Sindikat Penyalahgunaan Tiket Museum Louvre Ditangkap, Ada Orang Dalam Terlibat
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Sindikat Penyalahgunaan Tiket Museum Louvre Ditangkap, Ada Orang Dalam Terlibat

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Selasa, 17 Feb 2026 18:29 WIB
A placard which reads The Louvre Museum will be closed today for exceptional reasons is seen near the glass Pyramid of the Louvre Museum as the museum remains closed the day after a spectacular jewel heist by thieves who broke into the landmark by
Museum Louvre. (Benoit Tessier/Reuters)
Jakarta -

Kepolisian Prancis menahan sembilan orang dalam kasus dugaan penipuan tiket senilai 10 juta euro atau sekitar Rp 199 miliar di Museum Louvre. Dua orang di antaranya merupakan pegawai museum.

Kasus itu terungkap setelah pengelola museum melaporkan kecurigaan adanya praktik tidak wajar dalam penjualan dan penggunaan tiket kepada aparat penegak hukum.

"Berdasarkan informasi yang tersedia bagi museum, kami menduga adanya jaringan yang mengorganisir penipuan berskala besar," ujar juru bicara museum dikutip dari The Guardian, Selasa (17/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Kantor Kejaksaan Paris, para terduga yang ditahan terdiri dari dua karyawan Louvre, sejumlah pemandu wisata, serta satu orang yang diyakini sebagai otak di balik skema tersebut.

Media lokal, Le Parisien, melaporkan bahwa modus yang digunakan melibatkan pemandu wisata yang menyasar rombongan turis asal China. Mereka diduga menggunakan tiket yang sama secara berulang untuk kelompok berbeda.

ADVERTISEMENT

Penyelidik kini mendalami kemungkinan jaringan tersebut mengatur hingga 20 rombongan tur per hari selama hampir sepuluh tahun terakhir. Kantor kejaksaan Paris menyatakan hasil pengawasan dan penyadapan telepon mengonfirmasi penggunaan ulang tiket secara sistematis.

Dikutip dari Associated Press, selain itu, ditemukan pula strategi memecah kelompok tur guna menghindari biaya yang wajib dibayarkan pemandu wisata kepada museum.

Penyidikan juga mengarah pada dugaan keterlibatan orang dalam. Para pemandu wisata disebut memberikan uang tunai kepada oknum di internal museum agar lolos dari pemeriksaan tiket.

Penyelidikan yudisial resmi telah dibuka sejak Juni lalu. Para tersangka dijerat dengan sejumlah tuduhan, termasuk penipuan terorganisir, pencucian uang, korupsi, membantu masuknya orang secara ilegal sebagai bagian dari kelompok terorganisir, serta penggunaan dokumen administratif palsu.

Associated Press melaporkan bahwa sebagian dana hasil dugaan penipuan itu diduga diinvestasikan pada sektor properti di Prancis dan Dubai.

Aparat telah menyita lebih dari 957.000 euro dalam bentuk tunai, termasuk 67.000 euro mata uang asing, serta membekukan 486.000 euro dari rekening bank.

Menambah Daftar Masalah di Museum Louvre

Kasus ini menjadi krisis terbaru bagi Louvre. Sebelumnya, pada akhir tahun lalu, museum tersebut diguncang perampokan siang hari. Sekelompok pelaku masuk melalui jendela dan mencuri perhiasan mahkota Prancis dalam waktu tujuh menit sebelum kabur menggunakan skuter.

Empat orang telah ditangkap dan tengah diselidiki. Namun perhiasan tersebut belum ditemukan, belum lama ini, galeri Denon-ruang pamer yang menampilkan sejumlah karya paling berharga-juga sempat ditutup sebagian akibat kebocoran air.

Kebocoran terjadi di Ruang 707, tempat karya Charles Meynier dan Bernardino Luini dipamerkan. Lukisan Mona Lisa dilaporkan tidak terdampak.

Pengelola Louvre menyatakan tengah menghadapi peningkatan berbagai bentuk penipuan tiket.

Museum mengaku telah menerapkan rencana anti-penipuan yang terstruktur dengan melibatkan staf internal dan kepolisian. Dalam beberapa bulan terakhir, serikat pekerja museum juga sempat melakukan mogok kerja selama beberapa hari.

Mereka menuntut renovasi mendesak, penambahan staf, serta memprotes kenaikan harga tiket bagi sebagian besar pengunjung non-Uni Eropa, termasuk wisatawan dari Inggris, Amerika Serikat, dan China.




(upd/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads