Imbas Konflik Timur Tengah, Pelaku Pariwisata Thailand Pesimis Bisa Pulih Cepat

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Imbas Konflik Timur Tengah, Pelaku Pariwisata Thailand Pesimis Bisa Pulih Cepat

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Rabu, 11 Mar 2026 13:48 WIB
Tourists are seen in Bangkoks Chinatown, Thailand, May 16, 2025. REUTERS/Athit Perawongmetha     TPX IMAGES OF THE DAY
Ilustrasi wisatawan di Thailand. (Athit Perawongmetha/Reuters)
Jakarta -

Industri pariwisata Thailand terdampak signifikan akibat konflik di Timur Tengah. Penutupan wilayah udara membuat jumlah kedatangan wisatawan asing tercatat menurun 13% dalam satu minggu terakhir.

Asosiasi Agen Perjalanan Thailand (Atta) memperingatkan jika kondisi itu berlanjut, jumlah wisatawan dari pasar jarak jauh bisa turun hingga 50% sepanjang tahun.

"Kita telah melihat sekilas selama pekan lalu tentang apa yang bisa terjadi pada pariwisata Thailand jika koneksi penerbangan di wilayah Teluk terganggu dan harga bahan bakar melonjak, seperti yang sempat terjadi pada hari Senin," ujar Sekretaris Jenderal Kehormatan Atta, Adith Chairattananon, seperti yang dikutip dari Bangkok Post, Rabu (11/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pasar perjalanan jarak jauh yang biasanya menyumbang sekitar 10 juta pengunjung, menjadi salah satu penopang pariwisata pada 2025. Namun, secara keseluruhan kedatangan wisatawan asing turun lebih dari 7% dibanding tahun sebelumnya.

ADVERTISEMENT

Data Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailanad pada 1-8 Maret, mencatatkan jumlah kedatangan mingguan mencapai 616.229 wisatawan, turun 9% dibanding pekan sebelumnya. Penurunan terbesar terjadi di pasar jarak jauh, khususnya Eropa dan Timur Tengah, masing-masing turun 18%.

Wisatawan dari Jerman, Rusia, Inggris, Prancis, dan Israel paling terdampak. Dari Januari hingga 8 Maret, total kedatangan wisatawan asing tercatat 7,24 juta orang, turun 4,35% dibanding periode sama tahun lalu. China tetap menjadi pasar utama dengan 1,18 juta pengunjung, diikuti Malaysia (685.126), Rusia (566.259), India (468.340), dan Korea Selatan (343.349).

Adith menekankan meski konflik sedikit mereda, wisatawan kemungkinan tetap berhati-hati dalam pengeluaran. "Harga tiket pesawat diperkirakan tetap tinggi, terutama untuk penerbangan yang melewati pusat penerbangan di Timur Tengah," ujarnya.

Untuk mengimbangi penurunan wisatawan Eropa, Thailand bisa fokus menarik pengunjung dari Asia, khususnya wisatawan berbahasa Mandarin dan Asia Tenggara. Namun, pihaknya memprediksi pelancong Asia lebih memilih destinasi dekat atau perjalanan domestik dalam jangka pendek.

Adith juga menekankan pentingnya langkah-langkah keamanan bagi wisatawan sebagai prioritas pemerintahan baru, untuk memperkuat citra Thailand sebagai destinasi internasional yang aman. Ia menyoroti biaya pariwisata yang lebih tinggi dibanding negara tetangga, diperparah oleh nilai tukar baht yang kuat, sehingga pemerintah perlu menyiapkan strategi jangka pendek dan panjang jika pasar jarak jauh terus terdampak.

Selain itu, Adith mendukung rencana Partai Bhumjaithai untuk menggabungkan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan.

"Produk budaya dan pariwisata Thailand memiliki nilai-nilai yang dapat dipresentasikan bersama untuk menghasilkan nilai ekonomi lebih besar," kata Adith.



(upd/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads