Direktur Museum Louvre di Paris, Laurence des Cars, akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya usai rentetan masalah yang terjadi di Louvre.
Keputusan mundurnya Des Cars diambil empat bulan setelah perampokan besar mengguncang museum tersebut dan perhiasan era Napoleon senilai 88 juta euro (Rp 1,74 triliun) raib dari Galeri Apollo.
Pengunduran diri diajukan kepada Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Pemerintah Prancis menyebut langkah itu sebagai tindakan tanggung jawab.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip The Guardian, Rabu (25/2/2026) dalam sebuah pernyataan, pemerintah menilai Louvre membutuhkan ketenangan dan dorongan baru yang kuat untuk berhasil melaksanakan proyek-proyek besar yang melibatkan keamanan dan modernisasi. Pernyataan itu muncul di tengah berbagai krisis yang menimpa museum tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
Perampokan terjadi pada Oktober tahun lalu, dalam salah satu aksi kriminal paling dramatis di Prancis dalam beberapa dekade terakhir. Pelaku masuk melalui jendela menggunakan alat pengangkat furnitur, memecahkan lemari pajangan, lalu membawa kabur delapan perhiasan hanya dalam waktu tujuh menit sebelum melarikan diri dengan skuter.
Empat pria telah ditangkap dan tengah diselidiki. Namun, hingga kini perhiasan yang dicuri belum ditemukan. Barang yang hilang termasuk kalung zamrud dan berlian yang diberikan Napoleon I kepada istri keduanya, Marie Louise, serta diadem bertatahkan 212 mutiara dan hampir 2.000 berlian milik Eugenie de Montijo, istri Napoleon III.
Beberapa hari setelah kejadian, Des Cars mengakui adanya kelalaian serius. Ia menyebut peristiwa itu sebagai kegagalan yang mengerikan dan mengakui bahwa cakupan kamera keamanan di dinding luar museum sangat tidak memadai.
"Meskipun kami telah bekerja keras, kami gagal," ujarnya.
Masalah di Louvre tidak berhenti pada kasus perampokan. Awal bulan ini, polisi menahan sembilan orang dalam penyelidikan dugaan penipuan tiket senilai 10 juta euro (Rp 198 miliar).
Dua di antaranya merupakan staf museum, sementara lainnya adalah pemandu wisata. Selain itu, serikat pekerja juga menggelar aksi mogok selama beberapa hari.
Mereka menuntut renovasi mendesak dan penambahan staf, serta memprotes kenaikan harga tiket bagi sebagian besar pengunjung dari luar Uni Eropa, termasuk wisatawan asal Inggris, Amerika Serikat, dan China. Tekanan semakin besar setelah penyelidikan parlemen menyebut Louvre sebagai 'negara di dalam negara'.
Ketua penyelidikan, Alexandre Portier, mengatakan perampokan itu mengungkap kegagalan sistemik, penolakan terhadap risiko, dan manajemen yang saat ini sedang gagal.
Sorotan terhadap sistem keamanan sebenarnya sudah muncul sebelumnya. Kepala auditor negara Prancis tahun lalu menyebut pencurian itu sebagai peringatan keras atas laju peningkatan keamanan yang sama sekali tidak memadai dan menegaskan perbaikan harus segera dilakukan tanpa penundaan.
Laporan tersebut mencatat adanya keterlambatan pemasangan peralatan keamanan. Hingga 2024 hanya 39% ruangan di museum yang telah dilengkapi kamera CCTV.
Penyelidikan administratif yang rampung akhir tahun lalu juga menyoroti penilaian risiko penyusupan dan pencurian yang kronis dan struktural serta tingkat langkah-langkah keamanan yang tidak memadai.











































Komentar Terbanyak
Potret Terkini Malaysia yang Selangkah Lagi Jadi Negara Maju
Gara-gara Protes Penerbangan Delay, Warga 62 Ditahan Polisi KLIA
Petaka Selfie, Turis Tewas di Tebing Pantai Semeti Lombok