Lawan Overtourism, Ini Cara Ekstrem Berbagai Negara Jinakkan Ledakan Turis

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Lawan Overtourism, Ini Cara Ekstrem Berbagai Negara Jinakkan Ledakan Turis

Nyimas Amrina Rosada - detikTravel
Rabu, 25 Feb 2026 09:15 WIB
Visitors take a photo in front of a convenient store at Fujikawaguchiko town, Yamanashi prefecture, Japan, with a backdrop of Mr. Fuji on April 28, 2024. The town of Fujikawaguchiko, known for a number of popular photo spots for Japans trademark of
Wisatawan berfoto di depan toko kelontong di Fujikawaguchiko, Prefektur Yamanashi, Jepang, dengan latar Gunung Fuji. Aktivitas itu mengganggu warga lokal. (Kyodo News via AP Photo)
Jakarta -

Overtourism atau lonjakan wisatawan kerap terjadi, terutama di musim liburan. Berikut ini cara ekstrem yang dilakukan oleh berbagai negara untuk mengatasi overtourism.

Lonjakan jumlah wisatawan selalu membawa berkah bagi sektor pariwisata. Namun di sisi lain, banyak destinasi populer justru kewalahan menghadapi membludaknya turis.

Fenomena itu dikenal sebagai overtourism, ketika jumlah pengunjung melebihi kapasitas suatu tempat, mengganggu lingkungan, infrastruktur, hingga kehidupan warga lokal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak sedikit negara yang akhirnya mengambil langkah tegas, bahkan terbilang ekstrem, demi mengendalikan arus wisatawan dan melindungi destinasi mereka. Melansir BBC, Rabu (25/2/2026), berikut beberapa kebijakan ekstrem yang diterapkan negara-negara dunia untuk mengatasi overtourism.

Cara Ekstrem Berbagai Negara Mengatasi Overtourism

1. Jepang Blokir Spot Viral dan Batasi Akses Wisata

ADVERTISEMENT
Visitors look at the early-flowering Ookanzakura cherry blossoms almost in full bloom at Ueno Park in Tokyo, Japan, March 13, 2025. REUTERS/Issei KatoIlustrasi wisatawan mengagumi sakura yang sedang mekar di Ueno Park, Tokyo (Issei Kato/Reuters)

Jepang semakin serius menangani overtourism. Salah satu langkah yang sempat jadi sorotan terjadi pada 2024, ketika kota Fujikawaguchiko memasang penghalang besar untuk menutup spot foto viral Gunung Fuji.

Kebijakan ini diambil setelah banyak wisatawan nekat memanjat atap bangunan, mengabaikan petugas, dan melanggar aturan demi konten media sosial.

Di Kyoto, masalah kepadatan juga tak kalah pelik. Pemerintah setempat melarang wisatawan memotret geisha sembarangan dan membatasi akses ke sejumlah lorong di kawasan Gion yang bersejarah.

Tak hanya itu, Kyoto juga memanfaatkan teknologi lewat fitur Congestion Forecast untuk memprediksi waktu kunjungan yang lebih lengang, serta aplikasi Smart Navi yang memberi informasi kepadatan secara real-time.

Kota ini juga mempromosikan destinasi alternatif lewat program Hidden Gems agar wisatawan tak hanya menumpuk di destinasi populer. Bahkan tersedia layanan Hands Free Kyoto untuk pengiriman dan penyimpanan bagasi demi mengurangi kepadatan di transportasi umum.

2. Amerika Serikat (AS) Naikkan Biaya Masuk Turis Asing

AS memilih cara yang lebih "ekonomis" untuk mengatasi overtourism, khususnya di taman nasional. Dari total 433 taman nasional sekitar setengah kunjungan wisata justru menumpuk di 25 taman paling populer seperti Yellowstone, Yosemite, dan Grand Canyon.

Mulai tahun 2026, pemerintah AS memberlakukan biaya tambahan sebesar USD 100 per orang (atau sekitar Rp 1,6 juta) bagi wisatawan internasional di 11 taman favorit. Selain itu, kartu tahunan America the Beautiful untuk non-penduduk naik menjadi USD 250 (sekitar Rp 4,2 juta), jauh lebih mahal dibanding USD 80 (sekitar Rp 1,3 juta) untuk warga AS.

