Konflik di Timur Tengah mulai berdampak pada tren perjalanan wisatawan Eropa. Operator tur terbesar di Eropa, TUI, menyebut Spanyol berpotensi menjadi salah satu negara yang diuntungkan dari pergeseran tujuan liburan wisatawan.
Banyak dari tur operator yang membatalkan perjalanan ke destinasi populer, seperti Mesir dan Turki. Kedua negara itu sejak lama telah menjadi pesaing utama Spanyol dalam menarik wisatawan yang mencari liburan dengan cuaca cerah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip The Olive Press, Selasa (10/3/2026) Juru bicara TUI mengatakan situasi saat ini dapat mendorong minat wisatawan ke negara-negara Mediterania dalam waktu dekat.
"Dalam konteks saat ini kami dapat melihat minat yang lebih besar dalam jangka pendek terhadap destinasi Mediterania seperti Spanyol, Portugal, dan Italia," kata juru bicara itu.
Nada yang sama juga disampaikan CEO TUI, Sebastian Ebel. Ia membahas kemungkinan pergeseran tujuan wisata tersebut saat bertemu para pemilik hotel di Mallorca dalam sebuah pameran pariwisata besar di Jerman, Kamis lalu.
Di sisi lain, agen perjalanan daring juga mencatat peningkatan pembatalan perjalanan. Juru bicara agen online Destinia mengatakan permintaan pembatalan meningkat cukup signifikan, terutama untuk tujuan di kawasan Timur Tengah.
"Permintaan pembatalan meningkat secara signifikan, terutama untuk destinasi seperti Mesir, Yordania, atau Dubai," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa di banyak kasus aktivitas pariwisata di destinasi tersebut sebenarnya masih berjalan normal. Namun kekhawatiran wisatawan tetap memengaruhi keputusan mereka.
"Meskipun dalam banyak kasus semuanya masih beroperasi secara normal, rasa takut memengaruhi keputusan untuk bepergian ke sana," kata dia.
Menurut juru bicara itu, kekhawatiran juga mulai muncul pada rencana perjalanan yang dijadwalkan beberapa bulan ke depan. Namun untuk saat ini, pihaknya masih menyarankan wisatawan menunggu perkembangan situasi.
Mesir dan Turki selama ini menjadi dua negara utama di kawasan yang bersaing langsung dengan Spanyol dalam menarik wisatawan yang mencari liburan musim panas.
Seorang pemilik hotel di Kepulauan Canary mengatakan bahwa ia memperkirakan akan ada pergeseran wisatawan ke wilayah tersebut dalam beberapa pekan mendatang.
"Ini tidak akan terjadi secara besar-besaran, tetapi akan ada wisatawan Jerman dan Inggris yang memilih destinasi alternatif yang lebih aman seperti Kepulauan Canary, meskipun harga rata-ratanya bisa tiga kali lebih mahal dibandingkan Mesir atau Turki," kata dia.
Ia juga menilai tidak menutup kemungkinan sebagian wisatawan memilih tetap berlibur di negara asal mereka jika cuaca musim panas cukup baik. Sementara itu, laporan dari perusahaan intelijen pariwisata Mabrian yang meneliti lima pasar wisata utama di Inggris, Jerman, Prancis, Italia, dan Amerika Serikat, menunjukkan adanya kecenderungan wisatawan mengalihkan tujuan perjalanan dari Timur Tengah ke negara lain, termasuk Spanyol.
Direktur Pemasaran dan Komunikasi Mabrian, Carlos Cendra, mengatakan tren tersebut menunjukkan kecenderungan wisatawan untuk memilih destinasi yang lebih dekat dengan negara asal mereka.
"Banyak indikator menunjukkan kecenderungan yang semakin kuat untuk memilih tujuan yang lebih dekat dengan rumah," ujar Cendra.
Ia menambahkan bahwa wisatawan Jerman kini mulai memprioritaskan destinasi seperti Maroko dan Yunani. Sementara wisatawan Italia menunjukkan minat yang meningkat ke Kroasia, Republik Ceko, Norwegia, dan Spanyol.
"Wisatawan Inggris menunjukkan pola yang sama, dengan Malta, Maroko, dan Montenegro mulai muncul sebagai pilihan alternatif," kata Cendra.
(upd/fem)












































Komentar Terbanyak
Adzan Menggema di London, Ini Sudut Paling Menggetarkan Hati Muslim di Whitechapel
3 Hari Festival Songkran, 95 Orang Meninggal
Kibarkan Bendera Bizantium di Hagia Sophia, 2 Turis Ditangkap