Menelusuri Jejak Pelarian Tan Malaka di Kalibata, Saksi Bisu Lahirnya 'Madilog'

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Menelusuri Jejak Pelarian Tan Malaka di Kalibata, Saksi Bisu Lahirnya 'Madilog'

Hans Wilhem - detikTravel
Minggu, 05 Apr 2026 21:21 WIB
Gang Malaka di Rawajati
Gang Tan Malaka di Rawajati (Hans Wilhem/detikcom)
Jakarta -

Di tengah pusat perbelanjaan dan kompleks perumahan di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, terdapat sebuah gang sempit yang menyimpan bab penting dalam sejarah bangsa. Gang Malaka.

Gang itu ada di tengah permukiman di Rawajati, tepat di belakang Plaza Kalibata saat ini. Nama gang itu benar-benar terkait dengan bapak pendiri bangsa, Tan Malaka. Di sanalah dia mencari perlindungan dan menyusun karya terpentingnya.

Bersama Endang Teguh Pramono, yang akrab dipanggil Pampam, seorang pemandu wisata jalan kaki dari Step Into Jakarta, detikTravel mendapat kesempatan pada Rabu, (1/4/2026) untuk kembali ke pada era 1940-an dan menelusuri jejak pelarian sang revolusioner.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita kenal sebagai sebuah gang di mana waktu itu salah satu bapak pendiri bangsa bersembunyi di sini, di sebuah rumah kontrakan, jadi bagian kos-kosan," ujar Pampam kepada rombongan tur.

Gang Malaka di RawajatiGang Malaka di Rawajati (Hans Wilhem/detikcom)

ADVERTISEMENT

Sebagai tokoh yang paling dicari oleh intelijen dari berbagai negara, Tan Malaka adalah ahli menyamar. Di "pondok" kawasan Cililitan (kini Rawajati) inilah, ia hidup membaur dengan warga sejak 15 Juli 1942 hingga pertengahan 1943.

"Dia menyembunyikan diri dengan nama Iljas Hussein," kata Pampam.

Ilyas Hussein hanyalah satu dari belasan nama samaran yang ia gunakan untuk bertahan hidup dan terus bergerak. Berdasarkan sejumlah buku yang membahas sosok Tan Malaka Β± memiliki 23 nama samaran.

Pampam menyebutkan sederet nama alias sang pahlawan yang terdengar seperti karakter dari berbagai belahan dunia: Elias Fuentes, Hasan Gozali, Ossorio, Legas Hussein, Abdul Rojak, Eliseo Rivera, hingga Howard Law dan Cheng Kun Tat. Di bawah identitas palsu inilah, Iljas Hussein sang "Bapak Bangsa" bekerja menyambung hidup, sekaligus merajut gagasan kemerdekaan.

Di tempat persembunyian ini pula, sebuah karya legendaris lahir. Kutipan dari Buku Madilog mencatat bahwa buku ini ditulis selama kurang lebih 8 bulan, mulai 15 Juli 1942 hingga 30 Maret 1943. Tan Malaka menghabiskan waktu 720 jam, atau sekitar 3 jam sehari, untuk merampungkan mahakaryanya di tengah keterbatasan.

Proses penulisan ini bukannya tanpa halangan. Tan Malaka sempat kehabisan uang, yang memaksanya menunda penulisan buku lain berjudul Gabungan Aslia. Nyawanya pun selalu berada di ujung tanduk. Polisi Jepang (Junsa) pada waktu itu sempat dua kali datang memeriksa dan menggeledah pondok tempatnya tinggal.

Gang Malaka di RawajatiGang Malaka di Rawajati (Hans Wilhem/detikcom)

Beruntung, naskah Madilog selamat dari penyitaan. "Lantaran huruf Madilog dan Gabungan Aslia terlampau kecil dan ditaruh di tempat yang tidak menarik perhatian sama sekali," tulis catatan sejarah tersebut.

Lantas, apa sebenarnya Madilog yang ditulis dengan penuh pertaruhan nyawa itu? Pampam menjelaskan bahwa Madilog adalah singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika. Buku ini bukanlah sekadar catatan filosofis, melainkan sebuah "senjata mental" yang disiapkan untuk bangsa Indonesia.

"Beliau merasa prihatin bahwa masyarakat kita waktu itu banyak yang masih percaya klenik-klenik, jimat, dan nasib yang pasrah, atau logika mistik," kata Pampam.

Melalui Madilog, Tan Malaka ingin 'mencuci otak' bangsa Indonesia agar beralih ke cara berpikir ilmiah.

"Dia mengajarkan kalau kita ingin merdeka, harus melihat fakta (Materialisme), melihat sesuatu yang berubah (Dialektika), dan menggunakan akal sehat (Logika) supaya Indonesia tidak mudah dibodohi oleh penjajah dan takhayul," kata Pampam.

Kini, jejak pelarian dan pergolakan pemikiran itu abadi di tengah pemukiman warga. Untuk mengenang sang tokoh, rakyat setempat mengabadikan kawasan tersebut dengan nama Gang Malaka I dan Gang Malaka II. Sebuah penanda kecil bahwa di gang sempit inilah, nalar kemerdekaan bangsa Indonesia pernah ditempa dengan begitu hebatnya.




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads