Kisah Pria Australia Tewas di Bali gegara Paspor Tak Terbit-terbit
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Kisah Pria Australia Tewas di Bali gegara Paspor Tak Terbit-terbit

Wahyu Setyo Widodo - detikTravel
Rabu, 18 Feb 2026 22:10 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi (Getty Images/Nes)
Denpasar -

Wayne Harvey, ekspatriat dari Australia tewas di Bali. Pihak keluarga mengklaim itu gara-gara pihak Konsulat Australia gagal menerbitkan paspor darurat untuk Wayne.

Dilansir dari Guardian, Rabu (18/2/2026), kisah tragis yang dialami pria berusia 69 tahun itu berawal dari Malam Natal 2022 silam. Kala itu, Wayne didiagnosis mengalami appendisitis atau peradangan usus buntu.

Dia pun dirawat di RS Puri Raharja di Denpasar dan harus menjalani operasi untuk memotong usus buntunya. Setelah dioperasi, pihak rumah sakit menghubungi Jake Harvey, anak Wayne.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pihak RS menyebut Wayne mengalami komplikasi dan harus dirujuk ke RS Professor Ngoerah untuk perawatan medis yang lebih baik. Namun, pemindahan Wayne ke RS Professor Ngoerah terkendala karena paspor milik Wayne hilang.

Sebagai anak satu-satunya, Jake kemudian menghubungi layanan 24 jam Departemen Luar Negeri Australia pada 1 Januari 2023. Dia menjelaskan kondisi ayahnya yang tidak sadarkan diri dan sakit kritis.

ADVERTISEMENT

Jake meminta agar pihak Deplu Australia untuk mengeluarkan paspor darurat agar ayahnya bisa ditransfer ke rumah sakit yang lebih memadai. Namun pihak petugas konsulat tidak bisa memproses permintaan itu karena tidak ada izin dari sang ayah sesuai dengan UU Privasi Australia.

Selama lebih dari 2 hari, Jake terus-terusan berkirim email dan menelepon pihak Konsulat Australia untuk meminta pertolongan. Dia bahkan mengirim video dan foto kondisi ayahnya yang dibantu alat-alat life support.

"Ini memakan waktu sangat lama. Saya muak dengan alasan privasi," kata Jake dengan kesal. Dia bahkan menyarankan pihak konsulat untuk menelepon sendiri ke rumah sakit agar mendapat persetujuan Wayne supaya permohonan paspor daruratnya bisa diproses.

Pada 3 Januari, pihak Konsulat mengirim email kepada Jake yang berisi rangkuman kondisi kesehatan ayahnya berdasarkan informasi dari suster yang bertugas. Mereka kemudian menginformasikan kepada Jake, bahwa rumah sakit tempat rujukan itu 'tidak sesuai dengan standar' Australia.

Pihak konsulat malah menyebut kondisi Wayne sudah stabil dan membaik. Namun Jake merasa informasi itu sangat janggal dan berkebalikan dengan apa yang dia dengar dari dokter dan rekan ayahnya.

Jake kemudian membalas email tersebut dan bersikeras bahwa Wayne membutuhkan paspornya untuk bisa dipindah ke rumah sakit lain seandainya kondisinya memburuk.

"Bisakah pihak Konsulat membantu dengan dokumen tersebut?" tanya Jake dalam emailnya.

Namun email itu tidak dibalas. Demikian juga dengan email-email follow up selanjutnya yang dikirim Jake.

Paspor Darurat Tidak Terbit, Wayne Pun Meninggal Dunia

Pihak Konsulat Australia akhirnya tetap tidak menerbitkan paspor darurat untuk Wayne. Wayne pun tidak jadi dipindah ke rumah sakit lain. Wayne akhirnya meninggal dunia di RS Puri Raharja pada 7 Januari 2023.

Jake pun melayangkan komplain terhadap apa yang dialami oleh ayahnya dua hari setelah hari kematian Wayne. Namun komplain itu diabaikan sampai lebih dari dua tahun lamanya.

27 Bulan kemudian, Departemen Luar Negeri Australia baru membalas email Jake, setelah dia mengirimkan email follow up pada pertengahan tahun 2025 yang berisi rasa frustasinya karena email yang tidak pernah dibalas.

"Kami memahami kekhawatiran yang Anda sampaikan mengenai interaksi Anda dengan Pusat Darurat Konsuler. Pengalaman Anda telah dibagikan kepada tim dan manajer terkait untuk membantu kami meningkatkan cara berkomunikasi dengan pihak keluarga selama situasi kritis," kata Paula Brewer, Asisten Sekretaris untuk Konsulat.

"Dalam kasus ayah Anda, tampaknya kami tidak paham betul tentang keseriusan kondisi kesehatannya. Setelah terbukti dia tidak dapat memberikan persetujuan, pihak Konsulat mengambil langkah untuk membagikan informasi, termasuk laporan medis kepada Anda," lanjut Paula.

"Namun, saya mengakui bahwa proses dan jangka waktu yang ternyata masih hari libur nasional, tidak dijelaskan dengan jelas kepada Anda pada saat itu. Saya sungguh menyesal atas segala kesulitan tambahan yang mungkin ditimbulkan selama masa-masa menyakitkan itu," ucap Paula dalam emailnya.

Membaca email itu, Jake kemudian menuntut penjelasan lebih lanjut. Alasan bahwa pihak Deplu Australia tidak paham tentang betapa serius kondisi kesehatan ayahnya sungguh tidak dapat diterima.

"Dia tidak sadarkan diri akibat komplikasi setelah operasi pengangkatan usus buntu. Dia tidak bisa dipindahkan tanpa paspornya dan paspornya hilang. Karena itulah kami menghubungi layanan konsuler. Kami benar-benar membutuhkan bantuan untuk paspor itu," ujar Jake.

"Kami memahami betapa menyedihkannya kematian ayah Anda bagi Anda dan keluarga, dan kami sangat menyesal layanan konsuler yang diberikan terkait kasus Wayne tidak memenuhi harapan," tulis seorang pejabat konsuler Australia.

Hingga kini, pihak Deplu Australia mengatakan mereka tidak bisa memberikan informasi lebih lanjut terhadap detail kasus tersebut akibat adanya kebijakan privasi.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Purbaya Bilang Penerima LPDP Hina Negara Bakal Di-blacklist"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads