Iran dan Serangan Brutal Amerika ke Situs Warisan Dunia UNESCO

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Iran dan Serangan Brutal Amerika ke Situs Warisan Dunia UNESCO

Hari Suroto - detikTravel
Senin, 06 Apr 2026 20:15 WIB
Debris at the historical monument Golestan Palace after it was damaged in an Israeli and U.S. strike
Istana Golestan rusak akibat serangan AS (Majid Asgaripour/WANA via REUTERS)
Teheran -

Hingga Juli 2025, Iran memiliki 29 Situs Warisan Dunia UNESCO. Secara keseluruhan, 27 diantaranya adalah situs arkeologi dan 2 cagar alam. Serangan brutal AS mengancam situs tersebut.

Situs arkeologi Iran pertama yang terdaftar di UNESCO adalah Persepolis dan Chogha Zanbil, yang terdaftar pada tahun 1979.

Situs terbaru yang terdaftar adalah Situs Prasejarah Lembah Khorramabad yang terdaftar pada Juli 2025, Hegmataneh yang terdaftar pada Juli 2024, dan Karavanserai Persia yang terdaftar pada September 2023, serta Lanskap Budaya Hawraman/Uramanat yang terdaftar pada Juni 2021.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan AS dan Israel terhadap Iran telah merusak setidaknya empat situs budaya dan sejarah, termasuk istana dan sebuah masjid kuno.

Serangan brutal itu menimbulkan kekhawatiran tentang dampak perang yang meluas terhadap situs-situs arkeologi yang dilindungi dan penting bagi identitas Iran serta sejarah dunia.

ADVERTISEMENT

UNESCO telah mengkonfirmasi kerusakan pada Istana Golestan yang mewah dari era Qajar di Teheran, serta Istana Chehel Sotoun abad ke-17 dan Masjid Jame, masjid tertua di negara itu, keduanya di Isfahan.

Kerusakan juga terverifikasi pada bangunan-bangunan di dekat Lembah Khorramabad, yang mencakup lima gua prasejarah dan satu tempat berlindung di bebatuan yang memberikan bukti hunian dan aktivitas manusia sejak 63.000 SM.

Kecepatan dan luasnya kerusakan telah sangat mengkhawatirkan Iran, sehingga mereka mengirimkan permintaan kepada Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) atau UNESCO untuk menambahkan lebih banyak situs arkeologi ke daftar perlindungan yang diperluas.

UNESCO menyatakan bahwa mereka telah memberikan koordinat geografis situs warisan budaya kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik tersebut sebelumnya, "agar mereka dapat mengambil semua tindakan pencegahan yang memungkinkan untuk menghindari kerusakan"

--------

Artikel ini ditulis oleh Hari Suroto. Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara.




(wsw/wsw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads