Geyser Echinus, geyser terbesar di dunia yang berada di Taman Nasional Yellowstone, kembali aktif sejak awal Februari 2026. Fenomena apa itu?
Geyser itu kembali aktif tepatnya sejak Sabtu (7/2/2026). Aktivitas itu cukup mengejutkan karena geyser tersebut tidak aktif sejak 2017.
Melansir Travel+Leisure, Kamis (12/3), geyser tersebut berada di kawasan Norris Geyser Basin, salah satu area geotermal paling aktif di taman nasional, yang terletak di Amerika Serikat (AS). Kawasan itu memiliki berbagai sumber air panas, geyser, dan aktivitas vulkanik bawah tanah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Geyser asam tersebut dikenal dengan nama Echinus. Nama tersebut diambil dari batuan yang mengelilingi kawah geyser dengan diameter sekitar 20 meter. Bentuk batuan di sekitarnya dianggap menyerupai landak laut, sehingga para peneliti menamainya Echinus.
Dalam bahasa Latin, kata Echinus memang berarti landak laut, merujuk pada bentuk batuan yang menjadi ciri khas geyser tersebut.
Apa itu Geyser Asam?
Melansir informasi dari National Park Service, geyser asam merupakan jenis mata air panas yang tergolong langka. Fenomena geotermal ini menyemburkan air panas dan uap dengan suhu tinggi, namun memiliki tingkat keasaman tertentu yang berbeda dari geyser pada umumnya.
Geyser Echinus di TN Yellowstone, AS (Getty Images/iStockphoto/andyjkramer) |
Air yang keluar dari geyser jenis ini biasanya memiliki tingkat keasaman rendah, tetapi tetap cukup kuat secara kimia. Bahkan, tingkat keasamannya sering kali disamakan dengan keasaman cuka, sehingga menghasilkan komposisi mineral yang unik di sekitar sumber air panas tersebut.
Karakteristik kimia yang dimilikinya juga mempengaruhi bentuk lingkungan di sekitarnya. Endapan mineral dari air panas yang kaya zat kimia dapat membentuk lapisan batuan dengan warna dan tekstur khas di sekitar geyser.
Aktivitas Echinus di Taman Nasional Yellowstone
Kembalinya aktivitas geyser ini menandai bangkitnya kembali salah satu fenomena geotermal yang dulunya cukup sering meletus di Taman Nasional Yellowstone.
Geyser Echinus di TN Yellowstone, AS (Getty Images/iStockphoto/andyjkramer) |
Pada 1970-an, Geyser Echinus diketahui sangat aktif dan dapat meletus setiap 40 hingga 80 menit. Aktivitas tersebut bahkan sempat menarik banyak wisatawan sehingga pihak taman menyediakan platform pengamatan agar pengunjung bisa menyaksikan letusannya dari dekat.
Menurut catatan Yellowstone Volcano Observatory dan United States Geological Survey (USGS), letusan Echinus dapat mencapai ketinggian sekitar 22 meter dan berlangsung hingga 90 menit.Semburan air panasnya bisa muncul secara vertikal atau miring ke samping. Bahkan, percikannya terkadang sampai membasahi para pengunjung yang menyaksikan dari dekat.
Namun, memasuki awal tahun 2000 aktivitas geyser ini mulai melemah dan menjadi semakin tidak menentu. Frekuensi letusan terus menurun hingga akhirnya pada akhir 2017, Echinus dianggap sudah tidak aktif.
Kembalinya Sang Geyser Terbesar
Tanda-tanda kebangkitan Echinus kembali terlihat pada Februari 2026. Menurut USGS, geyser tersebut pertama kali meletus kembali pada 7 Februari dan aktivitasnya berlanjut selama beberapa hari berikutnya.
Geyser Echinus di TN Yellowstone, AS mirip landak (Getty Images/iStockphoto/andyjkramer) |
Pada 16 Februari, semburan air panas tercatat mencapai ketinggian sekitar enam hingga sembilan meter dan terjadi setiap beberapa jam.
Hingga saat ini, pengamatan terbaru menunjukkan bahwa Echinus masih meletus secara tidak teratur. Setiap letusan biasanya berlangsung sekitar 3 hingga 5 menit dengan tinggi semburan mencapai sekitar sembilan meter.
Echinus sendiri dikenal sebagai geyser asam terbesar di dunia. Geyser jenis ini memiliki campuran gas asam dengan air netral yang kaya kandungan sulfat dan klorida. Tingkat keasamannya memang tidak cukup kuat untuk mengikis batuan di sekitarnya, tetapi cairan tersebut dapat menumpuk dan membentuk batuan berduri yang menyerupai landak laut.
Kolam di sekitar geyser juga memiliki warna merah karat yang khas. Warna tersebut berasal dari campuran berbagai mineral seperti besi, aluminium, dan arsenik yang terdapat dalam cairan geotermal di area tersebut.
Meski kembali aktif, para peneliti memperkirakan letusan Echinus tidak akan berlangsung dalam waktu lama. Menurut USGS, geyser ini biasanya hanya aktif selama satu hingga dua bulan sebelum kembali memasuki periode tidak aktif.
Meski begitu, Echinus masih dikategorikan sebagai geyser aktif dan perubahannya terus dipantau melalui grafik suhu yang dikeluarkan USGS. Lonjakan suhu hingga sekitar 70 derajat Celcius biasanya menjadi tanda akan terjadinya letusan.
Simak Video "Video: Imbauan AS Hindari ke 2 Wilayah di Papua, Ini Respons Asosiasi Wisata"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)















































Komentar Terbanyak
Adzan Menggema di London, Ini Sudut Paling Menggetarkan Hati Muslim di Whitechapel
Bule Australia Terlunta-lunta di Bali, Hidup di Bangunan Kosong-Kakinya Luka
3 Hari Festival Songkran, 95 Orang Meninggal