Survei: 41% Pemudik Ternyata Bisa Alami Gejala Kecemasan-Depresi

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Survei: 41% Pemudik Ternyata Bisa Alami Gejala Kecemasan-Depresi

Wahyu Setyo Widodo - detikTravel
Jumat, 20 Mar 2026 05:15 WIB
Ray Wagiu Basrowi
Dr Ray Wagiu Basrowi (dok. Istimewa)
Jakarta -

Mudik jadi perjalanan pulang ke kampung halaman yang menyenangkan. Namun berdasarkan hasil survei, ternyata 41% pemudik merasakan gejala kecemasan dan depresi.

Berdasarkan penelitian di bidang travel medicine yang dirilis pada 2023 oleh World Travel & Tourism Council (WTTC), melalui behavioral travel survey di beberapa negara dengan budaya pulang kampung, menunjukkan temuan yang cukup mengejutkan.

"Sekitar 41% orang dewasa yang melakukan perjalanan pulang kampung mengalami gejala kecemasan (anxiety) dan depresi ringan hingga sedang selama periode perjalanan," ungkap Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, Pendiri Health Collaborative Center (HCC) seperti dikutip, Jumat (20/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Dr Ray, kondisi tersebut bukan muncul tanpa sebab. Ada beberapa faktor yang memicu hal itu bisa terjadi. Beberapa di antaranya adalah stres perjalanan jarak jauh, ketidakpastian waktu tempuh, serta kelelahan fisik akibat perjalanan yang panjang.

Dalam konteks di Indonesia, permasalahan tersebut bahkan menjadi lebih kompleks. Fenomena mudik di Indonesia tidak hanya diwarnai oleh perjalanan panjang, tetapi juga kemacetan ekstrem yang bisa berlangsung hingga berjam-jam.

ADVERTISEMENT

Kondisi itu menyebabkan perubahan pola tidur, serta ketidakteraturan pola makan yang dialami oleh para pemudik. Semua faktor tersebut berkontribusi pada peningkatan rasa stres di dalam tubuh. Selain itu, kondisi tersebut juga menambah tekanan sosial di kalangan para pemudik.

"Bagi banyak orang, pulang ke kampung halaman bukan sekadar bertemu keluarga, tetapi juga menghadapi ekspektasi sosial yang tidak tertulis. Pertanyaan tentang pekerjaan, status pernikahan, hingga pencapaian hidup kerap menjadi sumber tekanan tersendiri," ujar pria yang menjadi salah seorang Inisiator Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa itu.

Ketika faktor stres psikologis bertemu dengan kelelahan fisik akibat perjalanan mudik, terbentuklah apa yang disebut sebagai stressor akumulatif, yaitu sebuah kondisi dimana berbagai tekanan terjadi secara bersamaan dan terakumulasi.

Akibatnya banyak pemudik yang akhirnya mengalami perubahan kondisi psikologis, seperti mudah tersinggung, sulit menikmati momen kebersamaan, overthinking berlebihan, bahkan hingga kecenderungan menarik diri dari interaksi sosial.

Alih-alih menjadi momen liburan yang menyenangkan, libur Lebaran dan perjalanan mudik justru dapat berubah menjadi periode kelelahan mental yang tidak disadari oleh masyarakat.

Beberapa cara sederhana yang dapat traveler lakukan adalah bisa dengan menurunkan ekspektasi terhadap situasi perjalanan dan interaksi sosial, serta menerima bahwa tidak semua pertanyaan dari keluarga harus dijawab secara mendalam.

"Jangan lupa menyediakan waktu untuk istirahat selama perjalanan, serta menjaga kesadaran diri terhadap kondisi emosi. Tanpa kesiapan mental, risiko yang muncul cukup jelas, tubuh mungkin sampai di tujuan, tetapi kondisi psikologis sudah terkuras," jelas Dr Ray.

"Pada akhirnya, mudik bukan hanya soal pulang secara geografis. Lebih dari itu, mudik adalah perjalanan kembali yang idealnya membawa ketenangan, bukan justru menambah beban," pungkas dia.



(wsw/wsw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads