Pameran seni bertema floral dan botanical karya seniman muda Puti Mustika resmi dibuka di Artotel Casa Kuningan mulai 10 April 2026. Pameran berjudul Whispers in Blooms: A Private Floral Affair ini menghadirkan karya-karya dengan medium watercolour yang dikenal lembut, intuitif, dan penuh makna emosional.
Senior Sales Manager Artotel Casa Kuningan, Bayu Siswoyo Putra, menyampaikan bahwa pameran ini merupakan bentuk apresiasi terhadap para penggiat seni di Indonesia.
"Pameran seni ini sebagai suatu bentuk apresiasi Artotel Group kepada para penggiat seni. Kolaborasi ini harus terus berjalan, karena tidak hanya untuk menampilkan karya yang estetik, melainkan juga penurunan emosi dan makna," ujarnya, Jumat (10/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menambahkan bahwa Artotel Casa Kuningan dengan desain dan arsitektur yang artistik menjadi ruang yang ideal bagi para pencipta dan pecinta seni untuk bertemu dan berkolaborasi.
Senada dengan hal tersebut, Art Director Artotel Group, Windi Salomo, menegaskan bahwa Artotel memiliki misi sebagai rumah bagi seniman tanah air.
Pameran Seni Bertema Floral di Artotel Casa Kuningan Foto: Nyimas Amrina Rosada |
"Memang menjadi misi dari Artotel untuk menjadi rumah dan ruang pameran bagi seniman di tanah air. Sehingga sore ini dengan kehadiran Puti Mustika dalam ajang pameran tunggal pertamanya, menjadi wujud dari pedulinya kita terhadap seniman tanah air," katanya.
Ia juga mengapresiasi semakin banyaknya seniman muda yang mulai berani menggelar pameran sebagai langkah penting dalam jenjang karier mereka.
Puti Mustika merupakan seorang seniman yang memulai perjalanannya dari ketertarikan sederhana terhadap dunia lukis sejak tahun 2017.
Ia belajar secara otodidak hingga akhirnya menekuni teknik medium watercolour sebagai ciri khas dalam berkarya. Melalui teknik ini, Puti mengeksplorasi berbagai bentuk ekspresi, khususnya dalam tema floral dan botanical yang menjadi identitas visualnya.
Founder dan Director EIARTI, Adri Tirtoarrazaq, menyebut Puti sebagai sosok seniman yang menarik dan mau banyak belajar.
"Puti ini menarik karena semua karyanya hasil dari dia belajar otodidak. Jadi cara bikinnya dia belajar sendiri, tekniknya belajar sendiri, referensinya cari sendiri. Sehingga yang bisa kita tangkap adalah kalau ada kemauan, itu bisa," ujarnya.
Berawal dari rasa penasaran terhadap kuas dan teknik melukis. Ia kemudian bergabung dalam workshop EIARTI yang memperkaya proses eksplorasinya.
"Awal mula penasaran sama kuas itu tahun 2017, dari sana saya join EIARTI bersama Adri dan mulai ikut workshop," tuturnya.
Dari pengalaman tersebut, ia mulai mempelajari berbagai teknik dan pengetahuan baru yang membawanya pada proses eksplorasi yang lebih dalam. Sejak saat itu, ia mulai mencoba membuat berbagai karya secara mandiri.
Dari proses mencoba tersebut, ia menyadari bahwa kemampuannya terus berkembang dan membuka keyakinan bahwa ia mampu menghasilkan karya yang lebih serius.
Bagi Puti Mustika, melukis bukan sekadar aktivitas berkarya, melainkan menjadi ruang istirahat di tengah rutinitas yang melelahkan.
Di sela kesibukan sehari-hari, ia menjadikan proses melukis sebagai cara untuk menenangkan diri dan melepas penat. Aktivitas ini memberinya ruang untuk berhenti sejenak, menikmati proses, sekaligus mengolah emosi yang dirasakan.
Tak heran, setiap karya yang dihasilkan pun kerap lahir dari momen-momen personal yang dekat dengan kesehariannya.
"Dari sana saya mulai coba untuk gambar, walau hasilnya sangat amatir ya saat itu. Setiap pulang kantor, capek, jam setengah satu, tapi pingin gambar, ya udah ayok. Karena itu istirahatnya," ujar Puti dalam sharing session di Opening Exhibition-nya.
Pameran Seni Bertema Floral oleh Puti Mustika Foto: Nyimas Amrina Rosada |
Karyanya dikenal identik dengan teknik medium watercolour. Ia memilih teknik ini karena sifatnya yang tidak bisa diprediksi. Dalam setiap sapuan warna, hasil yang muncul sering kali di luar ekspektasi, menciptakan efek yang unik dan spontan. Justru dari ketidakpastian tersebut, ia menemukan daya tarik tersendiri, di mana setiap proses melukis menghadirkan kejutan yang membuat karyanya terasa lebih hidup.
Bagi Puti, karakter watercolour yang mengalir dan sulit dikontrol itu menjadi ruang eksplorasi yang memungkinkan lahirnya keindahan dari hal-hal yang tidak terduga.
"Pertama kali tertarik pakai watercolour karena dengar dari salah satu video Youtube yang bahas tentang teknik watercolour wet-on-wet, katanya kalau pakai watercolour wet-on-wet itu akan selalu punya magic, kita nggak pernah tahu itu akan sebasah apa, ketika kita taruh satu pigmented warna, dibawa kemana itu surprise untuk kita, jadi itu magicnya," jelas Puti.
"Kita nggak bisa kasih ekspektasi yang set, karena pasti akan turun warnanya, atau bahkan nggak spreading, tapi ya itu, happy accident dan perfectly-imperfect itu, bisa kita dapat di situ," Puti menambahkan.
Dalam pameran ini, Puti banyak mengeksplorasi bunga sebagai objek utama. Selain karena ketertarikan personal, bunga menjadi medium untuk menyuarakan emosi.
"Saya suka bunga, tapi untuk koleksi saja nggak cukup. Dengan menggambar, saya bisa menyuarakan emosi dan kesukaan saya terhadap bunga," ujarnya.
Inspirasi karya Puti kerap datang dari puisi dan kutipan yang ia hubungkan dengan filosofi bunga. Ia juga mengakui bahwa banyak karyanya lahir dari perasaan sedih atau galau.
Salah satu karya favoritnya menggambarkan wajah dengan air mata berbentuk bunga, sebagai simbol rasa sakit yang divisualisasikan secara indah.
"Saat itu lagi mix feeling, saya ingin menyampaikan kesedihan dengan bunga. Jadi seperti blooming, apapun yang hancur di dalam, divisualisasikan dengan indah melalui bunga itu sendiri," ungkapnya.
Pameran ini dibuka sejak 10 April 2026 dan akan berlangsung hingga 12 Juli 2026. Bagi pengunjung yang ingin melihat langsung karya-karya Puti Mustika, pameran ini dapat dikunjungi di Artotel Casa Kuningan yang berlokasi di Jl. Denpasar Raya, RT.8/RW.3, Kuningan, Kuningan Timur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.
Menampilkan lima karya terbaiknya, Puti berharap ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang, khususnya bagi mereka yang ingin mulai berkarya. Ia ingin menunjukkan bahwa proses belajar dan eksplorasi bisa dimulai dari mana saja, selama memiliki kemauan dan konsistensi.
Simak Video "Video Myze Hotel Waingapu: Nyeni dan Dipenuhi Ornamen Budaya Khas Sumba"
[Gambas:Video 20detik]
(ddn/ddn)














































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong