Kementerian Luar Negeri Inggris (FCDO) memperbarui panduan perjalanan bagi warga negaranya yang berada atau hendak bepergian ke Uni Emirat Arab (UEA), termasuk Dubai dan Abu Dhabi yang menjadi tujuan wisata populer bagi turis Inggris.
Dalam pembaruan tersebut, FCDO meminta wisatawan untuk memantau perkembangan terbaru dari maskapai penerbangan, operator tur, serta otoritas setempat sebelum melakukan perjalanan.
"Periksa pembaruan terbaru dari maskapai penerbangan atau operator tur Anda, serta instruksi dari otoritas setempat, dan status perbatasan sebelum Anda bepergian. Jika Anda bepergian dengan pesawat, jangan pergi ke bandara kecuali maskapai penerbangan Anda telah mengkonfirmasi reservasi Anda," bunyi imbauan itu dilansir dari Birmingham Live, Jumat (6/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, otoritas Inggris juga mengingatkan warganya untuk memastikan memiliki akses terhadap dua hal penting yakni persediaan darurat dan obat-obatan yang penting.
"Pastikan Anda memiliki akses ke persediaan darurat dan obat-obatan penting. Perjalanan di dalam atau keluar dari UEA adalah risiko Anda sendiri," lanjut mereka.
FCDO juga meminta wisatawan untuk terus meninjau rencana perjalanan mereka dan memastikan seluruh dokumen perjalanan masih berlaku.
"Terus tinjau rencana keberangkatan Anda dan pastikan dokumen perjalanan Anda mutakhir, termasuk visa yang diperlukan untuk perjalanan selanjutnya," sebut FCDO.
Pembaruan panduan tersebut muncul di tengah gangguan besar pada perjalanan udara di kawasan Timur Tengah sejak Sabtu lalu. Ribuan penerbangan dilaporkan dibatalkan seiring meningkatnya ketegangan akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Situasi tersebut turut dialami sejumlah wisatawan Inggris yang tertahan di Dubai. Salah satunya pasangan suami istri bersama anak perempuan mereka yang berusia tiga tahun.
Mereka akhirnya berhasil kembali ke Inggris menggunakan penerbangan Emirates EK8001 yang mendarat di Bandara Heathrow, setelah keberangkatan dari Dubai sempat tertunda. Warga Barnet di London Utara, Ourania Righelato, menceritakan ketidakpastian yang mereka alami selama menunggu kepulangan.
"Kami tidak tahu kapan kami akan pulang. Keluarga kami menonton media arus utama dan mereka sangat ketakutan," ungkap Ourania.
Ia mengatakan selama menunggu penerbangan, keluarganya sempat menginap di sebuah klub malam yang sudah tidak digunakan. "Kami tidur di sebuah klub malam yang terbengkalai dengan tempat tidur yang disatukan. Dan kami membawa seorang anak kecil, putri kami, yang berusia tiga tahun. Kami sama sekali tidak tahu kapan kami akan pulang," ia melanjutkan.
Ourania menambahkan bahwa pada malam pertama mereka bahkan harus tidur di teras karena hotel belum siap menampung mereka.
(upd/ddn)












































Komentar Terbanyak
Bule Rusia Hajar Warga Banyuwangi gegara Sound Horeg, Korban Tempuh Jalur Hukum
Saat Gibran Ikut Memikul Salib Paskah di Kupang
Kedubes Korea Selatan Minta Warganya Hati-hati Liburan di Bali