Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) memastikan menanggung akomodasi penumpang yang gagal terbang akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Jumlah penumpang mencapai 20.200 orang.
Otoritas setempat memastikan para penumpang bebas dari biaya tambahan. Pernyataan itu disampaikan oleh General Civil Aviation Authority (GCAA).
Mengutip Euronews, Selasa (3/3/2026), banyak di antara penumpang itu harus check out dari hotel, tetapi tidak bisa pulang karena situasi di luar kendali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Abu Dhabi, Department of Culture and Tourism Abu Dhabi (DCT Abu Dhabi) meminta hotel memperpanjang masa inap para tamu.
"Mengingat keadaan saat ini dan mengingat bahwa beberapa tamu telah mencapai tanggal check-out mereka tetapi tidak dapat melakukan perjalanan karena alasan di luar kendali mereka, Anda dimohon untuk memperpanjang masa inap mereka sampai mereka dapat berangkat," demikian isi surat edarannya.
"Biaya perpanjangan masa inap akan ditanggung oleh DCT Abu Dhabi," pernyataan ditambahkan.
Langkah serupa diambil Department of Economy and Tourism Dubai (DET). Otoritas pariwisata Dubai itu meminta hotel menawarkan opsi perpanjangan masa inap dengan kondisi yang sama seperti pemesanan awal. Jika ada tamu yang tidak mampu membayar, pihak hotel diminta segera melapor ke DET.
Penutupan wilayah udara membuat sejumlah bandara utama berhenti beroperasi. Dubai Airports menangguhkan seluruh penerbangan dari Dubai International Airport (DXB) dan Al Maktoum International Airport (DWC) hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Di Abu Dhabi, Zayed International Airport juga menghentikan operasionalnya setelah insiden jatuhnya puing akibat pencegatan drone yang menewaskan satu orang dan melukai tujuh lainnya.
Sejumlah maskapai ikut menyesuaikan jadwal. Etihad Airways menangguhkan penerbangan hingga Selasa pukul 14.00 waktu setempat, sementara Emirates menghentikan layanan hingga pukul 15.00 waktu setempat di hari yang sama.
Dampaknya meluas ke negara Teluk lain. Hamad International Airport di Qatar menghentikan seluruh operasional dan meminta penumpang tidak datang ke bandara. Qatar Airways menyatakan pembaruan informasi akan disampaikan pada 3 Maret pukul 09.00 waktu setempat.
Kuwait juga menutup wilayah udaranya setelah Terminal 1 Kuwait International Airport terdampak serangan drone pada 28 Februari yang melukai sembilan pekerja. Otoritas setempat menyatakan penilaian kerusakan masih dilakukan untuk memulihkan operasional secepat mungkin.
Sementara itu, Oman Air dan Saudia juga membatalkan sejumlah penerbangan ke dan dari kota-kota di kawasan hingga 2 Maret. Dengan bandara tutup dan penerbangan dihentikan, ribuan penumpang kini hanya bisa menunggu kepastian jadwal berikutnya.
Arab Saudi mengambil langkah serupa, memberikan akomodasi gratis buat para penumpang yang gagal terbang.
(upd/fem)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5