Mari mengenal upiah karanji, songkok khas dari kota Serambi Madinah, Gorontalo. Kopiah ini sangat identik dengan Gus Dur, bahkan disebut Kopiah Gus Dur!
Upiah karanji atau kopiah keranjang telah dijadikan identitas khas orang Gorontalo, sehingga sangat mudah dikenali saat bepergian, terutama ketika digunakan saat beribadah ke tanah suci Makkah, Arab Saudi.
Upiah karanji telah dijadikan oleh-oleh traveler yang berkunjung ke Gorontalo. Pada 2019, upiah karanji atau kopiah keranjang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Upiah karanji terbuat dari anyaman sejenis paku hata (Lygodium circinatum) yang dalam bahasa Gorontalo dikenal dengan pohon mintu.
Tradisi masyarakat Gorontalo, sering mengenakan upiah karanji saat perayaan hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad, Tahun Baru Islam, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Upiah karanji sudah ada sejak abad ke-17. Kopiah keranjang ini kerap digunakan oleh Sultan Eyato yang memimpin Kesultanan Gorontalo dan berperan besar dalam islamisasi Gorontalo.
Presiden Abdurrahman Wahid juga dikenal sangat menyukai upiah karanji, Gus Dur terlihat mengenakan upiah karanji dalam berbagai kesempatan.
Lukisan Gus Dur mengenakan Upiah Karanji Foto: Lamhot Aritonang |
Lama kelamaan, upiah karanji populer disebut kopiah Gus Dur, sehingga permintaan kopiah ini di kalangan santri dan berbagai pesantren di Indonesia terus meningkat.
Ternyata bukan hanya Gus Dur saja yang menggemari kopiah ini. Songkok khas ini juga sering digunakan oleh Sandiaga Uno, Menparekraf di kabinet Indonesia Maju era Presiden Jokowi.
Pembuatan satu upiah karanji bisa memakan waktu tiga hari. Sehingga dalam sebulan, pengrajin hanya bisa membuat delapan buah kopiah saja.
Proses pembuatan upiah karanji dimulai dengan mencari mintu. Dibutuhkan 15 hingga 20 potongan mintu dengan panjang dua meter untuk pembuatan satu kopiah.
Mintu kemudian dibelah menjadi empat bagian, kemudian dijemur selama enam jam untuk mengeringkan atau menghilangkan kadar air pada batang.
Selanjutnya mintu yang telah kering diserut dan dianyam dengan ketelitian tinggi menjadi upiah karanji. Bentuk upiah karanji bervariasi, ada yang berbentuk konvensional ada pula yang berbentuk bulat.
-------
Artikel ini ditulis Hari Suroto. Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan XVII Sulawesi Utara.
(wsw/wsw)













































Komentar Terbanyak
Bule Rusia Hajar Warga Banyuwangi gegara Sound Horeg, Korban Tempuh Jalur Hukum
Saat Gibran Ikut Memikul Salib Paskah di Kupang
Setuju Nggak, Orang-orang Jepang Paling Sopan?