Di tengah hiruk-pikuk ibu kota Jakarta, tersembunyi kisah sejarah yang suram. Tersembunyi di sudut tenang Jalan Dupa, ada kisah pembunuhan peragawati Ditje.
Siapa sangka, jalanan di kawasan Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan yang kini dihiasi deretan taksi Blue Bird tertata rapi itu pernah menjadi lokasi pembunuhan kelam di masa lalu.
Bertahun-tahun lalu, lokasi ini menjadi saksi bisu salah satu kasus pembunuhan paling misterius pada masa Orde Baru, yaitu pembunuhan Ditje Budiarsih, peragawati terkenal di masa itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Narasi ini kembali diceritakan oleh Endang Teguh Pramono, yang akrab dipanggil Pampam, seorang pemandu dari walking tour Step Into Jakarta, pada Rabu (1/4).
Di hadapan rombongan tur yang sebagian besar belum lahir saat peristiwa itu terjadi, Pampam mengungkap kisah kelam di balik kematian model paling terkenal di era tahun 1980-an: Ditje Budiarsih.
Lokasi pembunuhan peragawati Ditje Budiarsih Foto: Hans Wilhem/detikTravel |
"Di area sini, yang masa lalu bernama Jalan Dupa karena dulunya ada pabrik dupa, terjadi sebuah peristiwa pembunuhan seorang model, Ratu Kebaya keturunan bangsawan yang tewas ditembak dan menyisakan rahasia besar. Dice (Ditje) namanya," tutur Pampam sambil menunjuk sebuah titik di dekat tiang abu-abu, merekonstruksi lokasi ditemukannya jasad sang model.
Ditje Budiarsih lahir pada 20 Desember 1950, adalah sosok yang luar biasa. Ia bersinar terang. Wajahnya sering menghiasi sampul majalah, dan ia meraih gelar Ratu Kebaya pada tahun 1976, serta Ratu Kacamata pada tahun 1977.
Namun, perjalanan hidupnya yang dianggap terang benderang itu harus berakhir dengan tragis pada malam hari tanggal 8 September 1986.
Mengutip catatan detikX (27/1/2022), pada Senin, 8 September 1986 sekitar pukul 22.00, warga di sekitar Jalan Dupa, Kalibata kini berdekatan dengan kompleks DPR terkejut melihat sebuah mobil Honda Accord putih dengan nomor plat B-1911-ZW terparkir di tepi jalan.
Di dalam ruangan, Ditje tetap diam dan tak bergerak. Menurut catatan kepolisian, korban menderita lima luka tembak yang terletak di belakang telinga kanannya, di dada, bahu, ketiak kanan, dan punggung kanan. Luka tembak yang fatal dan tepat sasaran tersebut memicu spekulasi yang hebat di kalangan masyarakat.
"Pembunuhnya pasti profesional. Karena detail-detail areanya itu hanya orang tertentu yang tahu bagaimana cara membunuh orang," jelas Pampam.
Alih-alih menangkap seorang pembunuh bayaran berpengalaman, aparat penegak hukum justru mengidentifikasi seorang pria paruh baya bernama Muhammad Siradjudin, yang biasa dipanggil Pak De, sebagai tersangka utama dalam kasus tersebut.
Pak De berperan sebagai dukun atau pembimbing spiritual, sosok yang menjadi tempat curhat bagi Ditje saat ia membutuhkan. Pihak berwenang menyatakan bahwa motifnya didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan finansial. Namun, teori ini sarat dengan kontradiksi.
"Nggak mungkin seorang Pak De memiliki senjata-senjata khusus yang dimiliki oleh militer atau polisi," papar Pampam skeptis.
Meskipun Pak De mengakui perbuatannya dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), ia dengan tegas membantahnya selama persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Pak De menyatakan bahwa ia mengaku bersalah karena siksaan yang tak tertahankan yang dialaminya selama pemeriksaan. Dalam putusan yang tegas, hakim menjatuhkan hukuman seumur hidup. Pak De akhirnya merasakan kebebasan setelah mendapat grasi pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie.
Jadi, siapa sebenarnya yang mengorkestrasi rencana tersebut? Apa yang membuat kasus ini begitu misterius? Di sinilah spekulasi menarik era Orde Baru menjadi sorotan utama.
Teori Konspirasi Kematian Ditje
Pampam berpendapat bahwa gaya hidup mewah Ditje kemungkinan besar menarik perhatian kalangan elit pejabat berpengaruh dan pengusaha besar pada masa itu.
Selama periode tersebut, beredar banyak spekulasi yang mengaitkan Ditje dengan beberapa tokoh berpengaruh, termasuk pensiunan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Suwoto dan pengusaha terkemuka dalam lingkaran Cendana seperti Sudwikatmono dan Indra Rukmana.
"Ada versi yang mengatakan Ditje sedang hamil. Pelakunya kemungkinan salah satu dari orang-orang kuat itu, atau mungkin istri-istri mereka yang menyewa pembunuh bayaran karena cemburu (iri)," ungkap Pampam.
Dalam penelusuran sejarah detikTravel, teori-teori konspirasi ini memang terus melegenda. Publik saat itu merasa tak yakin Pak De adalah pembunuh tunggal tanpa ada aktor intelektual yang memesan 'eksekusi' mematikan tersebut.
Pengaruh kekuasaan yang teramat besar diduga menjadi tameng yang membuat kasus ini menguap begitu saja, ditutup dengan tumbal seorang dukun tua.
"Yang paling kuat ya omongan (desas-desus) orang itu. Gak akan dimasuki pengadilan kalau nggak ada bukti yang kuat. Jadinya, ya ditutup, dan tinggal menjadi artikel sejarah soal kematian Ditje," pungkas Pampam.
Peserta Walking Tour Jakarta Foto: Hans Wilhem/detikTravel |
Sosok misterius yang berada di balik pembunuhan model Ditje Budiarsih terus menjadi topik utama dalam deretan misteri tak terpecahkan yang melekat dalam sejarah Indonesia.
Melalui inisiatif wisata sejarah seperti tur jalan kaki ini, ingatan kolektif masyarakat akan sisi lain Jakarta tetap terjaga, sekaligus menjadi pengingat bahwa keadilan masih menanti di bawah aspal ibu kota.
Simak Video "Video: Polisi Periksa Pedagang Kalibata Korban Pembakaran Kios"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)














































Komentar Terbanyak
Adzan Menggema di London, Ini Sudut Paling Menggetarkan Hati Muslim di Whitechapel
3 Hari Festival Songkran, 95 Orang Meninggal
Investor Gugat Pemprov Bali soal Lift Kaca Kelingking, Koster Merespons