Terkuak! WNA Punya Lahan di Proyek Akomodasi Wisata, Caranya Pinjam Identitas Warlok

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Terkuak! WNA Punya Lahan di Proyek Akomodasi Wisata, Caranya Pinjam Identitas Warlok

Krisna Pradipta - detikTravel
Sabtu, 14 Mar 2026 07:44 WIB
Ketua Komisi I DPRD Tabanan, I Gusti Nyoman Omardani. (Krisna Pradipta/detikBali)
Ketua Komisi I DPRD Tabanan, I Gusti Nyoman Omardani. (Krisna Pradipta/detikBali)
Tabanan -

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tabanan mengungkap dugaan praktik kepemilikan lahan oleh warga negara asing (WNA) melalui skema nomine di sejumlah proyek akomodasi wisata. Kondisi itu terkuak setelah adanya indikasi keterlibatan pemodal asing saat Komisi I DPRD Tabanan melakukan inspeksi mendadak (sidak) pelanggaran tata ruang.

"Ketika kami turun ke lapangan, di beberapa titik kami mencermati adanya penanam modal dari warga asing," kata Ketua Komisi I DPRD Tabanan, I Gusti Nyoman Omardani, saat dikonfirmasi, Jumat (13/3/2026), dilansir detikBali.

Menurut Omardani, pola yang muncul umumnya berupa kerja sama dengan warga lokal yang hanya dipinjam identitasnya untuk kepemilikan lahan atau usaha. Namun, sumber pendanaan pembangunan berasal dari pihak asing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indikasi tersebut juga diperkuat laporan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Tabanan. Hasil pemeriksaan terhadap sembilan vila di Desa Cepaka, Kecamatan Kediri, tujuh di antaranya terindikasi menggunakan skema nomine.

ADVERTISEMENT

Oleh karena itu, Komisi I DPRD Tabanan meminta pemerintah daerah (pemda) tidak lagi menoleransi praktik tersebut karena berpotensi mempercepat alih fungsi lahan produktif. Terlebih, aturan di tingkat provinsi kini telah secara tegas melarang pola kepemilikan dengan skema nomine tersebut.

"Selama ini kan perda tersebut belum ada. Sekarang sudah jelas aturannya sehingga ke depannya tidak boleh lagi terjadi," tegas Omardani.

DPRD Tabanan juga meminta pemda segera mengambil langkah konkret untuk menindak dugaan pelanggaran, terutama jika terdapat WNA yang memanfaatkan nama warga lokal untuk menguasai lahan atau usaha pariwisata di daerah bersangkutan.



(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads