'Indonesia Berpeluang Tarik Turis Internasional di Tengah Konfik Timur Tengah'

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

'Indonesia Berpeluang Tarik Turis Internasional di Tengah Konfik Timur Tengah'

Nyimas Amrina Rosada - detikTravel
Rabu, 08 Apr 2026 09:15 WIB
Warga melintas di kawasan mangrove Desa Maileppet, Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Selasa (8/7/2025). Kawasan hutan mangrove Siberut yang berada di dalam Taman Nasional Siberut itu memiliki sebanyak 23 spesies mangrove yang dapat
Warga melintas di kawasan mangrove Desa Maileppet, Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Iggoy el Fitra/Antara)
Jakarta -

Konflik global di Timur Tengah dinilai bisa jadi peluang bagi Indonesia untuk menarik wisatawan global dan menaikkan sektor pariwisata. Namun, ada syaratnya.

Pengamat pariwisata Profesor Azril Azhari menyebut pemerintah bisa memanfaatkan momentum itu untuk menarik wisatawan internasional yang mencari destinasi aman.

"Saya melihat bahwa eskalasi di Timur Tengah ini malah bisa menjadi peluang untuk Indonesia menaikkan sektor pariwisata, jadi saya rasa pemerintah dan sektor terkait bisa memanfaatkan kondisi ini. Lebih bagus lagi untuk membuat strategi yang difokuskan pada menarik target wisatawan di sektor pariwisata," kata Azril saat dihubungi detikTravel, Selasa (7/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan bahwa eskalasi konflik berdampak langsung pada industri penerbangan global, termasuk pembatalan ratusan penerbangan dan penurunan jumlah wisatawan. Setidaknya 770 penerbangan yang dibatalkan dan potensi kunjungan wisatawan bisa berkurang hingga puluhan ribu orang.

Namun di balik kondisi tersebut, Indonesia justru memiliki peluang besar. Berdasarkan sejumlah penilaian internasional, Indonesia termasuk negara yang relatif aman dan dapat menjadi alternatif destinasi wisata di tengah ketidakstabilan global.

ADVERTISEMENT

"Ancaman itu harus dijadikan peluang. Indonesia disebut sebagai salah satu negara teraman, ini yang seharusnya dijual untuk menaikkan sektor pariwisata," kata dia.

Menurutnya, strategi promosi pariwisata Indonesia perlu diarahkan pada keunggulan tersebut, bukan sekadar mengandalkan pendekatan konvensional. Dia menilai pemerintah masih cenderung menggunakan strategi yang normatif dan belum adaptif terhadap dinamika global.

Lebih lanjut, ia mendorong pengembangan pariwisata berbasis minat khusus atau special interest tourism, terutama yang berkaitan dengan kesehatan yang menjadi tren wisata saat ini.

Konsep seperti health tourism, wellness tourism, hingga wisata lansia (silver tourism) dinilai memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan di tengah situasi global yang tidak menentu.

"Orang sekarang mencari tempat yang aman sekaligus bisa menjaga kesehatan. Ini peluang besar bagi Indonesia. Makanya pariwisata berbasis minat khusus menjadi strategi utama yang perlu diterapkan, supaya wisatawan global mau datang ke Indonesia. Health tourism ini akan memiliki makna yang besar," kata dia.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya diversifikasi strategi promosi dan mitigasi risiko dalam sektor pariwisata. Dengan memanfaatkan momentum konflik global, Indonesia dinilai bisa mengalihkan arus wisatawan yang sebelumnya menuju kawasan terdampak konflik.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peluang tersebut tidak akan optimal tanpa kebijakan yang tepat dan terarah. Pemerintah diminta lebih strategis dalam merumuskan langkah, termasuk memanfaatkan citra keamanan dan mengembangkan produk wisata yang sesuai dengan tren global.

"Jangan lihat konflik sebagai ancaman. Justru ini menjadi peluang besar. Indonesia itu aman, tinggal bagaimana kita berani menjualnya dengan strategi yang tepat," kata dia.




(fem/fem)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads