Kasus dugaan penipuan besar di Gunung Everest mengejutkan dunia pendakian. Pemandu diduga sengaja membuat pendaki sakit agar dievakuasi dengan helikopter, kemudian mengklaim biaya miliaran rupiah ke asuransi.
Dugaan itu diungkap oleh kepolisian Nepal. Mereka menyebut praktik itu berlangsung dalam beberapa tahun terakhir dengan nilai klaim mencapai hampir USD 20 juta atau kira-kira Rp 341,92 miliar.
Mengutip The Independent, Selasa (7/4/2026), sebanyak 32 orang telah didakwa dan 11 di antaranya ditangkap, termasuk operator perusahaan penyelamatan. Penyelidikan menemukan jumlah korban pendaki asing yang bikin geleng-geleng, mencapai sekitar 4.782 pendaki internasional, dengan kurun waktu 2022 hingga 2025.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih dari 300 kasus evakuasi di jalur Gunung Everest diduga sengaja direkayasa untuk mencairkan klaim asuransi perjalanan. Modusnya pun beragam.
Beberapa penyelidik menemukan pemandu mencampur makanan pendaki dengan bahan seperti baking powder sehingga mereka mengalami gangguan pencernaan yang tampak seperti gejala penyakit ketinggian.
Selain itu, ada pula memberi obat dengan dosis cairan berlebih untuk memicu keluhan seperti mual, pusing, dan nyeri tubuh. Saat gejala muncul, pendaki kemudian disarankan menghentikan perjalanan dan menyetujui evakuasi helikopter.
Selanjutnya, operator menggunakan dokumen medis dan catatan penerbangan yang diduga dipalsukan untuk mengajukan klaim ke perusahaan asuransi. Polisi juga menemukan adanya penggelembungan biaya.
Satu penerbangan helikopter yang mengangkut beberapa penumpang ditagihkan seolah-olah masing-masing menggunakan penerbangan terpisah. Bahkan, laporan perawatan di rumah sakit disebut dibuat fiktif dalam sejumlah kasus.
Biro Investigasi Pusat Kepolisian Nepal menilai praktik itu merusak citra negara di mata dunia. Mereka menyebut kasus tersebut telah mencoreng kebanggaan dan martabat nasional Nepal di kancah internasional.
Kasus itu mencuat menjelang musim pendakian musim semi yang dimulai pada 30 Maret, sehingga pengawasan terhadap operator tur dan pemandu kini diperketat. Sebelumnya, praktik serupa pernah terungkap lewat investigasi Kathmandu Post pada 2018.
Meskipun Pemerintah Nepal sempat menjanjikan reformasi, ternyata penipuan disebut masih berlanjut. Kepala CIB Manoj Kumar KC menilai lemahnya penegakan hukum menjadi penyebab utama.
"Jika tidak ada tindakan terhadap kejahatan, maka kejahatan akan berkembang. Penipuan asuransi pun ikut berkembang sebagai akibatnya," ujarnya.
Di sisi lain, laporan terdahulu juga menyebut sebagian kecil wisatawan asing ikut terlibat, dengan berpura-pura sakit demi mendapatkan paket pendakian lebih murah.
(upd/fem)












































Komentar Terbanyak
Adzan Menggema di London, Ini Sudut Paling Menggetarkan Hati Muslim di Whitechapel
3 Hari Festival Songkran, 95 Orang Meninggal
Investor Gugat Pemprov Bali soal Lift Kaca Kelingking, Koster Merespons