Namun, sejumlah pengamat menilai kebijakan ini belum tentu efektif. Meski begitu, ada kemungkinan turis asing akan beralih ke taman yang lebih sepi seperti Canyonlands di Utah.

Di sisi lain, beberapa pengamat menilai masalahnya lebih kompleks dari sekadar harga. Kepadatan di taman nasional juga dipengaruhi musim liburan, kapasitas parkir, hingga pola perjalanan domestik.

3. Jamaika Beri Asuransi Hujan

Berbeda dari negara lain yang memilih pembatasan, Jamaika justru menawarkan insentif kreatif. Setelah terdampak Badai Melissa pada 2025, negara Karibia ini ingin menarik wisatawan datang di luar musim ramai, termasuk saat musim badai.

Mulai Maret, Jamaica Tourism bekerja sama dengan JetBlue dan WeatherPromise menghadirkan perlindungan hujan untuk paket wisata yang dipesan hingga akhir November.

Jika curah hujan masuk kategori "hujan berlebihan" wisatawan tetap bisa berlibur dan akan menerima pengembalian dana otomatis.

Strategi ini dirancang untuk mengurangi kekhawatiran turis bepergian di musim sepi, sekaligus membantu mendistribusikan kunjungan lebih merata sepanjang tahun. Dengan begitu, tekanan saat musim puncak bisa berkurang.

4. Spanyol Mengatur Kerumunan dengan AI

Kota Soller, Mallorca di SpanyolKota Soller, Mallorca di Spanyol (Getty Images/Andrey Danilovich)

Mallorca, Spanyol, menggunakan pendekatan berbasis teknologi, setelah diwarnai protes anti-pariwisata. Pulau ini akan meluncurkan platform bertenaga kecerdasan buatan (AI) yang terintegrasi di situs resminya untuk mengelola arus wisatawan secara lebih cerdas.

Lewat data pengunjung real-time, sistem ini akan memberi rekomendasi waktu terbaik untuk datang ke destinasi populer sekaligus menyarankan alternatif yang lebih sepi.

Wisatawan juga akan diarahkan mengeksplorasi sisi lain Mallorca, mulai dari kerajinan lokal seperti pembuatan kaca dan tenun tradisional llatra, hingga kebun anggur dan produsen minyak zaitun.

Platform yang disebut sebagai Smart Destination Platform ini dirancang untuk mengintegrasikan data mobilitas, akomodasi, dan sumber daya wisata agar pemerintah bisa memprediksi kepadatan dan mengambil keputusan lebih cepat.

Tak hanya teknologi, Mallorca juga menggencarkan kampanye Ca Nostra (Rumah Kita), yang mengajak wisatawan memperlakukan pulau tersebut layaknya rumah sendiri dengan menghormati alam, budaya, dan kehidupan warga lokal.

5. Denmark Terapkan Aksi Ramah Lingkungan

Little Mermaid DenmarkLittle Mermaid Denmark (AN Uyung Pramudiarja/d'Traveler)

Kopenhagen, ibu kota Denmark, termasuk destinasi dengan pertumbuhan wisata tercepat di Eropa. Untuk mencegah overtourism sejak dini, kota ini memilih pendekatan unik, yaitu dengan mengubah perilaku wisatawan lewat insentif positif.

Pada 2024, mereka meluncurkan program CopenPay, yang memungkinkan wisatawan membayar pengalaman wisata dengan tindakan berkelanjutan. Misalnya, berkayak sambil memungut sampah di kanal, atau datang ke museum menggunakan sepeda alih-alih kendaraan bermotor.

Hasilnya cukup signifikan. Lebih dari 30.000 orang ikut serta, dan penyewaan sepeda meningkat hingga 59% selama program berlangsung. Banyak peserta mengaku tertarik karena ingin merasakan pengalaman yang berbeda, sekaligus lebih bermakna.

Halaman 2 dari 4


Simak Video "Video: Jepang Batalkan Festival Sakura Fuji 2026 Gara-Gara Overtourism!"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads