Gen Z didorong untuk mempersiapkan diri lebih berkiprah di sektor ekonomi kreatif (ekraf). Ada banyak peluang pekerjaan yang terbuka di sektor ini.
Anggota DPR RI Komisi VII, Novita Hardini mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh hanya menyiapkan siswa untuk bekerja di sektor formal semata. Karena di zaman sekarang peluang pekerjaan di sektor nonformal dan industri kreatif terbuka sangat luas bagi generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z).
"Saya ingin mendorong sekolah lebih serius menyiapkan masa depan anak-anak kita. Dunia kerja tidak hanya formal. Industri kreatif seperti gaming, perfilman, animasi, hingga digital marketing memiliki potensi besar dan bisa dimasuki anak-anak muda hari ini," kata Novita seperti dikutip dari Antara, Rabu (25/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Industri perfilman misalnya, tidak hanya membutuhkan aktor dan aktris, tetapi juga penulis skenario, editor, animator, hingga tenaga kreatif di bidang bahasa dan sastra.
Di zaman sekarang, peluang ekonomi digital juga disebut sangat terbuka lebar. Novita mencontohkan aktivitas sederhana dari pemanfaatan platform digital untuk memberikan pendapatan tambahan seperti menjadi affiliate atau konten kreator.
"Dengan memanfaatkan platform digital secara kreatif, penghasilan tambahan itu sangat mungkin," pungkas dia.
Gen Z sekarang juga bisa mencoba Technopreneurship. Menurut Guru Besar UIN Jakarta, Prof. Dr. Achmad Tjachja Nugraha, technopreneurship kini sudah jauh melampaui sekadar mendirikan startup atau membuat aplikasi digital.
Lebih dari itu, Technopreneurship adalah soal menemukan peluang, merancang model bisnis, dan memastikan keberlanjutan usaha di tengah persaingan global.
"Teknologi hanyalah alat. Nilai tambahnya muncul ketika inovasi dipadukan dengan strategi bisnis yang tepat," tegasnya.
Dalam buku terbarunya bertajuk 'Technopreneurship: Teori, Aplikasi, dan Implementasi dalam Bisnis Berbasis Teknologi', Prof Achmad membongkar rahasia langkah demi langkah membangun bisnis teknologi.
Mulai dari merumuskan ide yang lahir dari masalah nyata, menyusun perencanaan usaha yang matang, hingga menganalisis risiko di dunia digital yang bergerak cepat. Sebagai akademisi sekaligus praktisi, Prof Achmad memadukan teori dan praktik secara seimbang.
Dengan bahasa yang runtut, pendekatan sistematis, dan isi yang mendalam, pembaca diajak memahami bahwa strategi pemasaran digital dan branding bukan sekadar trend, tapi kunci bertahan di pasar yang kian kompetitif.
Indonesia, dengan populasi besar dan penetrasi internet yang terus meningkat, menurut Prof Achmad, memiliki potensi ekonomi digital yang luar biasa. Namun potensi itu hanya bisa direalisasikan jika ada technopreneur visioner yang mampu berpikir strategis dan berinovasi.
"Kita tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi. Kita harus mampu menjadi pencipta inovasi yang memberi manfaat luas bagi masyarakat," tegas Prof Achmad.










































