Konflik Timur Tengah mulai berdampak pada sektor pariwisata Bali. Okupansi kamar hotel di Badung anjlok parah, kini tinggal 41% saja.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat kunjungan wisatawan mancanegara terpantau menurun seiring adanya kendala penerbangan yang memicu penumpukan penumpang di bandara.
"Kami melihat secara keseluruhan memang terjadi penurunan jumlah kedatangan wisatawan ke Bali dan ada penumpukan di bandara terkait wisatawan yang sulit melakukan penerbangan pulang. Pihak Imigrasi sendiri sudah memberikan kebijakan menyangkut izin tinggal sementara itu," ujar Kepala Dinas Pariwisata Badung I Nyoman Rudiarta, Rabu (11/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penurunan aktivitas ini terasa signifikan pada beberapa destinasi unggulan yang biasanya didominasi oleh turis asing. Meski demikian, pemerintah daerah tetap mematangkan kesiapan fasilitas menyambut momentum libur panjang di tengah persaingan ketat dengan destinasi mancanegara lain seperti Singapura dan Thailand.
"Bali tetap menjadi primadona meski kompetitor internasional, maupun domestik seperti Jogja juga kuat. Kami terus menjalin komunikasi intensif dengan para pengelola destinasi mengenai hal-hal apa saja yang harus disiapkan bersama," lanjut Rudiarta.
Terkait angka hunian kamar hotel, data menunjukkan variasi yang cukup lebar pada berbagai kelas akomodasi di wilayah Badung. Berdasarkan sampel dari puluhan hotel, rata-rata okupansi saat ini masih bertahan di angka menengah, tapi beberapa properti tertentu masih mampu mencatatkan angka tinggi.
"Berdasarkan komunikasi kami dengan IHGMA terhadap sampel 40 akomodasi, tingkat hunian berada di angka 41 sampai 69 persen. Namun tidak dimungkiri, sekitar 29 persen dari total akomodasi tersebut masih bisa mencapai angka 70 sampai 80 persen," jelas mantan Camat Kuta ini.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung kini menaruh harapan besar pada pergerakan wisatawan domestik untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah. Wisatawan lokal dinilai menjadi kunci utama dalam mendongkrak okupansi hotel di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global dan geopolitik.
"Harapan kami tentu wisatawan domestik masih memegang peran cukup besar bagi peningkatan ekonomi serta okupansi hotel di Kabupaten Badung ini. Semoga kondisi geopolitik saat ini tidak membawa dampak yang terlalu signifikan terhadap pariwisata kita ke depannya," imbuhnya.
Di sisi lain, perbaikan infrastruktur terus dikebut oleh Pemkab Badung guna menjamin kenyamanan wisatawan yang berkunjung. Masalah klasik seperti kemacetan dan banjir menjadi prioritas utama kebijakan Bupati dalam menjaga citra pariwisata Bali.
"Badung ini bisnis utamanya adalah pariwisata karena 60 persen masyarakat bertumpu di sektor ini, jadi saya minta semua pihak tetap menjaga marwah dan kondusivitas daerah. Pemerintah daerah melalui kebijakan Pak Bupati juga sudah melakukan langkah nyata dalam menangani kemacetan dan banjir," tegas Rudiarta.
---------
Artikel ini telah naik di detikBali.
(wsw/wsw)












































Komentar Terbanyak
Bule Rusia Hajar Warga Banyuwangi gegara Sound Horeg, Korban Tempuh Jalur Hukum
Saat Gibran Ikut Memikul Salib Paskah di Kupang
Kedubes Korea Selatan Minta Warganya Hati-hati Liburan di Bali