Konflik di Timur Tengah kembali meningkat menyusul ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran. Ini fakta-fakta dan dampaknya bagi perekonomian global:
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi perhatian dunia setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Selat ini merupakan jalur laut strategis yang selama ini menjadi nadi perdagangan minyak global.
Melansir Reuters, Selasa (3/3/2026), pejabat senior Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan bahwa Iran akan menutup Selat Hormuz dan menembaki kapal-kapal yang mencoba lewat. Kebijakan ini bertujuan sebagai langkah untuk mencekik seperlima dari aliran minyak global dan membuat harga minyak mentah naik drastis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penutupan Selat Hormuz dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2) yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump. Serangan itu berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khameini dan membuat negara itu mau 'balas dendam'.
Baca juga: Hening Burj Khalifa |
Melansir The Week, Selasa (3/3), Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu "chokepoint" energi paling penting di dunia. Setiap hari, sekitar 15 juta barel minyak mentah dari negara-negara Teluk melintas melalui jalur ini menuju pasar internasional, terutama Asia.
Sejumlah jalur pelayaran besar dunia seperti Mediterania, Hapag-Lloyd, CMA CGM, dan Maersk telah menghentikan operasi di wilayah tersebut. Diinformasikan bahwa sekitar 170 kapal kontainer ikut terperangkap di Teluk setelah penutupan kawasan Selat.
Dampak Ditutupnya Selat Hormuz
Ditutupnya Selat Hormuz secara otomatis menambah tekanan dan memperketat rantai pasokan minyak global lebih lanjut. Pasar keuangan langsung bereaksi ketika situasi memanas.
Harga minyak melonjak, minyak mentah Brent naik sebanyak 13 persen pada awal perdagangan mencapai $82 (sekitar Rp 1,4 juta) per barel. Harga ini menunjukan kenaikan tertinggi selama 14 bulan terakhir.
Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 8 persen menjadi $72 (sekitar Rp 1,2 Juta) per barel. Pasar saham di Asia juga ikut terdampak. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 2,4 persen, dan pasar saham Australia, S&P/ASX 200, dibuka melemah.
Di sisi lain, harga emas naik karena investor mencari aset yang dianggap lebih aman. Para analis memperingatkan, jika krisis terus berlanjut, harga minyak bisa menembus $100 dolar (sekitar Rp 1,6 juta) per barel. Jika itu terjadi, harga bahan bakar di berbagai negara akan ikut naik dan mendorong inflasi.
Saat Selat Hormuz ditutup, ekonomi Iran sendiri juga merugi. Ekspor minyak Iran sekitar 1,6 juta barel per hari sangat bergantung pada jalur ini, dan sebagian besar dikirim ke China.
Pendapatan dari minyak masih menjadi sumber utama pemasukan negara Iran, terutama di tengah tekanan sanksi internasional. Jika penutupan berlangsung lama, kondisi keuangan Iran bisa semakin tertekan, apalagi di tengah ketegangan militer dan politik.
Fakta-fakta Selat Hormuz yang Wajib Kamu Tahu:
1. Jalur Penting Bagi Minyak Global
Selat Hormuz menjadi salah satu jalur laut paling strategis di dunia karena menjadi pintu utama pengiriman minyak mentah dan gas dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Sekitar 15 juta barel minyak mentah melintasi selat ini setiap hari, yang mencapai lebih dari 20 persen aliran minyak mentah global via jalur laut.
Selain minyak, selat ini juga menjadi rute penting bagi ekspor gas alam cair (LNG) dari negara-negara seperti Qatar, yang menyumbang bagian signifikan dari pasokan energi global.
2. Letaknya Sempit dan Rentan
Secara geografis, Selat Hormuz sangat sempit, dengan lebar hanya sekitar 30-50 km di titik terkecilnya dan jalur pelayaran yang lebih sempit lagi untuk kapal masuk dan keluar.
Konfigurasi ini membuatnya mudah menjadi "bottleneck" atau titik penyumbat untuk transit laut global. Kondisi geografisnya yang sempit ini membuat Selat Hormuz rentan terhadap gangguan militer.
3. Pasokan Minyak Negara-negara Besar
Sebagian besar minyak yang lewat Selat Hormuz sebenarnya berasal dari eksportir utama di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Qatar, lalu sebagian besar dikirim ke negara-negara besar di Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Banyak negara bergantung pada rute ini sebagai jalur utama untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Gangguan berkepanjangan dapat memicu lonjakan harga minyak dan gas yang signifikan dan menekan inflasi global.
4. Berada di Antara Dua Negara Strategis
Selat Hormuz secara geografis terletak di antara Iran di bagian utara dan Oman di bagian selatan, menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia.
Posisi ini menjadikan Selat Hormuz sebagai gerbang keluar-masuk utama kapal dagang dari kawasan Teluk. Ditutupnya kawasan ini menimbulkan gangguan bagi rute kapal-kapal yang lewat.
5. Diatur Hukum Laut Internasional
Selat Hormuz termasuk dalam perairan internasional yang dilindungi oleh prinsip hukum laut internasional, khususnya yang tercantum dalam Konvensi Hukum Laut PBB United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).
Melansir Rabdan Security & Defence Institute, Selasa (3/3), meski dibatasi oleh negara-negara pantai, hukum ini menjamin hak lintas damai (right of transit passage) bagi kapal-kapal komersial dari berbagai negara yang memberi kebebasan cukup luas bagi kapal untuk melewati jalur tersebut.
Meski diatur sebagai jalur perairan internasional, wilayah perairannya tetap berada di bawah kedaulatan dua negara yaitu Iran dan Oman. Sehingga secara hukum internasional kapal-kapal boleh melintasinya, namun wilayah lautnya tetap berada dalam yurisdiksi kedua negara tersebut.
Simak Video "Video Iran: Selat Hormuz Ditutup, Yang Melewatinya Akan Dihancurkan"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi
Terkuak! WNA Punya Lahan di Proyek Akomodasi Wisata, Caranya Pinjam Identitas Warlok
Penundaan Massal di Bandara-bandara AS, Ada Apa?