Menjelang lebaran di Gorontalo, kain karawo lagi banyak dicari, bahkan oleh traveler yang sedang berlibur di daerah itu.
Produk karawo seperti jilbab, gamis, dan kemeja paling banyak dicari. Karawo adalah kain sulam khas Gorontalo yang dalam proses pembuatannya rumit yaitu mengiris, mencabut benang, menyulam, dan mengikat, yang dilakukan secara manual tanpa mesin.
Karawo telah ditetapkan sebagai Warisan BudayaTakbenda (WBTb) Indonesia sejak 2014. Karawo juga telah mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum Gorontalo pada 2025.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kata karawo adalah kepanjangan ka = kakayita (saling kait), ra = rarandeg (saling berantai), dan wo = wowoala (saling pisah).
Artinya pekerjaan menyulam yang dilakukan dengan cara mengaitkan benang satu ke benang yang lain dan berantai.
Apabila salah dalam mengerjakannya, maka benang-benang yang sudah saling kait dan berantai tersebut dapat dipisahkan atau dibuka kembali.
Sejak Kapan Karawo Dikenal di Gorontalo?
Karawo adalah produk akulturasi budaya Belanda dan Gorontalo. Karawo dikenal di Gorontalo sejak zaman kolonial Belanda.
Wanita-wanita Belanda waktu itu sering menghabiskan waktu luang mereka untuk membuat kerajinan kristik yang indah. Kristik atau dalam bahasa Belanda 'kruissteek' adalah seni menyulam dengan teknik tusuk silang.
Peserta mengenakan pakaian kreasi pada Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2025 di Kota Gorontalo, Gorontalo Foto: ANTARAFOTO/Adiwinata Solihin |
Seni menyulam Belanda ini kemudian ditiru oleh wanita Gorontalo, dan dikreasikan sesuai dengan budaya lokal. Motif karawo pada awalnya berbentuk sangat sederhana.
Motif itu sesuai dengan ornamen Gorontalo yaitu motif garis, modelnya seperti pagar pada tempat duduk adat, motif daun bunga seruni dan motif daun sukun (bitila).
Pada awalnya, warna kain yang disulam adalah warna khas Gorontalo adalah warna adat yang disebut tilabatayila yaitu merah, kuning (emas), hijau dan ungu.
Jenis karawo yang pertama kali di Gorontalo adalah karawo ikat, kemudian di era 70-an berkembang jenis karawo manila atau tisik. Kemudian pada tahun 1980 berkembang jenis karawo bordir.
Karawo merupakan produk UMKM telah menembus pasar ekspor ke Malaysia, Uni Emirat Arab dan Turki. Karena dibuat secara manual, karawo dinilai lebih eksklusif dan bernilai tinggi. Untuk pasar luar negeri mereka lebih menyukai desain sederhana dengan warna-warna lembut.
-------
Artikel ini ditulis oleh Hari Suroto. Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan XVII Sulawesi Utara.
(wsw/wsw)













































Komentar Terbanyak
Bule Rusia Hajar Warga Banyuwangi gegara Sound Horeg, Korban Tempuh Jalur Hukum
Saat Gibran Ikut Memikul Salib Paskah di Kupang
Kedubes Korea Selatan Minta Warganya Hati-hati Liburan di Bali