Gubernur Jakarta Pramono Anung, berencana menerapkan sejumlah perubahan untuk memperkaya perayaan Lebaran Betawi, dengan tujuan menciptakan pengalaman yang lebih ramah bagi para pengunjung.
Pemerintah Provinsi Jakarta mengambil langkah tegas untuk menjaga keaslian budaya lokal dengan melarang penggunaan wayang ondel-ondel dalam pertunjukan jalanan.
Dengan mengenakan busana tradisional Betawi lengkap, yang terdiri dari jaket hitam dan kain bermotif rumit, Pramono Anung hadir dalam perayaan budaya yang meriah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Acara ini juga memberikan kesempatan kepada Gubernur untuk mengevaluasi cara-cara meningkatkan kualitas perayaan budaya ini, yang menjadi kebanggaan bagi warga Jakarta.
Kabar penting bagi pelestarian pariwisata budaya Jakarta, Pramono menegaskan bahwa ondel-ondel dilarang keras untuk dijadikan alat mengamen di jalanan.
Keputusan ini diambil karena ondel-ondel merupakan ikon dan trademark Betawi yang harus dijaga kehormatannya. Sebagai gantinya, Pramono menjanjikan panggung yang lebih layak bagi kesenian ini.
"Bahkan di tahun depan, ketika 500 tahun Jakarta, ondel-ondel akan kami buat lebih meriah. Mari tunggu tanggal mainnya," janjinya kepada wartawan di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (11/4/2026).
Mengenai sanksi, Pemerintah Provinsi Jakarta saat ini masih memprioritaskan langkah-langkah edukatif, meskipun Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) telah diperintahkan untuk mulai menegakkan larangan tersebut di lapangan.
Hal ini sejalan dengan penandatanganan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 (UU DKJ), yang akan segera disusul dengan pelantikan Majelis Kaum Betawi di Balai Kota.
Dalam hal kenyamanan pariwisata perkotaan, Pramono juga menyoroti peringkat Jakarta saat ini sebagai kota teraman kedua di kawasan ASEAN berdasarkan survei global.
Meskipun memiliki puluhan juta penduduk dan dinamika perkotaan yang tinggi, ia meyakinkan bahwa pihak berwenang bertindak cepat untuk menangani gangguan ketertiban umum. Misalnya, preman yang telah memeras pedagang di Tanah Abang segera ditangkap dan ditahan oleh Satpol PP pada Kamis (9/4).
"Ya kita syukuri bahwa dalam persoalan itu masih ada tukang bakso, pedagang bakso yang dipalak. Dan saya pada saat itu juga langsung menelepon Kepala Dinas Satpol PP untuk mengambil tindakan, dan pelaku yang memalak yang memecahkan apa ini mangkok-mangkoknya, langsung ditangkap. Itu menunjukkan dan ditahan, itu menunjukkan bahwa kita bereaksi cepat terhadap hal itu," ujarnya.
Selain itu, dalam menjaga ekosistem pengelolaan air kota, Politikus PDI tersebut sangat mengapresiasi upaya Wali Kota Jakarta Pusat dan petugas PPSU yang melakukan operasi besar-besaran untuk menangkap ikan sapu-sapu di saluran air sekitar Grand Hyatt dan Plaza Indonesia.
"Maka saya termasuk yang kemudian menyetujui kalau kemudian diadakan secara masif untuk menghilangkan atau mengurangi ikan sapu-sapu. Karena kalau dibiarkan, ikan-ikan yang lain hilang, wader dan sebagainya pasti akan hilang," jelasnya.
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong