Di kawasan Gunung Tugel, Banyumas ada sebuah kampung mati yang sekarang tidak dihuni lagi oleh manusia. Bagaimana kisah kampung mati ini?
Nama 'kampung mati' kerap disematkan warga kepada kawasan Gunung Tugel di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Tidak heran, ketika traveler melintas sekilas di depan gerbangnya, kesan kampung mati memang kental terasa. Rumput ilalang yang tumbuh tinggi menghiasi area pintu masuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lokasi kampung mati ini berada di tepi jalan alternatif yang menghubungkan Purwokerto dengan Banyumas. Di sekitar kawasan tersebut nyaris tidak terlihat permukiman warga.
Namun, di balik kesan yang terbengkalai dan tidak terurus itu, ternyata aktivitas di dalam kampung tersebut tidak benar-benar 'mati'.
Lahan yang kini dikelola Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto itu dulunya pernah dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan pendidikan.
Sejarah Kampung Mati Gunung Tugel
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat Unsoed, Waluyo Handoko, menjelaskan kawasan tersebut memiliki sejarah panjang sejak era program transmigrasi pemerintah pada 1980-an.
"Awalnya lahan itu milik Kementerian Transmigrasi. Sekitar tahun 80-an dipakai untuk pelatihan calon transmigran yang akan berangkat ke luar Jawa," kata Waluyo saat dihubungi, Senin (9/3).
Suasana 'Kampung Mati' Gunung Tugel Foto: Anang Firmansyah/detikJateng |
Para calon transmigran saat itu dilatih berbagai keterampilan dasar sebelum diberangkatkan ke daerah tujuan. Mulai dari cara bercocok tanam hingga simulasi kehidupan di permukiman transmigrasi.
"Di sana dulu ada simulasi rumahnya juga. Jadi calon transmigran dilatih bagaimana bercocok tanam dan seperti apa nanti bentuk kehidupan mereka di lokasi transmigrasi," jelasnya.
Pada masa itu, pelatihan dilakukan dengan menggandeng akademisi dari Unsoed. Kerja sama tersebut berlangsung sekitar tahun 1986 hingga menjelang 1990.
"Dari sekitar 1986 sampai sebelum tahun 90-an itu digunakan untuk pelatihan transmigrasi oleh kementerian. Programnya bekerja sama dengan dosen-dosen Unsoed," ujarnya.
Setelah program transmigrasi tidak lagi berjalan seperti sebelumnya, lahan tersebut akhirnya diserahkan kepada Unsoed.
"Begitu program transmigrasi tidak ada lagi, lahannya kemudian diserahkan ke Unsoed. Sertifikatnya juga atas nama Unsoed," kata Waluyo.
Kampung Mati Gunung Tugel Kini
Kawasan seluas sekitar 26 hektare itu tidak langsung dimanfaatkan secara optimal. Sebagian lahan hanya ditanami tanaman tertentu dan sebagian lainnya digunakan untuk kegiatan terbatas.
"Dulu pemanfaatannya belum begitu banyak, hanya untuk tanaman-tanaman yang dilindungi dan sebagian untuk kegiatan bisnis," jelasnya.
Seiring waktu, luas lahan juga mengalami perubahan. Sebagian area dipakai untuk pelebaran jalan dan ada sekitar lima hektare yang dipinjamkan kepada Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk tempat pembuangan akhir (TPA).
"Totalnya dulu sekitar 26 hektare, tapi karena ada pelebaran jalan sekarang tinggal sekitar 23 hektare," pungkasnya.
---------
Artikel ini telah naik di detikJateng.
(wsw/wsw)













































Komentar Terbanyak
Kalau Budget Bukan Jadi Masalah, Mau Liburan ke Mana?
Hotel-hotel Mewah Dubai Meratap, Jual Kemewahan dengan Diskon 50%
Presiden Jerman Mau ke RI, Bertemu Prabowo dan Susuri Terowongan Silaturahmi