Aktivitas pariwisata di kawasan Nana, di jantung kota Bangkok, yang biasanya ramai wisatawan Timur Tengah, kini terlihat lesu.
Sejumlah asisten toko tampak duduk santai di depan gerai, sementara meja resepsionis hotel nyaris tanpa antrean tamu. Kondisi itu terjadi sejak konflik AS-Israel dengan Iran pecah pada 28 Februari lalu.
Dampaknya langsung terasa pada industri pariwisata Thailand, dengan lonjakan pembatalan perjalanan dan penurunan jumlah wisatawan. Data Kementerian Pariwisata Thailand menunjukkan, kunjungan wisatawan dari Timur Tengah anjlok lebih dari 50% pada Februari, dari 32.831 menjadi 16.080 orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir The Straits Times, Minggu (5/4/2026) meski bukan pasar utama, hilangnya wisatawan dari kawasan tersebut memberi efek besar. Ditambah lagi, gangguan wilayah udara di Timur Tengah membuat wisatawan Eropa harus mengambil rute alternatif yang lebih mahal untuk mencapai Thailand.
Dampak serupa juga dialami negara tetangga. Malaysia mencatat penurunan wisatawan dari kawasan terdampak hingga 40,3% pada Maret 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara Indonesia kehilangan sekitar 60.000 wisatawan asing akibat konflik tersebut.
Di Bangkok, Grace Hotel menjadi salah satu yang terdampak. Hotel yang telah beroperasi lebih dari 60 tahun itu mengandalkan tamu dari Timur Tengah hingga 90%, terutama dari Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar.
Direktur penjualan dan pemasaran, Sararutl Laocharoen, mengatakan pembatalan meningkat hingga 30-40%. Banyak tamu menilai situasi global saat ini tidak aman untuk bepergian, termasuk mereka yang biasanya datang untuk keperluan medis.
"Biasanya tamu mengantre di resepsionis, ramai dengan keluarga dan lansia. Tapi sekarang lobi kosong, ini tidak biasa bagi kami," ujarnya.
Kerugian yang dialami hotel tersebut diperkirakan mencapai 1 juta baht. Pihak manajemen kini mencoba menarik wisatawan dari China, India, dan Eropa, meski diakui tidak mudah menggantikan pasar Timur Tengah.
"Bahkan saat flu burung, Covid-19, atau konflik politik dalam negeri, pasar Timur Tengah tetap stabil. Tapi kali ini dampaknya terasa langsung dari negara mereka," kata Sararutl.
Penurunan juga dirasakan sektor kuliner. Restoran Bab Al-Yemen yang biasanya melayani 200 hingga 500 pelanggan per hari kini hanya menerima sekitar 5-10 pengunjung. "Dulu selalu penuh, sekarang hampir kosong," kata pengawas restoran, Salaheldin Mohammed Ibrahim Ibrahim Abdelraouf.
Untuk bertahan, restoran mengurangi pembelian bahan baku, menyederhanakan menu, dan hanya memasak sesuai permintaan.
Di lanjut, gangguan juga terjadi pada sektor transportasi. Banyak penerbangan dari Timur Tengah dihentikan atau dibatasi, sehingga perjalanan internasional ke Thailand ikut terdampak.
McKinsey Thailand mencatat sekitar 4 juta penumpang rute Eropa-Thailand biasanya transit di bandara Timur Tengah. Kini mereka harus mencari jalur alternatif. Dampaknya mulai terasa pada agen perjalanan, sebuah rombongan 120 wisatawan asal Jerman dilaporkan membatalkan rencana perjalanan golf ke Thailand pada akhir April.
Secara keseluruhan, Thailand mencatat sekitar 7,5 juta kunjungan wisatawan internasional pada periode Januari hingga 11 Maret, turun 4,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan jumlah wisatawan juga terlihat di Sungai Chao Phraya. Jika sebelumnya satu perjalanan kapal bisa membawa 100-150 penumpang, kini hanya sekitar 30-40 orang.
Operator perahu, Anan Parita, mengaku pendapatannya turun hingga 60%. Kondisi itu diperparah oleh pasokan bahan bakar yang tidak stabil.
"Kadang ada bahan bakar, kadang tidak. Bahkan jika turis datang, kami tidak bisa beroperasi," kata Anan.
Di tengah tekanan ini, pelaku industri mulai mencari strategi baru. McKinsey Thailand menilai sektor wisata kesehatan dan medis bisa menjadi peluang, mengingat Thailand saat ini melayani lebih dari 3 juta wisatawan medis setiap tahun.
Sementara itu, pelaku usaha berharap situasi segera membaik sebelum musim liburan pertengahan tahun. Namun, mereka menilai dukungan pemerintah masih terbatas.
Presiden Asosiasi Hotel Thailand, Thienprasit Chaiyapatranun, mengatakan pelaku industri harus beradaptasi secara mandiri. "Saya pikir kita harus membantu diri kita sendiri," ujarnya.
Ia mendorong hotel meningkatkan efisiensi operasional, termasuk penghematan energi, sebagai langkah bertahan di tengah ketidakpastian.
(upd/fem)












































Komentar Terbanyak
Adzan Menggema di London, Ini Sudut Paling Menggetarkan Hati Muslim di Whitechapel
3 Hari Festival Songkran, 95 Orang Meninggal
Investor Gugat Pemprov Bali soal Lift Kaca Kelingking, Koster Merespons