Gorontalo dikenal sebagai Serambi Madinah, hal ini karena Gorontalo pernah menjadi pusat penyebaran agama Islam di Teluk Tomini dan Laut Sulawesi pada abad ke-16, masyarakat Gorontalo mayoritas beragama Islam.
Masyarakat Gorontalo mengenal ungkapan 'Adat bersendikan syara' dan syara' bersendikan Kitabullah'. Arti ungkapan ini bahwa adat dilaksanakan berdasarkan sara (aturan), sedangkan aturan ini haruslah berdasarkan Al-Quran.
Masyarakat Gorontalo beranggapan bahwa mereka tidak dapat terpisah dengan agama yang dianutnya serta adat istiadat mereka. Masyarakat Gorontalo menjunjung tinggi adat, budaya dan Islam, masyarakatnya terbuka, ramah, religius, modern dan demokratis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asal usul nama Gorontalo terdapat berbagai versi, salah satunya yaitu pada zaman dulu daerah ini berupa bukit-bukit yang tergenang air, dalam bahasa setempat disebut huntu (bukit) langi-langi (yang tergenang) disingkat Hulontalo atau arti lainnya lembah mulia yang terletak di bagian selatan Gunung Tilongkabila, oleh orang Belanda, karena mereka sulit mengucapkan Hulontalo, maka disebut Horontalo ditulis Gorontalo.
Gorontalo telah mencanangkan program wisata halal sejak tahun 2017, sebagai destinasi wisata halal (halal tourism) setelah Lombok, sehingga diharapkan mampu menarik wisatawan domestik dan internasional, khususnya Timur Tengah.
Setiap tahun, Kota Gorontalo rutin mengadakan Halal Festival untuk mendukung pelaku UMKM agar segera mengantongi sertifikat halal. Desa Wisata Religi Bubohu Bongo berlokasi di Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo Desa ini terpilih sebagai salah satu dari 50 desa wisata terbaik ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Di desa tersebut ada pesantren alam sebagai tempat untuk mempelajari agama Islam. Selain itu, di kawasan ini juga ada Masjid Walima Emas Bubohu.
Selain itu, budaya lokal seperti mandi safar Atinggola telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Tradisi ini dilakukan setiap bulan Safar dan bermakna untuk membuang sial serta membersihkan diri dari segala dosa.
Budaya Gorontalo lainnya yang telah ditetapkan sebagai WBTb Indonesia yaitu upiya karanji (songkok dari alang-alang mintu), dikenal juga sebagai peci Gus Dur karena sering dipakai oleh KH Abdurrahman Wahid, mohuntingo (gunting rambut bayi / aqiqah), tumbilotohe (pasang lampu minyak jelang Idul Fitri), dikili (tradisi perayaan maulid Nabi Muhammad SAW), meeraji (tradisi perayaan Isra Mi'raj), wunungo (syair nasihat keagamaan).
Keanekaragaman kuliner khas Gorontalo juga menjadi daya tarik wisata halal antara lain binte biluhuta, ayam iloni, sate tindarung (ikan marlin), olahan ikan sagela, perkedel nike, bilenthango, sayur putungo, dan ilabulo.
---
Hari Suroto
Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVII Sulawesi Utara
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Kalau Budget Bukan Jadi Masalah, Mau Liburan ke Mana?
Hotel-hotel Mewah Dubai Meratap, Jual Kemewahan dengan Diskon 50%
Presiden Jerman Mau ke RI, Bertemu Prabowo dan Susuri Terowongan Silaturahmi