Di Purbalingga, ada satu masjid yang berbentuk seperti candi. Ternyata, bentuk masjid yang mirip candi itu sarat akan makna.
Di tengah hamparan perbukitan Desa Mangunegara, sebuah bangunan ibadah tampil mencuri perhatian. Masjid Nusantara Watu Sanggar berdiri dengan wajah berbeda dari masjid pada umumnya.
Masjid ini catnya gelap, kokoh, dan sarat ornamen budaya Jawa. Masjid yang berlokasi di Desa Mangunegara RT 7 RW 2, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, ini belakangan viral di media sosial karena desainnya yang menyerupai bangunan candi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Takmir Masjid Nusantara Watu Sanggar, Amir Pranoto, mengungkapkan bahwa pembangunan masjid tersebut berangkat dari niat sederhana.
"Latar belakang pembangunan masjid ini ya hanya sebatas ingin membangun sesuatu yang lebih bermanfaat untuk masyarakat. Masyarakat sekitar dan masyarakat umum, khususnya yang Purbalingga dan sekitarnya," ujar Amir saat ditemui wartawan, Rabu (4/3).
Menurut dia, konsep desain masjid memang sejak awal tidak ingin dibuat seperti masjid pada umumnya. Ada pesan budaya yang ingin dihadirkan di dalam bangunan tersebut.
"Inspirasi desainnya itu berawal dari keinginan untuk membuat sesuatu yang berbeda dan mengandung unsur budaya. Karena kita mengingat kita sebagai seorang Islam dari Suku Jawa, tentunya ingin membuat sesuatu yang sesuai dengan budaya Jawa," jelasnya.
Amir menuturkan, gagasan tersebut juga lahir dari realitas keberagaman corak budaya masjid di wilayah sekitar.
"Kebetulan di daerah Mrebet ini ada masjid yang budayanya China. Nah, kita harus membuat sesuatu yang sesuai dengan budaya kita. Menjadi orang Islam yang berbudaya Jawa," katanya.
Penampakan Masjid Nusantara Watu Sanggar yang berbentuk candi di Desa Mangunegara, Purbalingga (Anang Firmansyah/detikJateng) |
Dari pemikiran itulah, wujud bangunan Masjid Nusantara Watu Sanggar dirancang menyerupai bangunan-bangunan khas Jawa kuno.
"Dari pola pikir seperti itu, kita membangun sebuah masjid yang mirip-mirip sebagai orang Jawa yang kuno, atau candi dan sebagainya," lanjut Amir.
Secara kasatmata, bentuk masjid ini kerap dibandingkan dengan bangunan candi besar di Jawa Tengah, seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
Namun Amir menegaskan, prinsip utamanya bukan meniru bangunan tertentu, melainkan mengadopsi nilai dan simbol budaya lokal Jawa. Unsur kejawaan itu tampak kuat pada sejumlah bagian bangunan.
"Unsur Jawanya itu di sini ada gunungan wayang, sebagai lambang sumber segala alam. Terus di sini ada kubahnya mirip stupa. Terasnya bentuknya seperti candi. Prinsipnya kita mengadopsi budaya lokal Jawa itu sendiri," tuturnya.
Filosofi di Balik Ornamen Masjid
Tak hanya bentuk, jumlah ornamen yang ada di masjid ini juga mengandung filosofi tersendiri.
"Jumlah gunungan wayang itu ada 25, sebagai jumlah rasul. Kemudian kubahnya yang dalam bentuk stupa itu ada sembilan, itu melambangkan Wali Songo. Lalu kubah-kubah kecil itu ada lima, Rukun Islam. Untuk terasnya itu sebagai wujud hidup dari tingkat ke tingkat," jelas Amir.
Sementara itu, nuansa berbeda justru terasa ketika jamaah melangkah ke bagian dalam masjid.
"Kalau interior di dalam itu modern klasik. Jadi kalau dilihat dari luar kesannya hitam, angker. Tapi kalau masuk ke dalam itu cerah, padang, dan elegan," katanya.
Penampakan dalam Masjid Nusantara Watu Sanggar (Anang Firmansyah/detikJateng) |
Amir memastikan, masjid tersebut kini sudah mulai difungsikan sebagai tempat ibadah. Masyarakat juga sudah bisa untuk beribadah di sini meski masih ada pembangunan di sekitar lingkungan masjid yang belum selesai.
"Sudah mulai difungsikan, sudah bisa untuk salat jamaah," ujarnya.
Meski berada di kawasan yang dikenal sebagai lingkungan wisata, Amir menegaskan Masjid Nusantara Watu Sanggar tidak dirancang sebagai destinasi wisata religi.
"Kalau masjid ini sendiri bukan wisata. Artinya untuk umum, siapa saja yang ingin salat, ingin beribadah, ya silakan. Tidak ada kaitannya dengan wisata, walaupun lingkungannya di wisata," pungkasnya.
Sementara itu, salah satu pengunjung, Waluyo (47) mengaku sengaja datang awalnya datang hanya untuk jalan-jalan. Namun, rasa penasaran muncul setelah melihat informasi tentang masjid tersebut di media sosial.
"Iya, penasaran. Tadinya sih habis jalan-jalan sekalian mampir ke sini. Cukup unik lah. Di Kabupaten Purbalingga kayaknya baru ini yang ada modelnya gini," ujar Waluyo saat ditemui.
Menurut dia, suasana masjid tersebut terasa berbeda dibanding masjid-masjid lain yang ada di wilayah Purbalingga.
"Kayaknya suasananya agak beda, lain daripada yang lain. Terutama bentuknya itu agak unik. Enggak seperti yang ada di Purbalingga," tuturnya.
Waluyo mengungkapkan, informasi mengenai masjid dengan desain menyerupai candi itu pertama kali ia lihat melalui Instagram.
"Saya dengar pertama lihat di Instagram. Akhirnya saya buka, kita lihat, oh ternyata cukup bagus. Menarik bagi kami. Jadi kami penasaran ingin melihat," katanya.
Ia menilai, meski secara visual bangunan tersebut mirip dengan candi, fungsi utamanya tetap sebagai masjid.
"Kalau candi sih secara tekstual itu seperti tempat ibadahnya orang Hindu. Tapi mungkin dalam Islam ini sebagai seni. Mungkin jiwa seni arsitekturnya yang dibuat agak unik," ucap Waluyo.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa wujud bangunan tersebut tetaplah masjid, hanya saja mengusung konsep arsitektur yang berbeda.
"Wujudnya sih tetap masjid, cuma sekadar mirip saja seperti candi. Jadi orang kan jadi semakin penasaran," pungkasnya.
--------
Artikel ini telah naik di detikJateng.
Simak Video "Video Masjid Mirip Candi di Purbalingga, Ternyata Filosofis Banget"
[Gambas:Video 20detik] (wsw/wsw)













































Komentar Terbanyak
Potret Terkini Malaysia yang Selangkah Lagi Jadi Negara Maju
Gara-gara Protes Penerbangan Delay, Warga 62 Ditahan Polisi KLIA
Ketika Perbedaan Bahasa Indonesia-Malaysia Mengundang Tawa