Nestapa Kapal Pesiar Ikut Terkena Dampak Naiknya Harga Minyak Dunia

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Nestapa Kapal Pesiar Ikut Terkena Dampak Naiknya Harga Minyak Dunia

Bonauli - detikTravel
Minggu, 29 Mar 2026 12:22 WIB
Kapal Pesiar Carnival Cruise
Ilustrasi (dok. Carnival Cruise)
New York -

Konflik di Timur Tengah membuat harga bahan bakar dunia meningkat. Industri kapal pesiar pun ikut terkena dampaknya.

Konflik yang tengah memanas di Timur Tengah kini mulai berdampak nyata pada ekonomi global, terutama melalui lonjakan harga bahan bakar. Salah satu pihak yang paling merasakan imbasnya adalah industri kapal pesiar, khususnya raksasa sektor ini, Carnival.

Gangguan pada aliran minyak di Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia, telah memicu kenaikan harga bahan bakar global yang cukup signifikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenaikan harga ini menjadi tantangan berat bagi Carnival karena mereka adalah satu-satunya perusahaan kapal pesiar besar di Amerika Serikat yang tidak melakukan sistem lindung nilai atau "asuransi" harga bahan bakar. Akibatnya, perusahaan terpaksa merevisi target keuntungan mereka tahun ini menjadi lebih rendah dari perkiraan semula.

Dikutip dari Reuters, Minggu (29/3/2026), kabar ini pun langsung memicu reaksi negatif di pasar saham, nilai saham Carnival sempat anjlok hampir 5% pada awal perdagangan.

ADVERTISEMENT

Dalam menyusun strategi ke depannya, Carnival menggunakan asumsi harga minyak mentah Brent yang bervariasi sepanjang sisa tahun 2026, mulai dari harga rata-rata USD 90 per barel hingga perlahan turun ke angka $80 pada akhir tahun. Meski pengeluaran untuk bahan bakar diperkirakan membengkak hingga lebih dari USD 500 juta, perusahaan tetap optimis karena skala bisnis dan ketersediaan dana mereka yang kuat dianggap mampu meredam gejolak tersebut.

"Skenario biaya bahan bakar yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama akan memengaruhi Carnival, tetapi perusahaan memiliki skala dan likuiditas untuk menangani fluktuasi ini," kata John Kempf dari perusahaan pemeringkat kredit Fitch Ratings.

Menariknya, di tengah ketidakpastian ekonomi ini, minat masyarakat untuk berlibur dengan kapal pesiar justru tetap tinggi. CEO Carnival, Josh Weinstein, mengungkapkan bahwa pemesanan untuk tahun 2026 bahkan mencatat kenaikan hingga dua digit.

Antusiasme penumpang yang luar biasa ini sangat membantu perusahaan menutupi sebagian biaya bahan bakar yang melonjak melalui pendapatan tiket yang lebih tinggi. Dengan kondisi keuangan yang tetap kokoh, Carnival bahkan mampu mengumumkan rencana pembelian kembali saham senilai USD 2,5 miliar, sebuah langkah yang menunjukkan bahwa bisnis mereka tetap tangguh meski diterjang badai kenaikan harga energi.




(bnl/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads