Kekacauan di Bandara Teluk, Turis China Terjebak di Bandara-Bentuk Grup Bantuan
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Kekacauan di Bandara Teluk, Turis China Terjebak di Bandara-Bentuk Grup Bantuan

Femi Diah - detikTravel
Senin, 02 Mar 2026 08:37 WIB
Ilustrasi Bandara Kuwait
Ilustrasi Bandara Kuwait (Getty Images/urbazon)
Jakarta -

Serangan udara besar-besaran ke Iran dan serangan balasan yang menyusul membuat ribuan wisatawan terjebak di berbagai bandara Timur Tengah. Di antara mereka, puluhan turis China tak bisa pulang.

Dikutip dari Global Times, Senin (2/3/2026), turis-turis China itu menghadapi pembatalan penerbangan mendadak, ledakan di sekitar bandara, hingga ketidakpastian kapan bisa pulang. Mereka adalah wisatawan yang sedang transit di Kuwait, Dubai, atau Bahrain.

Seorang penumpang di Bandara Internasional Kuwait mengatakan mendengar suara seperti ledakan dari ruang keberangkatan sebelah pada Sabtu (28/2) malam. Tak lama kemudian, petugas meminta penumpang menunggu pengaturan hotel sebelum dipindahkan ke penginapan dekat bandara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Otoritas Kuwait mengonfirmasi bahwa bandara utama negara itu diserang drone hingga menyebabkan beberapa pegawai luka ringan dan kerusakan terbatas pada Terminal 1.

ADVERTISEMENT

Seorang turis China bermarga Wu mengatakan serangan terutama berdampak pada Terminal 1 dan 2 di bandara itu. Lebih dari 20 warga China kemudian membentuk grup bantuan bersama untuk saling berbagi informasi.

"Kami semua ditempatkan di hotel di area bandara dan belum masuk ke wilayah Kuwait," ujar Wu.

Sementara itu, seorang turis China bermarga Chen, yang terjebak bersama keluarganya di Bandara Internasional Dubai, mengatakan mereka telah memesan ulang penerbangan untuk 2 Maret malam. Namun, keberangkatan masih bergantung pada pembukaan kembali wilayah udara.

"Kalau tidak dibuka, kami harus terus menunggu," kata dia.

Di Bahrain, sejumlah warga China yang transit juga menerima pemberitahuan pembatalan penerbangan pada Senin dan Selasa. Seorang penumpang yang hendak menuju Shanghai mengatakan tidak tersedia penerbangan hingga 8 Maret.

"Selain Gulf Air, hampir tidak ada maskapai lain yang terbang ke China. Dalam situasi seperti ini sangat sulit membeli tiket," ujar dia.

Data penerbangan menunjukkan ribuan jadwal dibatalkan di kawasan tersebut. Antara 1 hingga 8 Maret, lebih dari 16.000 penerbangan terkait Timur Tengah tercatat dibatalkan, termasuk ratusan penerbangan antara China dan kawasan Teluk.

Serangan As-Israel ke Iran itu juga memukul industri perjalanan China. Sejumlah platform perjalanan daring meluncurkan kebijakan darurat, termasuk jaminan pembatalan hotel dan perubahan jadwal.

Sementara itu, perusahaan tur besar menghentikan sementara keberangkatan rombongan baru ke Timur Tengah dan berupaya memulangkan wisatawan yang masih berada di kawasan terdampak.

Otoritas penerbangan di kawasan Teluk mengimbau penumpang untuk terus memantau pembaruan dari maskapai, karena situasi keamanan dan jadwal penerbangan masih berubah cepat.




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads