Musim bunga sakura di Tokyo tahun ini tak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga kekhawatiran. Sejumlah pohon sakura jenis Somei Yoshino yang menjadi ikon kota dilaporkan mulai rapuh karena usia.
Sebagian besar pohon tersebut ditanam pada era pembangunan pesat Jepang sekitar 1960-an. Kini, banyak yang sudah menua, bahkan ada yang tumbang atau harus dipasangi penyangga.
Dilansir Associated Press, Senin (6/4/2026) di hari Kamis lalu, ada dua pohon sakura dilaporkan tumbang, masing-masing di Taman Kinuta dan jalur hijau Chidorigafuchi. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, satu pohon merusak pagar, sementara lainnya nyaris jatuh ke parit di sekitar Istana Kekaisaran. Pohon di Taman Kinuta diketahui memiliki tinggi sekitar 18 meter dan diameter 2,5 meter.
Pohon itu diperkirakan berusia lebih dari 60 tahun. Sebelumnya, pada Maret, pohon sakura tua di taman yang sama juga tumbang dan sempat melukai seorang pejalan kaki.
Pemerintah Tokyo mencatat, sepanjang tahun lalu ada 85 pohon tumbang di taman-taman kota, dengan tiga orang terluka. Banyak di antaranya merupakan pohon sakura. Kondisi itu menjadi perhatian karena bertepatan dengan musim hanami, tradisi menikmati bunga sakura yang biasanya membuat warga dan wisatawan berkumpul di bawah pepohonan.
Anggota parlemen Tokyo, Yutaka Kazama, sempat menyoroti kondisi tersebut. Ia menilai sejumlah pohon di Taman Kinuta berpotensi membahayakan. "Pohon sakura dengan akar yang terbuka atau membusuk terlihat berbahaya," ujarnya, seraya meminta langkah pengamanan tanpa harus langsung menebang pohon.
Ahli pohon Hiroyuki Wada menjelaskan penuaan dan pembusukan akibat jamur menjadi penyebab utama kerusakan. Ia menyebut tanda-tanda pohon berisiko antara lain batang miring, berlubang, serta adanya jamur di bagian bawah.
Pembatasan kegiatan hanami di Taman Kinuta, Tokyo. (AP Photo/Mayuko Ono) |
"Banyak pohon ditanam setelah perang dan kini berusia 70-80 tahun, sehingga semakin lemah," kata Hiroyuki.
Ia juga menyoroti pengaruh perubahan iklim terhadap kondisi pohon. "Saya harap orang-orang memikirkan perubahan iklim melalui apa yang terjadi pada pohon sakura, yang sangat simbolis," lanjutnya.
Pasca insiden, otoritas Tokyo melakukan pemeriksaan di sejumlah taman menjelang musim sakura. Di Taman Kinuta, lebih dari 800 pohon telah diperiksa.
Beberapa pohon ditebang dan rambu peringatan dipasang, meski pohon yang tumbang pada Kamis tidak memiliki tanda tersebut.
"Saat ini langkah kami masih bersifat sementara, belum sampai pada penanaman kembali. Kami meminta pengunjung berhati-hati karena kami tidak bisa memastikan area ini sepenuhnya aman," ucap pejabat taman, Masakazu Noguchi.
Langkah penataan juga dilakukan di Taman Inokashira. Dalam beberapa tahun terakhir, puluhan pohon tua dan cabang dipangkas sebagai bagian dari program regenerasi tapi sebagian warga mengeluhkan berkurangnya pemandangan sakura di sekitar kolam.
Baca juga: Duh, Tradisi Hanami di Jepang Makin Mahal |
Meski demikian, minat masyarakat untuk menikmati hanami tetap tinggi. Salah satunya, Lisa Suzuki, yang tetap menikmati mometum itu tapi dengan kewaspadaan yang tinggi.
"Saya agak khawatir, tapi tidak apa-apa selama menjauh dari batang pohon," katanya.
Pengunjung lain, Akira Kamiyashiki, tetap datang bersama putrinya. "Melihat rambu larangan masuk, sekarang saya merasa aman," ungkap Akira.
(upd/ddn)













































Komentar Terbanyak
Adzan Menggema di London, Ini Sudut Paling Menggetarkan Hati Muslim di Whitechapel
Bule Australia Terlunta-lunta di Bali, Hidup di Bangunan Kosong-Kakinya Luka
3 Hari Festival Songkran, 95 Orang Meninggal