Nasib Alun-alun Gadobangkong Usai Viral Penyu Kardus
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Nasib Alun-alun Gadobangkong Usai Viral Penyu Kardus

Syahdan Alamsyah - detikTravel
Rabu, 18 Feb 2026 14:23 WIB
Kondisi miris alun-alun Gadobangkong, Sukabumi
Kondisi miris alun-alun Gadobangkong, Sukabumi (Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Alun-alun Gadobangkong di Pelabuhanratu pernah menjadi sorotan setelah viralnya patung 'Penyu Kardus'. Bagaimana kondisinya kini?

Ikon wisata yang dibangun dengan anggaran besar ini kondisinya justru terlihat "rungkad" alias rusak parah. Pantauan detikJabar di lokasi, Rabu (18/2/2026), kerusakan paling mencolok terlihat pada landmark tulisan raksasa "ALUN-ALUN GADOBANGKONG".

Huruf-huruf kapital berwarna merah yang menjadi identitas kawasan tersebut tampak bergelimpangan di tanah, copot dari dudukannya, dan pecah berantakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Material huruf yang hancur berserakan di area pedestrian, menciptakan kesan kumuh di tengah kemegahan bangunan utama. Kondisi ini seolah mengulang polemik kualitas konstruksi pasca-viralnya patung penyu yang berisi material tak wajar sebelumnya.

Melihat kondisi aset yang memprihatinkan, Bupati Sukabumi Asep Japar angkat bicara. Ia menekankan bahwa bangunan ini baru saja rampung dan menelan biaya yang tidak sedikit, sehingga kerusakannya sangat disayangkan.

ADVERTISEMENT

Kondisi miris alun-alun Gadobangkong, SukabumiKondisi miris alun-alun Gadobangkong, Sukabumi (Syahdan Alamsyah/detikJabar)

"Ya, ini harus dipelihara dengan baik karena ini kan baru dibangun belum lama dengan memakan biaya juga cukup besar," ujar pria yang akrab disapa Asjap itu saat melihat langsung kondisi tersebut di lokasi.

Terkait kondisi "rungkad" dan kurang terawatnya Gadobangkong saat ini, Asjap mengungkapkan adanya rencana evaluasi teknis pengelolaan. Ia menjelaskan, sejak serah terima dari provinsi, kawasan ini dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Namun, melihat fakta di lapangan di mana kebersihan dan pemeliharaan fisik belum optimal, Asjap berencana mengalihkan tanggung jawab tersebut ke dinas teknis yang lebih relevan, yakni Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim).

"Rencananya akan diambil oleh pihak Dinas Perkim, karena (pengelolaan oleh) DLH belum maksimal," kata Asjap memberikan sinyal perombakan manajerial aset wisata tersebut.

"Kita insyaallah setelah kewenangannya ya nanti di pihak pemerintah daerah (Perkim), kita akan pelihara karena ini aset yang luar biasa," ujar dia.

Alun-alun Gadobangkong Palabuhanratu di Kabupaten Sukabumi.Pentu kardus di Alun-alun Gadobangkong Palabuhanratu di Kabupaten Sukabumi. Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Tanggapan serupa juga diutarakan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sukabumi, Ade Suryaman, selain soal Landmark ia juga menyoroti kondisi bangunan utama berupa dek pandang (viewing deck) yang biasa dijadikan spot selfie.

Ade secara terbuka mengakui bahwa konstruksi dek tersebut saat ini berisiko. Di area bawah dek, pemandangan pun tak kalah kumuh dengan adanya tumpukan barang dan patung karakter Doraemon yang teronggok di antara tiang penyangga.

"Langkahnya pasti kita akan rapatkan kembali. Sebetulnya kemarin kan sudah ketahuan mana titik lemahnya. Seperti dek selfie ya, ini juga harus perbaikan. Kita kan enggak berani naik ke atas (karena kondisi tidak layak)," kata Ade Suryaman kepada detikJabar.

Ade menjelaskan, aset Gadobangkong ini diserahterimakan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat ke Pemkab Sukabumi sekitar akhir tahun 2024. Namun, ia memberikan catatan tebal bahwa saat diserahkan, kondisi pengerjaannya memang belum sempurna.

"Sebetulnya dari pihak pemerintah provinsi sudah diserahkan ke kabupaten waktu itu. Tapi kita ada catatan khusus. Jadi waktu itu mungkin dalam pengerjaan masih yang belum sempurna lah," ujar Ade.

Faktor alam seperti angin laut yang kencang diakui turut mempercepat kerusakan landmark "merek" Gadobangkong tersebut. Namun, Ade berjanji perbaikan akan segera dilakukan mengingat pentingnya lokasi ini sebagai ikon wisata.

"Jadi sekarang bisa dilihat merek-mereknya (landmark tulisan) juga pada hancur. Oleh karena itu, mau tidak mau ke depannya kita akan perbaiki kembali. Karena itu merupakan ikon Kabupaten Sukabumi," kata dia.




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads