Tahukah kamu, sebelum terkenal sebagai kompleks apartemen seperti sekarang, kawasan Kalibata di Jakarta Selatan memegang peranan penting dalam industri sepatu.
Jalan-jalan di ibu kota Jakarta bukan sekadar olahraga semata, bisa juga sebagai jendela kembali ke masa lalu, mengungkap jejak sejarah yang masih tersisa di setiap sudutnya.
Bersama dengan komunitas Walking Tour 'Step Into Jakarta', Rabu (1/4/2026), Tim detikTravel berkesempatan menjelajahi rute Rawajati, sebuah jalur yang sarat dengan kisah-kisah tentang transformasi kawasan industri yang luas sebelum menjadi lanskap gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dipandu Endang Teguh Pramono, yang akrab dipanggil Pampam, detikTravel dan para rombongan lainnya didorong untuk menjelajahi sejarah kaya kawasan Kalibata di Jakarta Selatan, sebuah wilayah yang memainkan peran penting dalam industri produksi sepatu Bata di Indonesia.
Dulu Terkenal dengan Industri Sepatu Bata
Sejarah kawasan ini sudah dimulai jauh sebelum dibangunnya kompleks-kompleks apartemen tersebut. Endang bercerita, masuknya merk sepatu Bata ke Hindia Belanda didorong oleh lonjakan permintaan akan alas kaki yang cukup signifikan.
"Dari yang awalnya hanya 5.000 pasang pada tahun 1928, tiba-tiba meningkat tajam mencapai 390.000 pasang di tahun 1932," jelasnya.
Permintaan yang tinggi tersebut sangat erat kaitannya dengan kebutuhan militer. Pada masa itu, para prajurit sering mengalami lecet akibat mengenakan alas kaki kulit yang kaku.
Melansir laman Facebook Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Thomas Anna dan Antonin Bata, seorang visioner asal Cekoslowakia, melihat peluang besar dan meluncurkan sepatu dengan sol karet lembut yang dirancang untuk mencegah lecet, serta memberikan bantalan ketika melakukan aktivitas berat.
Pada tahun 1931, Bata memulai perjalanannya dengan membuka toko dan gerai distributor di Tanjung Priok. Langkah awal ini membuka jalan bagi ekspansi ke Batavia (Kota Tua), Bandung, Surabaya, dan berbagai kota lain di seluruh nusantara.
Menanggapi permintaan yang terus meningkat, Bata akhirnya memutuskan untuk mendirikan pabrik berskala besar di Batavia. Pada tahun 1937, lahan di kawasan Kalibata dibeli, yang kemudian memicu produksi dua jenis alas kaki; Leather dan Rubber mulai tahun 1938.
"Di tahun 1941, tercatat pabrik ini memproduksi 2,1 juta pasang sepatu beralas karet dan 406 ribu pasang sepatu beralas kulit," terang Endang.
Nama perusahaannya pun sempat berganti-ganti. Mengutip CNBC Indonesia (2023) Pada masa Belanda bernama Naamloze Vennootschap Nederlandsch-Indische Schoenhandel Maatschappij Bata.
Lalu, sempat dikenal juga sebagai Maskapai Sun. Pada 1962 berubah menjadi Bata Shoe Company Limited. Pada dekade 1990-an, Bata memiliki tiga pabrik utama, yakni di Kalibata, Surabaya, dan Medan.
Roda Zaman Berputar, Pabrik Sepatu Bata Tutup Ganti Jadi Apartemen
Namun, roda zaman terus berputar. Lahan di Jakarta yang semakin terbatas membuat kawasan industri perlahan harus tersingkir.
Berdasarkan catatan detikFinance (24/4/2008), PT Sepatu Bata Tbk (BATA) akhirnya resmi menutup pabrik dan gerai penjualannya di Kalibata pada tahun 2008.
Penutupan pabrik bersejarah ini dilakukan karena perseroan menjual tanah dan asetnya kepada PT Pradani Sukses Abadi (PTPSA). Seluruh kegiatan produksi yang memiliki kapasitas 10 juta pasang sepatu per tahun di Kalibata itu pun dikonsolidasikan dan dipindahkan ke pabrik raksasa mereka di Purwakarta, Jawa Barat.
Area Kalibata yang dulunya pabrik horizontal kemudian dibersihkan dan diubah menjadi bangunan hunian vertikal.
"Awalnya ini mau jadi Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami) pada tahun 2009. Tadinya diperuntukkan bagi pegawai negeri (ASN) agar tidak perlu tinggal jauh-jauh di Depok," kenang Endang.
Selama bertahun-tahun, pengelolaan kawasan ini beralih ke sektor swasta, yang menyebabkan transformasi kawasan tersebut menjadi kompleks apartemen bertingkat tinggi yang luas, yang kini dikenal sebagai Kalibata City.
Setiap menara memiliki tingkatan akses yang berbeda-beda, di mana penghuni dengan akses 'emas' dapat menikmati fasilitas eksklusif, termasuk kolam renang yang luas.
Sayangnya, luasnya kompleks perumahan ini mengungkap aspek yang mengkhawatirkan dari kota ini. Pantauan detikTravel terdapat prasasti Nota kesepahaman tentang Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekusor Narkotika.
Beberapa masih menyebut kawasan ini sering menjadi sorotan Badan Narkotika Nasional (BNN) karena masalah peredaran narkoba ilegal dan aktivitas prostitusi terselubung yang terus berlanjut.
Bangunan-bangunan ini, yang ditandai dengan dinding dan pintunya yang ramping, menjadi saksi bisu atas transformasi dan identitas Jakarta yang terus berkembang.
Simak Video "Video: Polisi Periksa Pedagang Kalibata Korban Pembakaran Kios"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)












































Komentar Terbanyak
Adzan Menggema di London, Ini Sudut Paling Menggetarkan Hati Muslim di Whitechapel
3 Hari Festival Songkran, 95 Orang Meninggal
Investor Gugat Pemprov Bali soal Lift Kaca Kelingking, Koster Merespons