Akademisi: Konflik Timur Tengah Ganggu Industri Pariwisata Global

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Akademisi: Konflik Timur Tengah Ganggu Industri Pariwisata Global

Wahyu Setyo Widodo - detikTravel
Sabtu, 07 Mar 2026 21:11 WIB
Ilustrasi Konflik Iran dan Amerika Serikat
Ilustrasi (EduRaw/Pexels)
Purwokerto -

Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Muhammad Yamin menilai konflik Timur Tengah sangat mengganggu industri pariwisata global.

Penutupan ruang udara akibat faktor keamanan berakibat terganggunya konektivitas penerbangan internasional, baik dari Eropa ke Asia dengan Timur Tengah sebagai hub transit dan sebaliknya.

"Penutupan ruang udara di sejumlah negara Timur Tengah membuat jaringan penerbangan global mengalami gangguan signifikan, karena kawasan tersebut selama ini menjadi jalur transit utama penerbangan internasional," kata dia di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (7/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, kawasan Timur Tengah selama dua dekade terakhir berkembang menjadi pusat konektivitas penerbangan dunia dengan keberadaan sejumlah bandara hub utama yang menghubungkan rute dari dan ke benua Eropa, Asia, Afrika, bahkan hingga ke Amerika.

Bahkan, bandara internasional di kawasan Timur Tengah seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi selama ini menjadi simpul transit bagi puluhan ribu penumpang setiap hari melalui maskapai besar seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways.

ADVERTISEMENT

Ketika ruang udara di sejumlah negara seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Irak, Kuwait, dan Yordania ditutup secara bersamaan, dampaknya tidak hanya dirasakan secara regional tetapi juga memengaruhi mobilitas global.

"Banyak penerbangan internasional yang dibatalkan atau dialihkan. Ribuan penumpang terlantar di berbagai bandara karena rute transit melalui kawasan Teluk tidak dapat dilanjutkan," katanya menegaskan.

Lebih lanjut, dia mengatakan gangguan tersebut juga berdampak pada destinasi wisata di berbagai negara, termasuk Indonesia yang selama ini bergantung pada konektivitas penerbangan internasional melalui hub di Timur Tengah.

Ia mencontohkan sejumlah penerbangan internasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, sempat dibatalkan akibat terganggunya rute menuju Dubai, Abu Dhabi, dan Doha.

Menurut dia, pembatalan penerbangan tersebut menyebabkan ribuan calon penumpang terdampak dan sebagian wisatawan asing yang sedang berlibur di Bali harus mencari alternatif penerbangan untuk kembali ke negara asal.

"Ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik yang terjadi jauh dari Indonesia tetap dapat memberikan efek domino terhadap sektor pariwisata nasional," katanya.

Selain gangguan penerbangan, ia menilai konflik di Timur Tengah juga berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada meningkatnya biaya operasional maskapai penerbangan.

Menurut dia, kenaikan biaya tersebut pada akhirnya dapat memicu peningkatan harga tiket pesawat yang berpotensi menurunkan minat wisatawan untuk melakukan perjalanan jarak jauh.

"Wisatawan leisure biasanya sangat sensitif terhadap harga. Ketika harga tiket meningkat, mereka cenderung menunda perjalanan atau memilih destinasi yang lebih dekat," katanya.

Ia mengatakan dampak konflik juga dapat dirasakan pada sektor pariwisata bisnis seperti kegiatan meeting, incentive, conference, and exhibition (MICE) yang sangat bergantung pada konektivitas penerbangan internasional.

Menurut dia, kondisi tersebut seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan sektor pariwisata melalui diversifikasi rute penerbangan internasional dan perluasan pasar wisatawan.

"Ketergantungan pada rute transit tertentu perlu dikurangi dengan memperkuat konektivitas langsung ke pasar utama serta memperluas pasar wisatawan dari kawasan Asia dan Asia Tenggara," katanya.

Ia menilai industri pariwisata global pada dasarnya memiliki daya lenting yang kuat karena telah melewati berbagai krisis sebelumnya, mulai dari serangan 11 September 2001 hingga pandemi COVID-19. Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa stabilitas geopolitik tetap menjadi faktor penting bagi keberlanjutan sektor pariwisata.

"Industri pariwisata sangat bergantung pada stabilitas dan konektivitas global. Ketika konflik menutup jalur penerbangan internasional, dampaknya langsung dirasakan oleh ekosistem pariwisata di berbagai negara," kata Yamin.




(wsw/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads