Terdampak Konflik, Bandara Tersibuk di Dunia Amsyong Rp 16 M per Menit

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Terdampak Konflik, Bandara Tersibuk di Dunia Amsyong Rp 16 M per Menit

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Jumat, 06 Mar 2026 09:07 WIB
Dubai, United Arab Emirates - March 29, 2019: General view of Dubai International Airport Terminal 3 in Dubai, United Arab Emirates. It is the worlds busiest airport by international passenger traffic.
Bandara Internasional Dubai. (iStock)
Jakarta -

Penutupan lebih dari 48 jam di Bandara Internasional Dubai (DXB) dan Dubai World Central (DWC) diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi hingga 1 juta USD (Rp 16 miliar) per menit.

Industri memperkirakan penutupan seperti ini bisa menelan biaya hingga 1 juta USD per menit. Melansir Business Now, Jumat (6/3/2026) Dubai Airports mengonfirmasi pada Senin (2/3), bahwa sejumlah penerbangan terbatas mulai diizinkan beroperasi kembali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelumnya, seluruh penerbangan dihentikan pada Sabtu (28/2), menyusul penutupan wilayah udara Uni Emirat Arab akibat meningkatnya ketegangan regional, termasuk serangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, serta aksi balasan di beberapa bagian Teluk.

Dalam sebuah pernyataan tertulis, Dubai Airports menyebutkan bahwa pihak berwenang mulai memulihkan layanan dan memungkinkan sejumlah kecil penerbangan kembali beroperasi. Beberapa maskapai menyatakan operasional akan dilakukan secara bertahap, sementara Emirates dan Flydubai menyebut jadwal reguler sebagian besar tetap ditangguhkan hingga setidaknya pukul 15.00 pada Selasa (3/3).

ADVERTISEMENT

Gangguan itu mengingatkan pada potensi kerugian ekonomi besar akibat penutupan bandara. Kepala Keselamatan Ruang Udara di Otoritas Penerbangan Sipil Dubai, Michael Rudolph, memperkirakan dalam laporan 2019 bahwa penutupan Bandara Internasional Dubai dapat menelan biaya sekitar 1 juta USD per menit.

"Angka ini mencakup pembatalan dan pengalihan penerbangan, hilangnya biaya pendaratan dan penanganan, gangguan logistik kargo, pengeluaran penumpang yang hilang, serta dampak pada pariwisata dan perhotelan," tulis laporan tersebut.

Sementara itu, Direktur Departemen Kesesuaian di Otoritas Standarisasi dan Meteorologi UEA, Eisa Al Hashmi, memperkirakan biaya yang lebih rendah, sekitar 95.336 USD (Rp 1,6 miliar) per menit.




(upd/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads