Pariwisata Timur Tengah yang menghasilkan sekitar 367 miliar USD (Rp 6.203 triliun) per tahun, kini menghadapi dampak serius akibat eskalasi konflik antara pasukan AS-Israel dan Iran. Reputasi kawasan liburan mewah dan aman terancam.
Penerbangan dari bandara utama di wilayah tersebut, termasuk Dubai yang bandara internasional tersibuk di dunia terpaksa dihentikan, menyebabkan puluhan ribu penumpang terdampar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari Reuters, Rabu (4/3/2026) inilah yang menjadi salah satu krisis terbesar dalam dunia penerbangan sejak pandemi COVID-19. Bahkan, hotel-hotel ikonik seperti Burj Al Arab mengalami kerusakan, memicu kekhawatiran di kalangan wisatawan internasional yang menghabiskan sekitar 194 miliar USD (Rp 3.282,67 triliun) di wilayah ini pada tahun lalu.
Menurut data AirDNA, pembatalan pemesanan liburan di Uni Emirat Arab (UEA) meningkat drastis, dengan lebih dari 8.450 pembatalan pada hari Sabtu setelah serangan pertama. Sebagian besar pembatalan terjadi untuk masa inap yang dijadwalkan pada bulan Maret.
CEO Ryanair, Michael O'Leary, mengatakan pihaknya mengalami penurunan yang begitu signifikan untuk rute ke wilayah Timur Tengah dan beralih ke negara-negara yang secara jarak lebih dekat.
"Kami melihat penurunan tajam dalam pemesanan tiket ke Timur Tengah. Dampak ini telah mendorong lonjakan permintaan penerbangan jarak pendek ke destinasi seperti Portugal, Italia, dan Yunani menjelang liburan Paskah," kata O'Leary.
Namun, ia optimistis kawasan Timur Tengah akan segera pulih.
"Timur Tengah selalu pulih dari ketidakstabilan. Saya rasa ini tidak akan berlangsung lama dan tidak akan mempengaruhi tren jangka panjang," dia menambahkan.
Potensi Kerugian Bisa Mencapai 56 Miliar USD
Menurut perusahaan konsultan Tourism Economics, diperkirakan jumlah wisatawan yang datang ke Timur Tengah tahun ini akan menurun antara 23 juta hingga 38 juta orang, tergantung pada durasi konflik.
Kondisi itu berpotensi menyebabkan kerugian ekonomi hingga 56 miliar USD (Rp 946,62 triliun) sebagai buntut berkurangnya pengeluaran para wisatawan.
Kepala divisi TUI, Benjamin Jacobi, mengatakan bahwa para pemesan berharap situasi akan segera membaik, meskipun belum ada tanda-tanda itu.
Dia menambahkan bahwa harga penerbangan antara Asia dan Eropa melonjak akibat penutupan pusat-pusat penerbangan di Timur Tengah, dengan orang-orang mencari alternatif perjalanan.
"Permintaan pasti akan menurun, tapi itu sangat tergantung pada bagaimana konflik ini berkembang. Kami melihat pergeseran minat wisatawan, dengan banyak yang memilih destinasi Mediterania barat," kata dia.
(upd/fem)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5