Cerita Perahu Wisata Rawa Jombor, Konon Berawal dari Tradisi Syawalan

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Cerita Perahu Wisata Rawa Jombor, Konon Berawal dari Tradisi Syawalan

Achmad Husain Syauqi - detikTravel
Jumat, 13 Mar 2026 17:10 WIB
Rawa Jombor, Klaten. Foto diunggah Senin (16/1/2023).
Perahu wisata di Rawa Jombor (Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)
Klaten -

Perahu wisata di Rawa Jombor ternyata punya sejarah yang cukup panjang. Konon, perahu di sini berawal dari tradisi Syawalan yang dilakukan Paku Buwono (PB) X.

"Konon sejarahnya berawal dari Sri Sultan PB X sekitar tahun 1930-an naruh perahu Rajamala yang digunakan pada momen Syawalan setahun sekali," tutur Ketua Paguyuban Perahu Wisata Tradisional Rawa Jombor, Sutomo, Sabtu (14/2) siang.

Syawalan merupakan tradisi pesta rakyat di sekitar rawa Jombor dengan berbagai hiburan dan wisata. Tradisi itu digelar secara turun-temurun setiap tahun usai Idulfitri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Sutomo, di zaman dulu, perahu tersebut berlayar dari dermaga di utara sampai ke selatan di dekat Taman Nyi Rakit. Namun lama kelamaan perahu dari keraton itu rusak.

"Lama kelamaan perahu itu rusak sehingga warga membuat perahu sendiri. Setiap Syawalan itu kan ramai dan warga berinisiatif membuat perahu sendiri dari bambu," kata Sutomo.

ADVERTISEMENT

Saat itu, lanjut Sutomo, wisata perahu bambu ramai tapi surut tahun 2000-an. Pada tahun 2007 muncul warung apung yang cukup populer dan ramai.

"Warung apung semakin ramai, perahu muncul lagi digunakan untuk mengangkut wisatawan dari warung. Tapi setelah pandemi Covid ada program revitalisasi itu (warung apung meredup) sehingga perahu ambil penumpang di tepi jalan barat ke selatan rawa," papar Sutomo.

Selepas Covid, terang Sutomo, wisata Rawa Jombor mulai ramai lagi sehingga warga berinisiatif membuat perahu lagi. Semakin hari peminatnya semakin ramai dan perahu menjadi ikon sehingga jumlah terus bertambah.

"Jumlah perahu terus bertambah dan saat ini ada 52, ini bertambah terus sehingga jumlah pemilik ada 21 orang. Yang perahu Rajamala (di rawa) mungkin Rajamala yang lain (beda dengan di Keraton) saya masih ingat kayunya diambil dan disimpan warga," imbuh Sutomo.

Taufik, warga yang juga teknisi perahu menuturkan sebenarnya perahu wisata bukan barang baru di rawa. Sejak zaman dulu perahu wisata sudah ada.

"Sejak mbah-mbah dulu perahu wisata sudah ada, cuma dulu tradisional terbuat dari bambu. Kalau yang perahu seperti ini (perahu wisata saat ini dengan bahan bambu, kayu, stereofoam dan dihias) baru setelah Covid,'' ungkap Taufik.

Menurut Taufik, perahu wisata semakin ramai setelah pandemi Covid berlalu dan rawa direvitalisasi. Warung apung direlokasi sehingga luasan rawa kembali.

Objek wisata Rawa Jombor di Desa Krakitan, Bayat, Klaten.Perahu wisata Rawa Jombor di Desa Krakitan, Bayat, Klaten. Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng

"Direvitalisasi kan warung apung hilang sehingga perahu wisata semakin ramai. Tapi untuk makan tetap bisa di rawa, caranya dengan makan di atas perahu sambil keliling wisata, ada juga speed boat, " jelas Taufik.

Karena ukuran berbeda dan bahan baku perahu tidak hanya bambu, sebut Taufik, harga satu perahu pun mahal. Satu perahu jadi rata-rata butuh biaya Rp 100 juta.

"Rata-rata ya Rp 100 juta. Untuk ongkos naik satu orang Rp 10.000- Rp 15.000 tergantung durasinya. Untuk makan tinggal pesan," lanjut Taufik.

Wisatawan asal Weru, Sukoharjo, Warsini mengatakan saat ini rawa semakin bagus karena ditata. Rawa juga semakin luas setelah ada revitalisasi.

"Rawanya semakin luas, sambil makan bisa sambil naik perahu. Harganya paketan tinggal tambah Rp 10.000 untuk ongkos perahu, ya murah," katanya.

"Ke depan ya harapannya kebersihan dijaga, ada parkir ditambah," kata Warsini.

Rawa Jombor sendiri jaraknya dari kota Klaten hanya sekitar 7,5 kilometer ke selatan. Rawa dengan luas mencapai sekitar 178 hektare dengan lingkar jalan sepanjang 7 kilometer itu menyajikan pemandangan perbukitan seribu.

--------

Artikel ini telah naik di detikJateng.




(wsw/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads