Sejarah Kupat Jembut Khas dari Semarang, Sudah Ada Sejak Zaman Perang

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Sejarah Kupat Jembut Khas dari Semarang, Sudah Ada Sejak Zaman Perang

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikTravel
Minggu, 29 Mar 2026 06:10 WIB
Sajian kupat jembut yang menjadi tradisi warga Pedurungan, Kota Semarang, saat Syawalan, Sabtu (28/3/2026).
Kupat Jembut khas dari Semarang (Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng)
Semarang -

Tradisi Syawalan atau lebaran ketupat disambut meriah warga Semarang. Mereka berburu kupat jembut yang khas dan tidak bisa ditemukan di daerah lain. Bagaimana sejarahnya?

Meski namanya terdengar nyeleneh, ketupat atau kupat jembut menjadi hidangan khas sekaligus tradisi asal Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, saat Syawalan tiba atau 7 hari setelah Lebaran Idulfitri.

Imam Masjid Roudhotul Muttaqin di Pedurungan, Munawir, menceritakan kupat jembut muncul saat warga di kampungnya mengungsi dari Purwodadi ke Pedurungan usai Perang Dunia ke-2.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga akhir masa perang di tahun 1950-an, warga mengungsi saat menjelang puasa. Ketika itu pula kupat jembut dibuat dari kesederhanaan.

"Terus perang selesai sekitar tahun 50-an. Warga pulang waktu itu menjelang puasa dan suasana masih dalam kesederhanaan, dibuatlah kupat yang sederhana dibelah tengahnya dan dikasih tauge dan dikasih kelapa," kata Munawir ditemui di Masjid Roudhotul Muttaqin, Sabtu (28/3/2026).

ADVERTISEMENT

Munawir mengatakan, dirinya tidak begitu paham siapa sebenarnya yang menamakan ketupat jembut. Dia hanya menduga, nama tersebut disematkan agar lebih mudah diingat.

"Saya sendiri kurang tahu itu nama dari mana. Tapi mungkin sebagai keunikan, warga menamakan itu, dan mungkin bisa mudah mengingat, itu dinamakan kupat jembut itu," jelasnya.

Adapun makna dari dibelahnya ketupat, jelas Munawir, yakni untuk menandai para warga saling memaafkan. Tradisi tersebut biasa digelar pada 8 Syawal.

"Tradisi ini memang ditandai dengan dibelahnya ketupat. Sebagai tanda melepaskan jabat tangan dan Lebaran telah selesai. Dan warga sudah saling memaafkan," ungkapnya.

Warga sekitar setiap tahunnya melakukan tradisi bagi-bagi kupat jembut. Tradisi tersebut digelar usai salat Subuh.

Dari pantauan langsung di Jaten Cilik, RW 6, Kelurahan Pedurungan Tengah sekitar pukul 04.30 bakda salat Subuh, sejumlah nampan berisi kupat jembut dibawa warga. kupat jembut merupakan kupat atau ketupat berisi tauge hingga parutan kelapa.

Usai nampan berisi kupat jembut ditata di pelataran masjid, warga duduk melingkar, pun para anak-anak. Lalu, mereka merapal doa.

Doa rampung dilantunkan, para warga lantas berbaris di jalan pinggir masjid. Mereka tengah menunggu giliran untuk mendapat kupat jembut.

Warga bergiliran diberikan kupat jembut oleh takmir masjid. Petasan disulut, meletup-letup menambah meriah tradisi Syawalan.

Kemudian, kejutan lain menunggu. Seorang wanita tengah berdiri, di tangannya digenggam sejumlah pecahan uang Rp 2 ribu.

Warga Pedurungan, Kota Semarang, saat menggelar tradisi kupat jembut, Sabtu (28/3/2026).Warga Pedurungan, Kota Semarang, saat menggelar tradisi kupat jembut, Sabtu (28/3/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng

Ting, ting, ting, kentongan dari besi dipukul. Tanpa aba-aba, anak-anak langsung menyerbu wanita yang membawa uang tersebut.

"Baris ayo berbaris," ujar wanita bernama Yutatik (43) yang membawa uang tersebut.

Para bocah pun menurut dan berbaris. Mereka bergantian mendapat uang dari Yutatik.

Tak hanya Yutatik, warga lainnya pun membagikan pecahan uang kepada puluhan bocah tersebut. Sebagian lainnya memberikan kupat jembut.

Puluhan bocah tersebut membawa kantong plastik untuk membungkus kupat jembut. Wajah mereka tampak gembira usai menerima kupat jembut dan sejumlah uang. Tak hanya bocah-bocah, warga dewasa pun ikut mengantre untuk mendapat Kupat Tahu.

Yutatik mengatakan, kupat jembut di kampungnya merupakan tradisi Syawalan yang dirayakan 7 hari setelah Idul Fitri.

"Iya, Syawalan dalam merayakan 7 hari kemenangan Idul Fitri. Kita ikut melestarikan adat istiadat biar tetap berlangsung," kata Yutatik saat ditemui usai membagikan uang.

Dulunya warga merayakan Syawalan dengan banyak membagikan kupat jembut. Kini sebagian warga memilih untuk membagikan uang.

"Dulu pakainya ketupat, sekarang kebanyakan pakai uang karena saya bukan orang sini asli, ikut meramaikan," ungkap Yutatik.

Warga Gembira Dapat Kupat Jembut

Seorang warga yang beruntung mendapatkan Ketupat Jembut, Eko Harianto, mengatakan Ketupat Jembut berisi tauge dan sambal gudangan.

"Ini dapat ketupat untuk Lebaran. Ini isinya ada tauge, sambal gudangan, sama ketupat isinya, ini rasanya gurih banget. Ini setiap tahun ada, semua warga antusias untuk merayakannya," jelas Eko.

Sementara itu, Syifa (13), baru mendapatkan satu buah kupat jembut. Dia menyebut rasanya enak.

"(Dapat kupat jembut) Satu. (Rasanya?) Enak, gurih manis, asin, pedas," sebut Syifa.

Dia mengaku setiap tahunnya mengikuti tradisi Syawalan tersebut. Tak cukup satu, Syifa, bahkan bakal memburu kupat jembut dari tetangga lainnya.

"(Biasanya dapat berapa kupat?) Banyak sih biasanya dapat 10. Uangnya banyak juga biasanya (mendapat) sampai Rp 50 ribu," katanya.


---------

Artikel ini telah naik di detikJateng.




(wsw/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads