berada di Distrik Senggo," katanya.
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5