Benteng Citadelle Henry atau Citadelle Laferriere di Haiti utara ditutup sementara. Keputusan itu dilakukan setelah 30 orang meninggal dunia akibat berdesak-desakan di sana.
Penutupan dilakukan hingga waktu yang belum ditentukan sembari menunggu hasil penyelidikan dan evaluasi keamanan. Peristiwa pilu itu terjadi pada Sabtu (11/4/2026).
Benteng itu merupakan bangunan bersejarah abad ke-19 yang berdiri tak lama setelah Haiti merdeka dari Prancis. Benteng yang jadi destinasi favorit ini merupakan situs warisan dunia UNESCO yang berada di puncak Gunung Bonnet a l'Eveque.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir The Guardian, Senin (13/4) Kepala Perlindungan Sipil Departemen Nord, Jean Henri Petit, mengatakan kepadatan pengunjung menjadi pemicu awal dari insiden itu
"Pengunjung berdesakan di satu pintu masuk dan terjadi perkelahian antara mereka yang mencoba keluar dan masuk lokasi tersebut," kata dia.
Menurut Petit, jumlah korban tewas masih bisa bertambah karena sejumlah orang dilaporkan hilang. Sementara itu, puluhan korban luka telah dibawa ke rumah sakit.
Sejumlah laporan awal menyebutkan kegiatan di lokasi tersebut menarik banyak anak muda setelah dipromosikan melalui TikTok. Laporan lain juga menyebut adanya penggunaan gas air mata oleh aparat untuk membubarkan kericuhan di sekitar benteng, yang diduga memicu kepanikan dan memperparah desak-desakan.
Menteri Kebudayaan Haiti, Emmanuel Menard, membenarkan jumlah korban jiwa dalam insiden ini. Hingga kini proses penanganan korban masih dilaksanakan oleh petugas terkait.
"Para korban luka saat ini sedang menerima perawatan medis yang diperlukan. Dan tim penyelamat sedang mencari orang-orang yang hilang," kata Emmanuel.
Ia menegaskan benteng yang telah berstatus situs warisan dunia sejak 1982 itu ditutup sementara untuk pengunjung hingga pemberitahuan lebih lanjut. Pemerintah Haiti juga menyampaikan belasungkawa atas tragedi tersebut.
Pemerintah Haiti mengimbau masyarakat tetap tenang selama proses penyelidikan berlangsung. "Semua otoritas yang berwenang telah dimobilisasi sepenuhnya dan ditempatkan dalam keadaan siaga maksimal untuk memberikan, tanpa penundaan, bantuan, perawatan, dan dukungan yang diperlukan," bunyi pernyataan Pemerintah Haiti.
(upd/fem)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong