Kenaikan harga tiket pesawat akibat perang di Iran dan gejolak nilai tukar dolar-won membuat wisatawan Korea Selatan mengubah rencana liburan mereka. Banyak yang memilih staycation atau perjalanan domestik.
Warga Busan bernama Kim Na-young awalnya berencana ke Bangkok bulan April ini namun ia membatalkan perjalanan karena harga tiket naik hingga 2,5 kali lipat.
"Penerbangan murah langsung ke Bangkok kini sangat terbatas," kata Kim dilansir dari Korea JoongAng Daily, Jumat (10/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun, Kim Yeon-su juga menunda perjalanan ke Eropa setelah tiket pulang pergi naik lebih dari 1 juta won atau sekiranya Rp 11,5 juta.
"Dengan nilai tukar yang tinggi, kenaikan tiket membuat saya batal pergi. Sekarang saya mencari hotel di Korea untuk menikmati 'hocance'," keluhnya..
'Hocance' adalah istilah gabungan hotel dan vacance, merujuk pada staycation di hotel. Nilai tukar won terhadap dolar AS ditutup pada 1.504,2 pada Selasa lalu, naik dari sekitar 1.300 pada pertengahan tahun lalu.
Sementara itu, harga minyak dunia melonjak, memicu kenaikan biaya tambahan bahan bakar tiket internasional hingga tiga kali lipat pada April. Akibatnya, permintaan perjalanan internasional jarak jauh menurun, sementara perjalanan domestik dan perjalanan jarak pendek ke Jepang meningkat.
Shinsegae Live Shopping bahkan tidak menjadwalkan paket perjalanan jarak jauh ke Eropa dan Australia bulan lalu, padahal biasanya tersedia sekitar 10 paket per bulan. Lotte Home Shopping mencatat jumlah konsultasi perjalanan luar negeri turun 10% sejak ketegangan di Timur Tengah pada 28 Februari.
Platform Yeogi Eottae mencatat pendapatan dari perjalanan domestik kuartal pertama tahun ini meningkat dua digit dibanding tahun lalu.
"Permintaan perjalanan jarak jauh menurun signifikan, sementara program domestik naik 18 persen dan perjalanan luar negeri jarak pendek naik 33 persen," kata perwakilan Shinsegae Live Shopping.
Data Organisasi Pariwisata Korea menunjukkan tren ini sudah berlangsung sejak tahun lalu. Tingkat pengalaman perjalanan domestik pada kuartal keempat tahun lalu mencapai 51,9%, naik dari 47,9% setahun sebelumnya. Sebaliknya, pengalaman perjalanan luar negeri stagnan di 4,8%.
Para ahli memperingatkan jika ketidakstabilan geopolitik dan nilai tukar berlanjut, industri perjalanan bisa menghadapi tekanan berat.
"Kenaikan biaya akibat nilai tukar dan minyak bisa menekan keinginan konsumen menjelang musim liburan musim panas. Industri bisa menghadapi krisis lebih besar dari pandemi Covid-19," ungkap Dekan Sekolah Pascasarjana Pariwisata Internasional Universitas Hanyang, Lee Hoon.











































Komentar Terbanyak
Femas, Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Terdeteksi di Masjid
Viral di Medsos, Peserta Tur Asal Madiun Diduga Kabur Saat Liburan ke Korea Selatan
Naik Tiga Tingkat! Indonesia Kini di Posisi ke-2 Destinasi Ramah Muslim